Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2012

Teori

Audi, vide, tace situ vis vivere. Dengar, lihat dan diamlah jika engkau ingin hidup... Manusia. Manusia hidup berdampingan. Sibuk mengatur kehidupan. Konstan menghasilkan masalah. Juga berusaha seterusnya mencari solusi atas masalah yang dibuatnya sendiri. Sosial.  Sepenuh hatinya, manusia bisa mencintai juga membenci. Atau mencintai sekaligus membenci.  Gejala, fenomena, masalah, juga keunikan kehidupan bersama ini menghasilkan pemikiran-pemikiran hebat dari manusia. Pemikiran sebagai tanda kehebatan dan keutamaan manusia sebagai satu bentuk makhluk hidup. Salah satu darinya, Rene Descartes, bahkan sangat mengutamakan pikiran. Siapa yang tak tahu kata-kata masyhurnya "Cogitu Ergo Sum". Kata-kata yang seringkali dijumpai pada mereka-mereka kaum yang mengutamakan pemikiran mereka. Tidak ada manusia, tanpa pemikirannya.  Dalam kehidupan nyata, ada manusia-manusia -yang katanya- terlahir beruntung dan kurang beruntung. Kaya dan miskin. Atas dan bawah. Y...

Bromo

Kesempatan itu datang juga. Kesempatan dalam kepenatan, kesempatan dalam kecintaan, kesempatan dalam kebingungan, juga kesempatan dalam pencarian. Gunung Bromo dan sekitarnya.  Hidup bisa jadi jebakan mematikan. Hidup bisa jadi arena tanpa henti. Aktivitas sehari-hari yang baku, mantap, kaku, bahkan menjemukan mengikat erat. Kasihan sebenarnya, apa yang dicari? Mungkin disitu pula letak kenikmatannya. Tidak tahu.  Satu hal yang pasti, alam adalah bukti keagunganNya. Sungguh, bagi kaum yang berpikir.  Bergulat dengan kehidupan kota ternyata penuh dengan kepalsuan, kebobrokan, ketidaksadaran, yang menyebabkan pudarnya kemurnian, kespontanan, bahkan kelucuan. Singkatnya, saya merasa bosan terus di kota. Apalagi Jakarta.  Bromo mengajari beberapa hal kepada saya bahwa hidup masih menyisakan ruang dan spasi untuk merenung dan bersantai. Melawan arah. Mencintai keindahan. Bahwa hidup tidaklah seburuk apa yang dikonstruksikan. Melalui alam Bromo ini saya di...