Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2014

Mereka Yang Memiliki Telinga

Indah sekali rasanya didengarkan dengan sungguh-sungguh. Siapa yang tidak senang didengarkan dengan sungguh-sungguh? Belakangan, saya merasakan bagaimana kemajuan media sosial telah mengubah interaksi manusia. Manusia era sekarang adalah manusia yang berfokus pada diri sendiri. Istilah lainnya, me-first-generation . Mereka dapat menuliskan apapun yang mereka rasa dan pikirkan. Semua orang memang membacanya, tapi sedikit sekali yang benar-benar membacanya. Hari ini, mereka menuliskan keluh kesah misalnya, lalu mendapatkan balasan terhadap keluh kesahnya, lalu hilang. Esok hari, kejadian itu berulang hingga menjadi sebuah ritual sendiri. Tidak ada kedalaman dalam interaksi seperti itu. Semuanya banal.  Tapi, kejadian itu memang terjadi di dunia maya. Dunia yang tidak riil. Saya tidak terlalu peduli dengan dunia seperti itu. Yang menjadi masalah adalah, ketika dalam interaksi tatap muka yang riil, mereka-mereka ini tetap bersikap me-first itu. Bersikap mau berbicara, tetapi ...

Tantangan itu Ada di Luar Masjid

Marhaban yaa Ramadhan...  Tulisan ini merupakan suatu refleksi terhadap tingkah laku, terhadap habitus , muslim Indonesia yang ketika memasuki bulan Ramadhan, sekonyong-konyong alim. Tiba-tiba, yang tadinya bolong-bolong shalat dan ibadah lainnya, menjadi rajin dan khusyuk. Ini tentu baik sekali apabila berlanjut di 11 bulan selanjutnya. Tetapi, sulit sekali rasanya untuk tetap berada pada jalur kekhusyukan dan kedekatan, seperti yang dirasakan saat Ramadhan.  Tulisan ini juga merupakan refleksi terhadap kebertuhanan yang dianut. Sebenarnya, bagaimana muslim memandang Tuhannya? Bagaimana muslim memaknai Allah? Apakah sekedar memaknainya sebagai zat yang maha sempurna, sebagaimana tercantum dalam asmaul husna ? Atau, lebih? Karena, aneh rasanya ketika muslim menyembah Allah yang Maha Kaya dan Maha Melindungi saat di masjid, berubah menyembah setan yang Maha mengganggu dan menyusahkan saat di luar masjid. Implikasinya adalah sendal jepit yang seringkali hilang, justru d...

Pathological Habitus

Berapa banyak di antara kelas menengah yang menginginkan Iphone terbaru, yang sebenarnya, tidak terjangkau dompetnya? Berapa banyak di antara kelas bawah yang menginginkan Kawasaki Ninja terbaru, yang sayangnya, tidak cocok dengan pendapatannya?  Nampaknya, penyakit ini menjalar di era kapitalisme modern. Penyakit ini jauh lebih berbahaya dibandingkan hedonisme dan lainnya. Ini menyangkut habitus yang keluar dari posisi objektifnya! Kebiasaan yang berada di luar kelas sosialnya!  Saya asal saja menamakannya pathological habitus. Habis, saya melihat agak gila penyakit habitus ini. Pendapatannya berapa, ingin belinya apa. Pendapatan dua juta perbulan tapi menginginkan gaya hidup selevel selebriti yang memang sehari bisa mendapatkan puluhan juta. Ini ada apa sebenarnya? Mengapa, kelas bawah ikut-ikutan terbawa arus habitus kelas di atasnya?  Tidak, saya tidak bias kelas menengah. Saya malah mendorong kelas bawah untuk mobilitas vertikal. Tapi, penting juga u...

Berharap Pendidikan Kritis

Entah mengapa dan bagaimana anginnya, belakangan saya sering mendengar wacana pendidikan kritis. Setelah lama tenggelam, wacana itu rasa-rasanya mengudara kembali. Ada apa?  Saya tidak tahu banyak konsep pendidikan kritis ala Freire. Tapi saya tahu inti pemikirannya bahwa pendidikan tidak boleh menjadikan siswa sebagai objek. Siswa adalah subyek. Kiranya begitu dengan segala prakondisi lain di sekolah.  Lantas, banyak yang mengkritik pendidikan di Indonesia kurang kritis, menekankan hapalan dan bukan pemahaman. Dan banyak kritik lainnya yang intinya bermuara pada satu hal: pentingnya pendidikan bermakna bagi siswa. Tapi, apakah bisa? Di Indonesia, dengan siswa-siswa yang jauh lebih modern?  Saya melihat, argumen pentingnya pendidikan kritis itu bias kelas menengah, dan, bias siswa rajin. Untuk siswa kelas bawah dan malas, apakah relevan pendidikan kritis itu? Lha wong untuk bisa masuk sekolah saja sudah bagus! Kok mengharap kritis. Nampaknya, itu perbedaan k...