Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2011

Kalah

Real Madrid 1- 3 Barcelona.  Lagi, Madrid harus menerima ketangguhan musuh bebuyutannya. Gol Alexis Sanchez, Xavi, dan Fabregas semakin membuat lemah lesu seharian penuh. Optimis buta itu tergusur murung berlebih. Saya sangat tidak bisa menerima Madrid kalah dari Barcelona. Sangat tidak bisa. Saya menyesal, sangat menyesal pada fakta bahwa saya tidak terbangunkan untuk menjalankan "ritual keagamaan" ini. Yang saya tahu hanyalah mereka yang bahagia atas kemenangan Barca, kekalahan Madrid, dan ikut-ikutan bahagia dalam waktu singkat. Ah, itu hak mereka. Yang penting saya tetap Madridista. Cibiran tentang penampilan Ronaldo, yang lagi-lagi seakan grogi dalam panasnya El Classico, begitu deras di obrolan kantin, kelas, dan tempat lain saya singgah. Ronaldo seakan belum "siap" untuk menghadapi pertandingan seberat El Classico. Ada hal lain dalam dirinya, yang begitu kaku dan nervous begitu menghadapi Barca. Saya masih heran, sungguh heran.  Madrid sudah ...

Humanity

Dalam situasi darurat, tentara yang tertembak saat perang namun sedikit kemungkinan untuk dapat pulih lebih baik ditembak mati rekannya ketimbang merasakan penderitaan yang berlanjut. Atas nama "meringankan" penderitaan, pembunuhan dilakukan. Awalnya, saya sungguh sulit menerima logika seperti ini. Apapun alasannya terlihat kejam dan mengerikan untuk membunuh rekan seperjuangan. Ya, adalah susah untuk menerima cerita seperti itu. Tapi itu ada. Humanity itu nilai utama bagi sebagian. Sekarang jangankan untuk membayangkannya, untuk sekedar mendengar cerita tersebut dari dosen untuk kedua kalinya mungkin saya enggan. Saya terlalu takut untuk mengalami hal tersebut. Saya takut dibunuh dengan sengaja rekan seperjuangan juga takut untuk dibunuh atas nama "Humanity ". Pembenaran yang sangat horor, sangat horor. Apapun penyebabnya, manusia pasti akan mati juga. Mati adalah hal pasti. Mati adalah jatah yang telah mantap. Namun, sulit untuk mati seperti cerita di at...