Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2012

UAS

Singkat memang, dua minggu saja. Tidak lebih tidak kurang, hanya dua minggu waktunya. UAS menarik porsi lebih perhatian kehidupan pengikutnya. Perhatian sepenuhnya tertuju untuknya. Ia tiba-tiba menjadi dewa yang diikuti banyak doa, raksasa yang merusak banyak usaha, juga bulan yang mencerahkan suramnya hati. Tergantung bagaimana sikap masing-masing pengikutnya. Bijaklah menghadapi UAS.  Jujurlah pada diri sendiri. Mantapkan dan sadari apa tujuan mengikuti UAS. Walaupun tidak perlu juga petuah-petuah itu. UAS punya gayanya yang otoriter. UAS adalah ajang dimana kemampuan dipertanyakan, diulas kembali melalui soal yang sifatnya umum terhadap materi yang diberikan. Ternyata, karena memfokuskan perhatian kepada hal yang sifatnya khusus, banyak kesulitan untuk menjawab hal yang umum. Hal yang umum luput dari perhatian, ketika kesulitan mendapatkan inti dari hal-hal khusus tersebut menjadi bumerang dari materi. Begitu juga kehidupan. Inti dari kehidupan itu ...

Taxi

Melihat taksi menabrak pembatas jalan, apa yang terpikirkan?  Sebagai makhluk yang spontan terkaget-kaget ia. Sebagai makhluk penuh cinta, bersedia menolongnya. Sebagai makhluk penuh benci, menyumpah serapahinya. Sebagai makhluk irrasional, menganggap mistis jalannya. Sebagai makhluk sosial modern, menambah bebannya.

Lenong

Tawa dan canda ala Betawi, yang tidak bisa ditunda-tunda. Spontanitas manusia yang sangat lucu, unik, dan menghibur. Saya bersyukur hidup seperti ini.  Budaya Betawi seperti ini mulai luntur. Pemuda Jakarta terlihat seperti lebih memilih pergi ke Mall ketimbang melestarikan budayanya. Padahal, Lenong itu mulia sekali. Sangat mujarab membuat tawa dalam suatu adegan yang singkat dan tidak terduga. Lenong itu perlu. Hidup tak selamanya serius, detil dan semangat. Hidup perlu untuk santai, lepas dan apa adanya. Namun, hidup adalah pilihan. Kalimat yang begitu saya benci.  Menampilkan lenong di atas panggung adalah suatu kesenangan tersendiri. Tidak peduli bagaimana, melihat penontong tertawa ceria sambil terus melawak melepas beban-beban yang menyakiti pikiran, mental dan raga. Lenong menjadi salah satu alternatif untuk jiwa yang ingin bebas dari segala bentuk kehidupan yang kaku, tanpa canda tawa. Kehidupan yang tawar, bahkan pahit. Mungkin, hanya mungkin, apa yang d...

2012

Sampai juga waktunya.  2011 adalah tahun yang baik, sangat baik. Namun perpisahan tak terelak. Kenangan akan tetap bersama. 2012 dan awal Januari adalah hari-hari dimana kerja keras membunyikan gongnya, mengeluarkan unek-uneknya, menghancurkan batasnya. Kerja keras menyembul ke permukaan dengan dalih yang sah. Logis tersistematis membuat bagian diri menemukan jenuhnya. Letihnya. Kurang apalagi? Lemah tidak terlawan ketika siang terasa melemahkan. Semangat tidak terbawa ketika pagi terasa kurang. Mundur tidak terpikir ketika malam sampai. Jari jemari bertemu kata-kata tercetak dengan lincah tarinya. Tatap muka dengan halus layar terbentang luas menutup dunia sesungguhnya. Salah siapa menganjur? Sungkan singkat saja tak terdengar anjuran.  Saat-saat banyak yang bicara akhir dunia. Menggumam saja tak apa. Tapi, 2012 tidak menghilangkan tawa canda. Gumam biarlah jadi gumam, prediksi sudahlah berhenti, nikmati saja apa yang jadi. Hidup, bukanlah tempat ideal untuk ...

Marx

Belakangan, ia menjadi sahabat saya. Saya terus menerus berdekatan dengannya. Ia hadir dalam setiap pembelajaran di kelas yang saya dapat. Pikirannya begitu merajai pikiran saya. Karl Marx, sesosok yang mengubah pandangan masyarakat terhadap dunia tempat tinggal mereka.  Entah saya harus kagum atau empati terhadapnya. Idealismenya sangat ia junjung tinggi. Ia tidak ingin menjadi buruh, walaupun ia sangat amat miskin. Ia rela miskin, rela susah, rela melarat demi ide-ide utopisnya. Sungguh, saya tidak habis pikir dengan orang-orang seperti ini. Rela menyulitkan diri sendiri demi melawan sistem yang tidak adil. Saya kagum sekali dengan orang-orang yang tidak cuma bicara, tapi juga praktek langsung atas ide-idenya. Karl Marx adalah contoh orang yang konsisten, sangat konsisten dengan pendiriannya. Seorang Sosiolog yang anti-borjuis.  Saya juga empati terhadapnya (bukan menyebut kasihan), bahwa penderitaan yang dia alami adalah buah dari kekonsistenannya melihat dunia. P...