Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2012

Imbang

Bacalah jika ingin tahu dunia. Tulislah jika ingin diketahui dunia.  Kok biner?  Jika ingin tahu dunia, ya keliling dunia. Empiris! Ingin tahu dunia dengan membaca itu idealis. Seakan-akan ide yang timbul akibat proses berpikir dari bacaan itu adalah realita. Dimana pengalaman empiriknya? Dimana kesempatan bagi mata, perut, kulit dan kaki untuk merasakan nikmatnya dunia? Dunia bukan hanya milik otak dengan idenya, dunia nyata jelas untuk dialami secara empirik. Dunia harus dicerap sempurna, begitu kata positivis.  Jika ingin diketahui dunia, ya mencinta. Ya beraksi. Ya berkontribusi. Ya berjuang untuk diketahui, bukan cuma dengan menulis. Ya postmo - melihat banyak cara mencapai kebenaran "diketahui dunia". Ya terserah masing-masing.  Tapi bukan itu. Adalah seimbang yang seakan-akan dibutuhkan bagi hidup. Sebaiknya, manusia harus tahu dan diketahui dunia. Itu sebaik-baiknya manusia, mungkin menurut entah. Laki-laki dan perempuan, satu saja contohny...

Tuhan

Semata antropodisi ada kelirunya. Semata teodisi, apalagi.  Habermas berkata bahwa Tuhan adalah struktur komunikatif dalam masyarakat. Durkheim berkata Tuhan adalah fakta sosial: masyarakat itu sendiri. Berkuasanya mereka mendefinisikan Tuhan. Jadi, siapa yang berkuasa sebenarnya? Manusia atau Tuhan? Manusia pada faktanya "membahasakan" Tuhan, yang Maha Kuasa, Maha  Agung, Maha Besar. Durkheim dan Habermas, dua orang itu saja mampu membahasakan Tuhan.  Mereka berbicara dalam konteks. Mereka juga membahasakan Tuhan dalam konteks. Konteksnya beragam dan selalu menarik. Pembahasan mengenai Ketuhanan memang selalu menarik bagi mereka yang berpikir. Bagi mereka yang tidak puas hanya dengan taklid terhadap dogma agama. Tuhan nyatanya, sadar atau tidak sadar, terus dibicarakan. Kalau ada perspektif yang memberi penekanan bahwa "apa yang dibicarakan" itu yang ada, maka barang tentu Tuhan ada.  Tapi, antropodisi saja tidak memberikan penjelasan yang imbang. Baga...

Logika

Sudahkah sampai pada saatnya, manusia modern berhenti mengagung-agungkan rasionalitas? Kalau belum, tidak apa-apa. Yang penting rasio belum menggusur cinta: nama yang tidak berposisi, tidak terlalu rendah juga tidak terlalu tinggi. Memposisikan cinta berarti menempatkannya pada kategori buatan manusia bernama bahasa, padahal cinta di luar bahasa. Cinta di luar kemampuan manusia mendefinisikan maknanya.  Saking pasrahnya, manusia   mendefinisikan cinta sebagai Tuhan itu sendiri. Berlebihan? Cinta merupakan kesucian yang tiada tara dari perasaan manusia. Bukan, cinta bukan itu. Cinta adalah kemerdekaan. Cinta adalah keberanian. Cinta adalah ketulusan. Bukan, cinta bukan itu.  Cinta bukanlah logika. Yang bisa didefinisikan tepat, yang bisa disederhanakan melalui proses berpikir. Ia di luar kemampuan berpikir manusia. Mendefinisikan cinta sama saja merendahkan cinta. Sama saja mereduksi ke dalam beberapa kata yang mungkin tidak dialami manusia lain. Parahnya, sama sa...

Habitus

Karena semua fenomena dalam lika-liku kehidupan manusia merupakan semata-mata berlandaskan ekonomi. Begitu kata Marx: filsuf agung yang tiada henti-hentinya menghantui alam pikir para pejuang keadilan kelas.  Tidak ingin terlalu banyak tentang Marx (karena memang lebih nikmat membaca karya orisinil ketimbang interpretasi), juga tidak ingin terlalu banyak tentang filosofi perjuangan. Hanya tentang selera yang terbentuk secara tidak sadar akibat posisi sosial, dari adanya tempat, arena, dan kenyataan yang selanjutnya membangun cara pikir dan bertindak anak manusia. Habitus.  Bukan Marx yang berkata. Bordieu. Tapi berkaitan karena semata-mata masalah ekonomi-lah yang membentuk cara berpikir dan kebiasaan secara tidak sadar. Berkaitan karena dialektika, kena-mengenanya suatu fenomena pada fenomena yang lain. Dan disadari maupun tidak, kebenaran dalam kehidupan adalah proses dialektika. Disadari maupun tidak, kebenaran terus berhadap-hadapan dengan kesalahan, kesesatan, da...