Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2015

Konstitusi Dimata Awam

Pernah suatu ketika dalam kelas konstitusionalisme, saya dan peserta lain ditanyakan oleh pemateri. Ia seorang pakar hukum tata negara yang seringkali berkomentar di layar kaca. Dan modis. Ia membuka materi dengan langsung bertanya, tanpa memberikan sedikitpun materi sebelumnya.  Sederhana saja, " Apa itu konstitusi ?" Pertanyaan yang terdengar simpel, tetapi sangat abstrak dan luas makna atasnya. Saya melihat teman-teman memutar otak, agar jawabannya bisa memuaskannya. Beberapa jawaban pun terdengar. Ada yang berputar-putar, ada yang langsung menjawab dengan tegas. Konsekuensinya, jawaban atasnya begitu beragam. Sebagai pembelajar pemula konstitusi dan konstitusionalisme, saya membutuhkan kepastian. Setidaknya, satu definisi yang cukup andal untuk dijadikan pegangan berpikir. Secara spontan, saat itu saya menjawab dua kata saja untuk konstitusi: kontrak sosial. Saya teringat, entah dimana dan kapan, bahwa konstitusi pada dasarnya adalah perjanjian saja. Ia adalah ke...

Kutukan Seorang Penulis

Ada apa di balik jiwa dan pemikiran seorang penulis? Adakah kegalauan, kecemasan, kemarahan dan kebencian? Atau ada kebaikan, kejernihan, ketenangan dan kematangan?  Pertama-tama, patut diketahui bahwa tulisan ini tidak hendak menggeneralisir penulis sebagai satu kesatuan yang utuh. Hanya mencoba menemukan pola-pola yang umum ditemukan dalam diri seorang penulis. Yang saya tahu, menjadi seorang penulis, yang tulen tentunya, adalah siap dengan kutukan-kutukannya. Menulis bukan hanya sekedar menuangkan gagasan ke media tulis: ia adalah proses multidimensi. Ia bisa bersifat spiritual karena menyangkut kesadaran manusia. Bisa bersifat sosial karena setiap tulisan yang dapat dibaca mampu mengubah keadaan masyarakat pada level paling kecilnya. Bisa bersifat politis, ekonomis, psikologis dan segala dimensi kehidupan manusia.  Apapun itu, saya akan membahas sedikit saja tentang kutukan, mitos atau apapun kita menyebutnya, menjadi seorang penulis. Ini berdasarkan pembacaan t...

Semesta Yang Saya Tahu

Katanya, semesta itu adil. Ia mendengar, melihat dan mengetahui segala sesuatu yang terkandung di dalamnya. Beberapa konsepsi pun bermunculan dalam kehidupan sosial manusia. Ada karma yang meyakini bahwa kejahatan, diketahui atau tidak secara sosial, akan dibalas oleh kejahatan juga. Begitu juga dengan kebaikan yang akan dibalas oleh kebaikan, tidak peduli seberapa kecil kebaikan itu dan seberapa penting kebaikan itu.  Katanya, semesta juga membalikkan apa yang kita pikirkan. Pikirkanlah keberhasilan, maka manusia akan berhasil. Pikirkanlah keburukan, maka akan muncul keburukan. Karena masyarakat terus memikirkan korupsi, korupsi akan terus ada karena fokus kita ke korupsinya, bukan ke kebersihan, keadilan dan kemanusiaan. Kita fokus pada hal-hal yang negatif sehingga semesta meresponsnya dengan menjadikannya kenyataan. Ini berdasarkan beberapa ajaran, salah satunya Law of Attraction .  Membahasnya, saya justru ingin merumuskannya ke dalam beberapa pemikiran yang sede...