Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2014

30 Tahun dan Petanda Ideologis

Belum pernah saya sebegitu tergelitik membaca buku, seperti membaca buku "Tuhan Ingin Anda Kaya" karangan Paul Zane Pilzer. God Bless Him and His Writings. Kesan pertama saya terhadap buku ini begitu normatif - teologis. Tapi, semua tahu, kesan pertama bisa menipu. Buku ini berisi suatu filosofi ekonomi yang padat dari pengalaman hidup sang penulis yang berdiri di atas bahu para intelektual - ekonom yang besar. Saya yang tadinya merasa sendirian merenungi ideologi besar dunia, nowhere but between the ideology , merasa penulis hadir begitu dekat menemani renungan saya.  Dengan gaya bahasa yang santun, namun terkadang agak ketus juga, Paul Zane Pilzer menunjukkan bagaimana dunia tempat kita hidup adalah tempat yang tidak terbatas untuk kekayaan seluruh manusia. Tadinya, saya merasa klaim seperti itu amat oportunis dan penuh dengan bias orang kaya yang biasa dilebih-lebihkan oleh motivator. " Dunia kita adalah dunia berlimpah " adalah jargon banal motivator ag...

Read Between The Lines

Saya tidak percaya bahwa seorang pembaca bisa menemukan apa makna tersirat, dengan komprehensif, di balik setiap penulisan dalam sekali baca. Akan selalu ada renungan, pemikiran dan makna lain yang akan keluar dari setiap pembacaan terhadap suatu buku atau tulisan lain. Pasti, ada banyak faktor yang mempengaruhinya. Tapi, saya hanya akan mencatat satu faktor saja, yaitu latar belakang pembacaan si pembaca.  Saya seringkali merasakan keanehan ketika buku yang biasa-biasa saja, terbaca luar biasa bagi orang lain. Begitu juga sebaliknya. Buku-buku motivasi diri misalnya, akan sangat luar biasa pengaruhnya bagi anak muda yang sering galau. Walaupun secara substansi hampir nol, buku-buku sejenis itu mampu mempengaruhi banyak otak dan tindakan di luar sana. Tadinya, saya terheran-heran, mengapa jenis buku yang isinya merupakan pengulangan, repetisi, dari berbagai sumber yang disarikan, bisa menjadi buku best-seller . Dan anehnya lagi, orang begitu bangga dengan buku-buku seperti itu...

Ayat Al-Qur'an Yang Tercecer-Cecer

Saya sedih sekali setiap ada tulisan, terkhusus artikel, yang dengan cerobohnya mengambil ayat Al-Qur'an untuk membela logika yang digunakan si penulis, demi sebuah topik besar yang berpotensi mengaburkan makna Islam. Saya tidak tahu bagaimana kondisi agama lain, mungkin ada juga yang seperti ini. Saya tahu saya bukan ahli tafsir, tapi saya tahu bagaimana penulis membangun logika, argumen beserta konklusi di tulisannya. Mengerikan betul rasanya, melihat ayat Al-Qur'an yang turun beserta konteks kelahirannya seakan "diperkosa" untuk kepentingan penulis. Jujur saja, saya resah dengan gaya penulisan seperti ini. Wajah Islam terlihat penuh dengan kebencian. Mengkafir-kafirkan, menjelek-jelekkan dan segala atribut provokatif rasanya akrab sekali dengan Islam. Saya, mungkin juga anda, khawatir wajah Islam terdistorsi dengan tulisan-tulisan seperti ini. Padahal, kalau kita teliti cara berpikir penulisnya, kita akan temukan error disana sini. Anda bisa bayangkan bagaima...

