Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2012

Sepakbola

O, sepakbola kurang menarik belakangan. Salah satu alasannya adalah karena begitu kuatnya keyakinan bahwa Madrid sengaja mengalah dari Muenchen kemarin. Madridista seperti saya dapat melihat banyak kejanggalan dalam pertandingan seperti itu. Juga dari luar pertandingan.  Namun, bukan sepakbola namanya kalau berhenti menarik hati. Sepakbola bukan lagi permainan, ia merupakan kehidupan itu sendiri. Artinya, bukanlah kehidupan tanpa ada sepakbola. Sama dengan tangis perempuan, tidak ada kehidupan bila tidak ada tangis perempuan.  Saya hanya berada pada titik dimana saya merasa bosan berkutat dengan kehidupan akademis. Apalagi penelitian, yang sistematis itu. Memuakkan sekali rasanya tidak bisa keluar dari ikatan (o ada yang tidak setuju mungkin dibilang ikatan) berkedok positivistik ini. Alasan mengapa saya sampai sekarang tidak memberi atensi berlebih pada gaya berpikir sistematik, saklek, linear. Monoton.  Dan saya tahu apabila saya bosan, musik dan sepakbola ...

Foucault

Siapa punya kuasa, ia mampu mengkonstruksi kebenaran kepada masyarakat.  Tidak ada kebenaran sesungguhnya yang berdiri sendiri seperti Positivistik katakan. Hanya kebenaran mereka yang berkuasa, yang ditanamkan kepada tiap-tiap individu, termasuk mereka yang kalah dalam perang kekuasaan. Membuka cara pandang terhadap dunia ala Foucault ini berarti membongkar pengetahuan untuk menciptakan bentuk pengetahuan baru: Pengetahuan, kebenaran, yang murni. Autentik. Tapi, apa memang seperti ini? Apakah Foucault, mungkin juga sebagian dari kita, menginginkan kebenaran murni di luar konstruksi penguasa?  Sebentar. Biarkan kebenaran terus diperjuangkan, diperdebatkan dengan cara masing-masing. Atau jangan-jangan, kebenaran sebagai capaian malah melihat dan menikmati dialektika tersebut di suatu ruang yang tak berwaktu, yang terus-menerus manusia pertanyakan. Satu waktu kebenaran dicapai, ia berubah. Satu waktu kebenaran tergilas, ia balik menggilas. Satu waktu disalahkan, ia ...

Ilmuwan

Ilmuwan sosial itu punya apa untuk membicarakan orang lain? Membicarakan masyarakat?  Power? Resource? Atau memang ilmuwan punya semacam kewajiban? Atau bahkan hak?  Seperti biasa, saya hanya menghadirkan pertanyaan tanpa hendak menjawabnya. Saya menikmati pertanyaan. Saya menikmati pikiran saya bermain-main secara bebas, secara liar, secara manusiawi maupun non-manusiawi. Pikiran yang membawa saya pada kesibukan sesaat, hingga pada akhirnya lenyap dengan manisnya. Lenyap dengan kesanggupan dan kemauan sesukanya.  Kekuatan ilmuwan sosial yang bagaimana sehingga ia mampu menjelaskan fenomena sosial?  Saya selalu percaya, dalam setiap langkah saya membawa tubuh ini, akan selalu ada fenomena sosial yang dapat dijelaskan. Selalu percaya. Hanya, dibutuhkan kemampuan merumuskan, mengorganisasikan, menambah-nambahkan, dan mengeksplor pikiran sendiri maupun orang lain, untuk mencipta kreatif suatu gagasan yang mampu menjelaskan fenomena. Suatu kemampuan yan...

Angkot

Saya belakangan sering bertanya-tanya: "Apa mungkin jumlah angkot justru lebih banyak daripada penumpangnya?" Terdengar konyol memang. Tapi saya suka hidup yang kadang konyol. Pertanyaan ini tidak muncul begitu saja. Saya melihat sendiri bagaimana angkot-angkot di rute Pasar Minggu-Depok (rute yang rutin saya lalui ke kampus) begitu banyak, tapi sedikit penumpangnya. Sebenarnya, kemana penumpang-penumpang itu? Dan angkot yang saya maksud di keseluruhan tulisan ini adalah angkot dengan penumpang kosong. Angkot yang ngetem, angkot yang bergagah-gagah di belahan jalan. Saya akui saya lelah setiap hari berkutat dengan kemacetan. Mungkin semua warga Jabodetabek juga. Lantas, sebenarnya bagaimana pengaturan angkot-angkot itu? Bagaimana sistem yang menjalankannya? Kok warga Jakarta seperti saya ini justru terganggu dengan kehadiran angkot? Oh tidak. Mungkin memang harus seperti itu. Ini jawaban kaum pesimis. Oh ya, itu bisa diperbaiki. Kita semua bisa memper...

Kekasih

Kasih, apakah merah itu benarlah membara sebagaimana kita bersaksi? Kasihku  Biarkanlah dunia bertanya Bertanya Berontak Mengira Biar Kasihku  Biarkanlah benci Dendam  Menguap Biar  Kasih Biarkanlah rasa ini Sesejuk kabut pagi Sebebas hela nafas Biar  Kasih Biarkanlah ragamu merindu Senyummu menanti Getirmu kau rasa Biar Kasih, biarlah. Biarlah aku mencintaimu, tanpa pedulimu.  Ya. Biarkanlah aku mencintaimu. Jika, Kasih, apakah dua benar-benar dua ketika satu mengungkap tanya? Oh, kasih. Sadarkah engkau Kita hidup dan menghidupi dunia penuh tanya Kita sadar dan menyadari hidup yang bermakna Kita mungkin hanya saling mencinta Dan, kasih, apakah nyaman benarlah nyaman ketika hati sengaja?  Kemana lagi, kasih Kemana lagi telinga akan mendengar Kemana lagi mata akan mencari Kasih Aku memang kasihmu Memang Namun Hanya ketika hati terikat, hanya begitu kau sadar, kasih, cinta telah begitu kuat Oh, Kemana l...