Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2013

Realitas

Dari sekian tradisi Sosiologi yang unik, salah satunya adalah kritis dan debunking /pembongkaran.  Tapi, kritis dan pembongkaran itu hanya terbatas pada struktur ciptaan. Belum menyentuh realitas transendental dari masyarakat. Masih-kah Sosiologi memiliki tradisi tersebut? Adalah rasionalisme yang menggerakkan semangat keilmuan Sosiologi. Dengan rasio, ditangkaplah kebenaran. Ditemukanlah teori yang menjelaskan gerak-gerik manusia. Sayangnya, perhatian berlebih pada rasio ini, pada empirisme ini, telah menina-bobokan masyarakat dari sumber pengetahuannya yang lain. Keyakinan.  Keyakinan akan adanya Tuhan ini-lah yang oleh Sosiologi dibahas dalam batasan yang jelas. Sebagai ilmu pengetahuan, Sosiologi akan membatasi dirinya dalam upaya melihat realitas ultim ini. Bagi Sosiologi, agama beserta wahyunya hanyalah sekedar mitos, mungkin dalam kerangka yang lebih optimis sebagai pemerkuat kebersamaan masyarakat. Sosiologi tidak melihat kebenaran di luar struktur kemasu...

Pembangunan

Tema ini terus bergulir, apapun dan bagaimanapun cara ahli merusak makna baiknya. Citra pembangunan, yang digempur beberapa sisi oleh para pemikir postmodern itu, seakan terus memburuk. Seakan tiada ruang bagi agen pembangunan (jangan katakan pemerintah) untuk memperbaiki keadaan. Padahal, tujuan pembangunan kan baik? Ternyata, kehidupan sosial tidak bisa direduksi sebegitu indahnya pada tujuan. Ia menyimpan cara (means) yang dalam beberapa waktu memang mempengaruhi masyarakat yang hendak dibangun. Sosialisme memiliki tujuan yang amat mulia, sangat amat mulia: social justice dan equality . Tapi caranya? Di Kamboja era Pol Pot, diberlakukan-lah yang disebut social engineering , perekayasaan sosial, dengan paksaan negara yang totaliter menyuruh (salah satunya) dokter-dokter menjadi petani desa. Rekayasa sosial ini tentu merugikan kepentingan beberapa kelas, sekaligus, menguntungkan beberapa kelas pada satu waktu. Intisarinya adalah, jangan melupakan cara dalam pembangunan, se...

Wallerstein

Kajiannya yang kontroversial itu telah membuka cakrawala pemikiran ilmu sosial, yang tanpa disadari, telah memendam bias-bias tradisional teori sosiologi. Wallerstein dengan metode analisa sejarah yang menyeluruh telah memampukan pembacanya untuk membuka kemungkinan kerjasama lintas ilmu, dalam hal ini sosiologi dan ilmu sejarah. Sejarah yang nomothetic dan Sosiologi yang ideographic , menurut Wallerstein, harus mampu memberikan penjelasan atas fenomena masyarakat secara menyeluruh. Dengan kata lain, Wallerstein mengkritik Sejarah karena terlalu memberikan perhatian pada periode kesejarahan sementara Sosiologi terlalu sibuk dengan pola-pola umum dalam masyarakat.  Lelah betul memang untuk mengerti Sosiologi.  Tapi karenanya, menjadi kenikmatan sendiri. Wallerstein memberikan beberapa pemikiran yang sekiranya menjadi bahan renungan bagi negara-bangsa kontemporer. Salah satu pemikirannya yang mencolok adalah bahwa negara sosialis hanyalah secuil dari luasnya siste...

Ideologi

Perdebatan kiri-kanan memang tidak pernah ada habisnya untuk dibahas. Selalu ada tafsiran baru yang menarik dan unik dari konteks wilayah dimana ideologi tersebut diperjuangkan. Tapi, apa betul? Masihkah ada ideologi dalam percaturan politik-ekonomi-sosial dunia? Pertanyaan polos namun menerobos. Kanan dengan paham konservatisnya yang menganggap perlunya stratifikasi sosial untuk bangunan masyarakat adalah penjelasan yang naif. Kiri dengan paham revolusionernya dengan anggapan bahwa kanan terlalu bias kapitalisme, yang jelas-jelas menjadi musuh utama masyarakat dunia, juga merupakan penjelasan yang utopis. Dari dua hal tersebut, sudah tercipta diskursus yang tiada henti-hentinya. Diskursus, yang dipermainkan para elit untuk mengelabui massa secara luas. Gramscian sekali. Bukan, diskursus yang digunakan agar masyarakat mau dan mampu menjalankan peran dan fungsinya dalam sistem sosial yang dinamis. Parsonian betul rupanya. Bukankah begitu bekerjanya diskursus? Ham...