Komoditas Baru Kapitalisme

Saya bisa memaklumi apabila manusia melakukan pertukaran setiap harinya. Saya juga masih bisa maklum kalau pertukaran itu berdasarkan barang yang riil. Kapitalisme memang terbangun berdasarkan kebutuhan pertukaran itu, terutama pertukaran modal dalam bentuk barang dan jasa.  Tapi, belakangan saya agak terheran-heran dengan kapitalisme. Saya kira, sepahit-pahitnya kapitalisme, manusia-lah yang jadi pelakunya, sekaligus korbannya. Perkiraan saya salah. Kapitalisme menjual segalanya yang bisa dijadikan modal.Ya, segalanya yang ada di bumi, terlihat maupun tidak.  Mungkin, karena bosan dengan barang dagangan yang selalu terlihat, kapitalisme mulai menjual barang yang tidak terlihat. Bukan barang memang, tapi apa namanya kalau dipertukarkan? Maka lahirlah acara-acara televisi dan film yang mistis, yang penuh dengan sosok setan mengerikan, yang ironisnya, digila-gilai masyarakat. Ada apa dengan masyarakat kita?  Dahulu, segala yang mistis diperlakukan spesial. Gene...

Renungan Senin Warga Jakarta

Terima kasih internet dan socmed . Berkat kalian, saya jadi tahu semesta renungan di Jakarta. Dan ini menarik sekali untuk diikuti, bukan apa-apa, karena saya salah satu yang menyumbangnya. Semesta renungan Jakarta, mungkin begitulah kalau setiap renungan manusia Jakarta itu dikristalkan, dibendakan. Saya pastikan, kita akan terkejut melihatnya. Ada yang seneng banget, ada yang ngenes banget sampai ada yang biasa-biasa aja. Ya namanya juga renungan, sah-sah saja kan orang merenung apa saja tentang hidupnya? Saya tuh merasa Socmed ndak banal-banal amat, kadang. Kadang spiritual juga. Saya suka melihat timeline Twitter, misalnya , karena kadang isinya adalah curahan hati yang jujur, tulus dan apa adanya. Nah, dari situ, saya paling suka merhatiin renungan orang lain tentang Jakarta, kota yang sangat digilai masyarakat se-Indonesia, sampai se-curut-curutnya. Kalau jawabannya adalah ya, mungkin kita bisa sebentar sepakat untuk sampai pada konklusi bahwa tiga renungan ini yang ...

Ngapain Setelah Lulus?

Menjelang akhir-akhir perkuliahan, anda mungkin seringkali mendengar " kapan lulus ?" yang biasanya disertai dengan " kapan nikah ?" Santai saja. Jangan dianggap serius, itu basa-basi kok.  Basa-basi tapi nyelekit juga... Saya belakangan perhatikan beberapa lulusan yang saya kenal. Setelah lulus nggak langsung kerja juga kok. Biasanya, ada post kuliah syndrome gitu. Biasanya sih, semoga saja saya dan anda ndak. Gejala post kuliah syndrome ini agak ngeri ya. Males-malesan, ngelamar kerja, dan males-malesan lagi. Yah, kadang juga nyari beasiswa. Siapa tahu dapet, lumayan kan.  Dari observasi sekilas saya itu, saya bisa konklusikan tantangannya bagi kita, para mahasiswa tingkat akhir, bukan lagi terletak pada "kapan lulus?" tapi pada " mau ngapain setelah lulus ?". Saya pernah baca tulisan pengantar Pak Menteri BUMN kita, Dahlan Iskan, yang isinya pidato kelulusan mahasiswa. Saya lupa Universitas apa. Tapi intinya adalah beliau diberi...

Karena Pasar Hidup 24 Jam

Sore itu, saya menghadiri seminar Liberalisme. Menarik sekali acaranya, menghadirkan filsuf Mas Rocky Gerung dan 3 pembicara lain yang juga insightful. Mereka bicara tentang kemerdekaan. Mendengar liberalisme, apa sih yang ada di kepala kita? Apakah liberalisme begitu menyeramkannya, atau menjijikkannya, sehingga beberapa orang memilih sama sekali menutup hikmah dari liberalisme? Saya perhatikan liberalisme dikupas dari berbagai perspektif, mulai agama sampai ekonomi. Salah satu pembicara dari Fakultas Ekonomi, Mas Berly, memaparkan sejarah perkembangan pemikiran liberalisme. Filsafat Ekonomi mungkin tepatnya. Mulai dari Adam Smith dengan Wealth of Nations nya (bukan Wealth of Individual/Family lho judulnya) sampai Frederik Hayek yang mempelopori neoliberal. Seru sekali memang membahas pemikiran orang-orang ini, selain pemikiran tersebut memang mempengaruhi secara langsung kualitas hidup jutaan umat manusia.  Saya tidak begitu tertarik liberalisme dari sisi agama (Isla...

