Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2012

Kapitalisme

Pramoedya Ananta Toer dengan "Anak Semua Bangsa"-nya adalah penggambaran kapitalisme yang luar biasa. Disarankan untuk dihayati, bukan sekedar dibaca sambil lalu.  Ada berbagai pemahaman yang dituliskan disana. Cinta, tentu saja utama. Kolonialisme, penjajahan, imperialisme, apapun namanya juga tertera dengan jahatnya. Adat dan budaya, Pendidikan, Masyarakat Desa, Pemerintahan, sampai gender, ada. Tapi bukan itu semua tetapi kapitalisme: sistem ekonomi-sosial terbaik yang pernah ditemukan manusia, setidaknya bagi beberapa.  Salah satu kalimat (seingatnya) yang menghentak pelan adalah " orang boleh mati asal modal tetap berjalan ". Pram menggambarkan kapitalisme dengan konteks dimana perusahaan harus tetap berjalan walau masyarakat di sekitarnya terkena wabah penyakit yang mematikan. Penyakit yang telah mengakibatkan kerugian pada masyarakat, baik moril maupun materiil. Atas dasar kapitalisme, maka perusahaan di desa yang terkena wabah penyakit tersebut haru...

Babi

Oh ya, untuk diketahui bahwa hidup masih menyisakan manusia untuk bebas dari tekanan makna. Bukan anjing, bukan kuda, bukan juga sapi. Tapi babi.  Hiduplah manusia dengan berbagai jenisnya. Salah satunya dengan kesibukannya, gaya-gayaannya, hampir lupa kalau ia sungguh-sungguh telah memiliki ruang yang beragam. Ruang yang menyediakan berbagai keberbagaian yang ada. Ruang untuk apa saja. Apa saja untuk kehidupan.  Manakala pagi datang maka ia berkata-kata sumringah pada dunia sembari merapikan bajunya. Tuntutannya. Manakala sampai senja maka ia berkata-kata lagi pada dunia sembari mengeluh-bersyukur, bersyukur-mengeluh, bahwa ia masih hidup. Dengan atau tanpa cinta, dengan atau tanpa ruang.  Dan tatkala menyelesaikan suatu kegiatan, ia masih menerka-nerka makna. Setidaknya, sekurang-kurangnya dari apa substansi serta intinya. Sekurang-kurangnya, ia harus selesai dengan suatu pemahaman yang memuaskannya. Seburuk-buruknya, ia harus efektif memanfaatkan waktunya: ...

Visi

Tentang visi yang jauh di masa depan berisi tujuan dan cita-cita, manusia kadang masih membutuhkannya. Demi fokus, demi jelas dan bermaknanya suatu praktek dan kegiatan yang dibalut ideologi. Biarlah.  Dengan visi, setidaknya gambaran singkat mengenai akan kemana suatu program akan berjalan dapat diketahui publik. Bila visinya jelas maka programnya juga jelas. Bila programnya jelas maka prakteknya juga jelas. Semuanya berawal dari visi. Bukan begitu?  Ingin menjadi pemimpin membutuhkan visi. Ingin menjadi apa-apa jangan-jangan butuh visi juga? Jangan-jangan manusia ini makhluk deterministik-visioner lagi? Atau jangan-jangan pemikiran manusia modern terlalu rasional sehingga menyaratkan visi terus. Ah, jangan-jangan modern yang ditafsirkan sesuka hati lagi.  Sesungguhnya, visi ini ada atau tidak dalam praktek sehari-harinya? Sesungguhnya, praktek sehari-hari berdasarkan visi atau tidak?  Sesungguhnya visi-praktek dan praktek-visi mana yang muncul ...