Kalah

Real Madrid 1- 3 Barcelona. 

Lagi, Madrid harus menerima ketangguhan musuh bebuyutannya. Gol Alexis Sanchez, Xavi, dan Fabregas semakin membuat lemah lesu seharian penuh. Optimis buta itu tergusur murung berlebih. Saya sangat tidak bisa menerima Madrid kalah dari Barcelona. Sangat tidak bisa.

Saya menyesal, sangat menyesal pada fakta bahwa saya tidak terbangunkan untuk menjalankan "ritual keagamaan" ini. Yang saya tahu hanyalah mereka yang bahagia atas kemenangan Barca, kekalahan Madrid, dan ikut-ikutan bahagia dalam waktu singkat. Ah, itu hak mereka. Yang penting saya tetap Madridista.

Cibiran tentang penampilan Ronaldo, yang lagi-lagi seakan grogi dalam panasnya El Classico, begitu deras di obrolan kantin, kelas, dan tempat lain saya singgah. Ronaldo seakan belum "siap" untuk menghadapi pertandingan seberat El Classico. Ada hal lain dalam dirinya, yang begitu kaku dan nervous begitu menghadapi Barca. Saya masih heran, sungguh heran. 

Madrid sudah sering mengalami kekalahan di kandang oleh Barca beberapa tahun belakangan. Adalah Xavi yang konsisten terus-terusan merusak dan Messi yang tak jua dapat dikawal dengan baik yang menjadi masalah. Itu saya akui, mereka berdua memang luar biasa. Permainan yang menunjukkan betapa La Masia mampu menjadi akademi yang menghasilkan pemain dengan gaya permainan yang indah dan sulit dihentikan. Tapi itu bukan fokus saya.

Real Madrid adalah klub dengan pemain bintang dari seluruh penjuru dunia. Marcelo, Carvalho, Khedira, Altintop, Kaka, dan Di Maria adalah bintang bagi negaranya masing-masing. Namun, mengapa Madrid masih sulit untuk menghadang Barca? Saya memperkirakan bahwa ini masalah kultur. Ya, kultur El Classico. Kultur yang terbentuk pada pemain Barca (mayoritas Spanyol dan Andalusia) lebih kuat ketimbang Madrid (heterogen dan sedikit didikan asli: hanya Casillas yang bermain secara reguler). Walaupun terlihat terburu-buru untuk mengatakan kultur sebagai penyebab kekalahan Madrid, namun saya melihat bahwa pemain Madrid yang ada sekarang hanya berjuang sebagai "profesional". Artinya, pemain hanya berjuang untuk menang dan menang. Beda dengan Barca, yang memiliki mayoritas pemain asli Andalusia, yang dengan kulturnya mempunyai semangat untuk memenangkan El Classico ketimbang pemain Madrid. Pemain Madrid adalah mereka yang berkembang di luar Madrid. Mereka dibeli Madrid ketika mereka sudah matang dan siap bertarung. Disinilah perbedaannya, pemain Barca lebih mantap untuk diadu di arena Classico ketimbang Madrid, yang semakin hari semakin instant. 

Saya ingat betul momen-momen dimana Raul Gonzalez begitu sering berselebrasi dan membawa senyum kebahagiaan kepada seluruh Madridista seluruh dunia. Raul memiliki karakter yang telah terbentuk selama dia dibina di Castilla. Dia tidak ujuk-ujuk menjadi kapten tim. Kehadirannya dalam El Classico merupakan penolong rekan lain di lapangan, dengan pengalaman yang tidak main-main. Masalahnya, sekarang yang tersisa tinggal Casillas, itu pun di bawah mistar gawang (dengan tidak merendahkan jasanya sebagai kapten tim, tapi pengaruhnya terhadap temannya tidak sebesar yang dilakukan Raul). Pengaruh Raul terlihat ketika ia mencetak gol dan mengharapkan semangat rekan-rekannya, entah untuk membalikkan kedudukan atau sekedar menjalankan tugas sebagai kapten. Callejon, striker asli Madrid, lebih banyak jadi penghangat bangku cadangan.

Madrid, dengan berat hati saya katakan, adalah klub yang tidak hanya butuh skill (+ tampang, karena trend penjualan Madrid amat berkaitan dengan kegagahan pasukannya), tapi juga memerlukan pemain dengan mental, semangat, motivasi, dan kecintaan kepada Madrid. Terutama mental El Classico. Madrid butuh pemain seperti Raul, yang ditempa dengan proses Madrid, yang tidak instan, dan punya semangat Classico murni.

Madridista butuh Madridista sejati. Secepatnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang