Bacaan dan Penerimaan Hati
Berangkat dari kepercayaan bahwa semua bacaan memiliki kepribadiannya sendiri, saya merasakan bagaimana kepribadian itu diterima oleh hati sang pembaca. Karena ada bacaan yang begitu diterima di otak tetapi mengganjal di hati. Begitu juga sebaliknya, mungkin. Bacaan teori-teori yang luar biasa penggunaan katanya, mungkin amat menawan otak manusia. Tetapi, tidak menutup kemungkinan keluarbiasaan itu tidak diterima dengan baik oleh hati: yang apabila diakui secara tulus ikhlas, memiliki kecenderungannya tersendiri. Atau dalam bahasa Islam, fitrahnya. Namun, seperti yang dikatakan Quraish Shihab, seiring kesibukan beraktivitas duniawi dapat mengaburkan adanya fitrah itu. Pada saat sendirian, merenung dan kondisi benar-benar tenanglah akan terasa bisikan jiwa yang menggugah hakikat kemanusiannya sebagai ciptaanNya. Begitu juga dengan bacaan. Saking tergila-gilanya, pubertasnya, dengan ilmu pengetahuan modern sehingga dengan ekstrem menutup diri dan hati dari a...