Sang Penafsir

“ Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya" - Pramoedya Ananta Toer Saya terheran-heran - layaknya pembukaan ala Comic Stand-Up Comedy di Indonesia - melihat kondisi sosial di era socmed . Semua orang menjadi komentator. Semua orang berlomba menafsirkan kehidupan. Ini sudah hukum alam rasanya.  Saya jadi rindu masa kecil tanpa internet. Saya tidak pusing-pusing membaca seluruh penafsiran tentang kehidupan, dari yang banal sampai analitik. Lagipula, saat saya kecil saya tidak banyak membaca dan mendengar penafsiran orang lain, paling-paling, penafsiran kedua orang tua dan guru ngaji saya yang benar-benar menyejukkan. Tapi, saya rindu masa itu.  Saya rindu masa-masa, entah pernah terjadi atau belum, pemuka agama Islam yang berkualitas menjadi sumber penafsiran. Andaikata saya atau anda gagal menangkap penafsirannya pun, toh penafsiran kita didapatkan dari sumber yang berkualitas. Lha sekarang?  Bukan otoritas saya sih untuk melara...

Islam, Pembangunan dan Klaim Atasnya

Tulisan ini adalah keluaran dari berputar-putarnya isu dalam skripsi saya. Jangan mengharapkan wacana mainstream, dominan atau terbaru dari tulisan ini. Dimuat karena tujuan iseng saja, hehehe... Sebenarnya, ketertarikan saya terhadap isu Islam dan pembangunan baru belakangan ini. Walaupun saya harus akui, pikiran saya seringkali terusik sedari awal kuliah oleh klaim-klaim intelektual Barat, seperti Weber, yang melihat Islam sebagai penghambat pembangunan. Weber mencapai konklusi ini karena menurutnya, Islam tidak memiliki karakteristik yang diperlukan untuk pembangunan/kapitalisme. Lho, kok bisa ?  Dari kajian Weber terhadap Islam itulah lahir puluhan, mungkin ratusan, kajian intelektual Barat tentang Islam. Ada yang menolak pendapat Weber, ada yang setuju dengan menambah-nambahi argumennya. Dari perdebatan ini, kadang saya terpingkal-pingkal sendiri. Ya, saya terpingkal-pingkal. Bukan karena saya melihat betapa lucunya argumen-argumen tersebut tetapi juga karena saya tid...

Tentang Bahasa dan Ranahnya

Rasanya, tiap bahasa tidak pernah berdiri sendiri, ia berfungsi mewakilil ranah sosialnya.  Terdapat suatu permainan, suatu kode, atas dunia sosial yang diwakili oleh bahasanya. Apabila ingin menguasai suatu ranah, katakanlah kapitalisme dan bisnis, kuasailah bahasa dan kata-kata di dalamnya.  Kuasailah bahasa turunannya seperti investasi, entrepreneurship dan tentu saja, modal. Apabila berada dalam ranah politik, kuasailah bahasa pembangunan dan rakyat. Karena memang disitulah letak permainannya, letak wacana yang membentuk kenyataan sosial. Feel for the game , kata Bordieu. Mereka yang sudah dapatkan feel itu, adalah mereka-mereka yang berkuasa di ranah yang diincarnya. Jangan mengharapkan menguasai suatu ranah tanpa menguasai wacana yang ada di dalamnya. Belakangan, saya suka sekali membaca penjelasan struktur sosial ala Bordieu. Ia membuat struktur terlihat nyata dan riil. Kalau saya tidak salah memahami, struktur adalah gabungan dari ranah-ranah di masyaraka...

Instan

Mengharapkan hal-hal yang diinginkan terkabul dalam waktu yang relatif pendek juga dengan usaha yang biasa-biasa aja/kurang keras. Seberapa banyak disana yang berlaku seperti ini. Berlaku menyalahi hukum alam. Berlaku dengan prinsip ekonomi. Sedikit usaha.