Humanity
Dalam situasi darurat, tentara yang tertembak saat perang namun sedikit kemungkinan untuk dapat pulih lebih baik ditembak mati rekannya ketimbang merasakan penderitaan yang berlanjut. Atas nama "meringankan" penderitaan, pembunuhan dilakukan. Awalnya, saya sungguh sulit menerima logika seperti ini. Apapun alasannya terlihat kejam dan mengerikan untuk membunuh rekan seperjuangan.
Ya, adalah susah untuk menerima cerita seperti itu. Tapi itu ada. Humanity itu nilai utama bagi sebagian. Sekarang jangankan untuk membayangkannya, untuk sekedar mendengar cerita tersebut dari dosen untuk kedua kalinya mungkin saya enggan. Saya terlalu takut untuk mengalami hal tersebut. Saya takut dibunuh dengan sengaja rekan seperjuangan juga takut untuk dibunuh atas nama "Humanity". Pembenaran yang sangat horor, sangat horor.
Apapun penyebabnya, manusia pasti akan mati juga. Mati adalah hal pasti. Mati adalah jatah yang telah mantap. Namun, sulit untuk mati seperti cerita di atas. Walaupun kemungkinan untuk pulih itu ada, kemungkinan untuk kemungkinan lain pasti ada. Asa terakhir justru berada di tangan kawan. Tragis. Ironis.
Andaikata saya adalah rekan dari orang yang sekarat tersebut, mungkin saya tidak akan langsung menembaknya atas nama Humanity. Saya lebih memilih untuk menunggu dia untuk mati secara alami. Bukan mati lebih cepat dengan perantara tembakan yang saya letupkan. Sungguh dilematis memang. Sulit untuk memberi batas antara memberi kesempatan dengan Humanity.
Mungkin, apa yang dikatakan Humanity dengan meringankan penderitaan itu bisa meringankan.
Mungkin, apa yang dianggap Humanity dengan menembak langsung penderita itu bisa mematikan Humanity.
Yang pasti saya yang belum paham betul apa itu Humanity.
Komentar
Posting Komentar