Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2012

Jakarta

Di hari ulang tahunnya, Jakarta terus berbenah sekaligus merusak. Jakarta masih bingung berada pada fase mana dalam kehidupan: Ia siap lepas landas menuju megapolitan sekaligus takut dengan berbagai tantangan di dalamnya. Ia juga masih dipenuhi masalah sosial. Sebagai kota, Jakarta masih terus berbenah dan berbenah. Tidaklah sulit untuk menemukan keanehan di Jakarta. Yang terutama dan mudah dilihat adalah masyarakatnya yang terdiri dari berbagai kelas. Atas yang atas sekali tidak manusiawi, menengah yang apatis dan ngehek , dan bawah, yang bahkan hidupnya dari belas kasihan orang lain. Dari ketiga kelas ini, kelas menengah adalah kelas yang banyak omong dan sabodo teuing . Mereka apatis, tapi kritis. Kritis tapi apatis. Entahlah, kelas menengah tidak pernah berhenti mengkritisi sekaligus mempertanyakan segala sesuatu yang tidak berkenan dengan jarangnya solusi. Pokoknya, yang terenak buat kehidupan, yang ternyaman yang termewah dan segala-gala yang ditawarkan dunia dengan kenikmatan...

Arkeologi

28 tahun yang lalu, Michel Foucault meninggal. Tetap dengan misterinya. Tetap dengan penafsiran masing-masing. Tetap dengan arkeologinya. Kabarnya, ia meninggal karena AIDS. Ia memang dikenal homoseksual. Baik AIDS maupun homoseksual, bukankah suatu arkeologi pengetahuan yang ditulis oleh ahli sejarah yang mengetahui keberadaannya? Suatu bangunan pengetahuan yang mengkonstruksikan pandangan masyarakat terhadapnya? Adanya power untuk mengatakannya?  Foucault berhasil mendekonstruksi pengetahuan secara positivis, untuk melihat kemungkinan lain dari pengetahuan. Untuk melihat bahwa pengetahuan manusia itu beragam, relatif dari sudut pandang mana manusia melihatnya. Berani, segar dan menghentak.  Foucault juga berhasil menambah derita setelah ia menjelaskan bahwa ada arkeologi pengetahuan yang dibentuk oleh pihak penguasa. Derita sebagai manusia bahwa sejelas dan seterang-terangnya pengetahuan, adalah pengetahuan yang berdampingan dengan kuasa untuk membuatnya menjadi...

MPS

Untuk yang satu ini,  tidak ada kata yang mampu menggambarkannya. Kata seakan habis. Kata terlalu letih, terlalu berat untuk mengungkap. Suatu pemikiran yang linear, yang saklek, yang tidak bisa diubah-ubah. Sekalipun bisa diubah, perlu mempertimbangkan beberapa bagian yang lain. Seakan satu sistem. Seakan tidak ingin ditinggal. Seakan se-iya sepikiran. Metodologi Penelitian Sosial. Kuantitatif.  Ada beberapa bagian memang yang menuntut kerja keras, dan menikmatinya adalah menikmati hidup juga. Namun, MPS bukan hanya menuntut kerja keras, kerja keras saja tidak cukup. MPS juga mencari kebersamaan. Kebersamaan saja tidak cukup. MPS memerlukan adanya keberlanjutan, istiqamah , bahwa pengerjaannya dari waktu ke waktu akan secara runut dan sistematis dikonstruksi, dekonstruksi, hingga akhirnya mendapatkan suatu hasil yang benar-benar bisa diterima akal positivis. Kekuatan yang bagi sebagian merupakan kelemahan. Tergantung tafsirnya, tergantung kepentingannya. Setelah mela...

Esensi

Di suatu malam yang membosankan, saya terdiam. Saya sangat bosan. Bosan dengan perdebatan esensi. Manusia seakan tahu apa itu esensi dari kehidupan dengan terus mengomentari esensi. Esensi bermacam-macam, esensi busana, esensi agama, esensi hidup, esensi konflik dan yang paling sering, esensi konsumsi. Apa makna, apa esensi, bagi mereka yang terjebak (ada yang tahu dan malah memilih untuk menikmati) budaya konsumerisme. Seakan mereka yang terus-menerus mengkonsumsi itu tidak mengerti esensi dari barang, jasa, yang dikonsumsinya. O, memang hidup penuh tafsir. Memang pandangan manusia berbeda. Tapi haruskah kita bicara esensi, ketika esensi hidup mungkin berbeda satu dengan yang lain?  Sampai disini, saya terus terdiam.  Saya mungkin tidak mengerti banyak konsumerisme, tapi bukankah esensi itu netral? Bukankah esensi itu dapat dimiliki oleh siapa saja? Bukankah esensi itu menyimpan maknanya sendiri dalam alam pikiran manusia? Atau, esensi itu merupakan hasil dari kon...

Mahasiswa

Saya ingin meracau, tentang pemuda yang mengaku merdeka. Seorang teman pernah berkata bahwa ia belum pantas menjadi mahasiswa. Ia mungkin merasakan beban yang ditampuk menjadi mahasiswa begitu mahaberatnya: entah beban intelektual maupun moral. Saya tidak tahu bagaimana pemaknaan masyarakat Indonesia umumnya terhadap mahasiswa. Sepengalaman hidup saya,  yang sering sekali keluar dari kepolosan masyarakat adalah bahwa mahasiswa sebaiknya jangan berdemonstrasi. Ingat, ini setahu saya. Bukan setahu penguasa. Bukan pula setahu kapitalis. Meskipun berbau logika penguasa-kapitalis. Menjadi mahasiswa itu harus pro-rakyat. Logika mahasiswa adalah logika rakyat. Mahasiswa harus mampu menyuarakan aspirasi rakyat kepada penguasa. Mahasiswa harus setia mengawal kebijakan pemerintah lantas mengkajinya dalam-dalam untuk menceritakan kebobrokan (mungkin saja keberhasilan, kalaupun ada) program pembangunan. Mahasiswa harus mengangkat derajat rakyat agar tidak terbelakang. Mahasiswa tid...

Kembali

Aku ingin menyebut diriku penguasa. Penguasa yang mampu mendorong semangat siapa saja. Penguasa yang disegani. Penguasa yang dapat diturunkan kapan saja oleh rakyatnya. Aku ingin menyebut diriku penyair. Penyair yang menghasilkan kata-kata indah. Penyair yang menelanjangi keindahan cinta manusia. Penyair yang ditakdirkan romantis.  Aku ingin menyebut diriku ahli agama. Ahli agama yang berjuang menegakkan kepentingan ummat. Ahli agama yang menyatakan kedamaian di atas segalanya. Aku ingin menyebut diriku ilmuwan. Ilmuwan yang bebas merdeka. Ilmuwan yang cinta mati pada kejujuran nurani. Aku ingin menyebut diriku musafir. Musafir yang menikmati perjalanannya. Musafir yang mempunyai mata batin lebih kuat dari mata kepala.  Aku ingin menyebut diriku dokter. Dokter yang berintegritas. Dokter yang mau mengotori tangan demi bocah jalanan.  Aku ingin menyebut diriku guru. Guru yang sakti. Guru yang kokoh. Guru yang mengajari tafsir kehidupan melebihi kema...

Ayah

Di suatu makan malam yang akrab bersama keluarga, saya tiba-tiba ingin memperhatikan bagaimana interaksi ayah, ibu dan anak. Oh, mungkin inilah jiwa Sosiolog mulai berkembang: hanya ingin mencari tahu, menembus pandang akan fenomena yang terlihat biasa. Saya mulai terasuki alam-alam ketidaknormalan tersebut.  Pandangan mata seakan terus mencari, terus mencari. Namun, terlalu cerooboh rasanya melewati momen makan malam bersama keluarga untuk sekedar memperhatikan interaksi inter keluarga tersebut. Hingga datang mereka. Tepat! Satu orang ayah, satu orang ibu dan satu orang anak. Juga satu buah Ipad dengan headsetnya.  Hampir tidak ada interaksi antara ayah dengan ibu, juga ayah dengan anak. Saya hanya melihat interaksi antara ibu dengan anak yang kadang tersenyum renyah menikmati canda. Tiga orang ini terlihat masih muda, modern, menengah dan hi-tech . Saya sudah menjelaskan sebelumnya dengan adanya Ipad dan headset. Hingga saya tidak habis pikir, seorang ayah beg...