Postingan

Tell The Truth Even The Sky Falls

Mencaritahu, mendalami, mengatakan, memverifikasi, mengupayakan, berjihad, atau apapun namanya itu yang berkaitan dengan kebenaran adalah hal yang paling mulia di muka bumi. Dikatakan mulia karena tidak sembarangan orang dapat melakukannya. Ada level-level orang yang mampu untuk mengatakannya dengan mudah karena terbiasa hidup dengan kebenaran, dengan prinsip-prinsip yang dianut namun ada pula yang amat susah karena sehari-harinya hidup dengan ketidakjelasan pegangan.  Banyak sekali alasan kita untuk tidak mampu mengatakan kebenaran meskipun mengetahuinya bahwa ia ada disana dan ia harus disampaikan ke semua orang. Entah karena tidak enakkan, kurang tenaga keberanian, atau sekedar tidak ingin dibenci orang, kehidupan manusia dewasa menuntut kita untuk banyak mempertimbangkan hal-hal sebelum disampaikan. Jangan sampai, alih-alih mengatakan kebenaran agar tercapai kebaikan, justru mendatangkan keburukan. Sudah banyak contohnya, dan itu adalah upaya yang justru kontraproduktif te...

Ramadhan dan Kenangan Masa Kecil

Begitu banyak yang sedih, atau sekedar nostalgik, begitu Ramadhan datang menghampiri. Bisa kita lihat secara langsung maupun online pengakuan-pengakuan mereka yang sedih karena Ramadhan datang. Bila masih belum dapat feelnya , sila putar kembali lagu-lagu Haddad Alwi, yang mengiringi Ramadhan anak-anak bocah se-Nusantara generasi 90-an seperti saya. Bagaimana rasanya?  Memang, upaya itu terlalu generalisir situasi Ramadhan. Tapi, kurang lebihnya ada yang merasakan sama dengan saya bahwa hanya dengan mendengar lagu-lagu religi, maka memori akan momentum itu akan muncul dengan sendirinya. Dan kita hanya bisa tersenyum, betapa waktu dan momentum yang tidak abadi itu telah berlalu meninggalkan semuanya dengan jejak perasaannya masing-masing. Mengapa Ramadhan nostalgik? Adalah pertanyaan yang saya coba perjelas disini.  Banyak yang menjawab karena kebersamaan itu tidak ada lagi. Apapun itu kebersamaannya, bisa kebersamaan keluarga (ini yang paling penting), kebersamaa...

Orang-Orang Yang Mengajak Buka Bersama

Mengherankan saya melihat masih ada banyak sekali orang yang masih mau repot-repot mengajak buka bersama di bulan Ramadhan. Melihat percakapan di Whatsapp , yang isinya omong kosong dan tidak ada poin pentingnya kecuali melingkar-lingkar saja. Tidak ada kejelasan, tidak ada mufakat, semuanya berbeda pendapat tetapi setuju bahwa bukber harus diadakan. Apa namanya ini?  Belum selesai disitu, keanehan-keanehan ajakan bukber ditambah dengan selalu adanya orang-orang yang rela berlelah-lelah meladeni ketidakjelasan itu. Bukan bermaksud untuk nyinyir, tapi bukankah melelahkan meladeni permintaan yang terlalu banyak itu? Ada yang mau hari ini, tetapi ada yang tidak bisa, maka terpaksalah obrolan diulang lagi dari awal. Ini lucu karena saya tidak bisa membayangkan diri saya ditendang kesana kemari oleh wacana abstrak itu. Tapi, dunia ini adalah, dan memang akan selalu begitu, tempat keheranan berada. Ada saja orang-orang yang mau, ada saja. Percaya sama saya.  Bagus memang ...

Jawaban Itu Bernama Jamie Vardy

Sudah lama saya menunggu kedatangan tipikal striker seperti Jamie Vardy. Cepat, mandiri dan tajam. Ia bisa menggiring bola sendirian dari break yang sungguh secepat kilat. Striker sepertinya tidak butuh gaya bermain yang lambat layaknya Barcelona ataupun Bayern Munchen: Ia hanya butuh satu atau dua sentuhan (mungkin ia tidak betah tiga kali menyentuh bola) untuk menembak ke gawang. Ia seperti tidak peduli apa yang akan terjadi kemudian. Kalau gol syukur, kalau tidak pun syukur. Yang penting, menghasilkan tembakan. Apa yang terjadi kemudian biarlah terjadi.  Inilah yang perlahan hilang dari striker sepak bola modern.  Mereka terlalu banyak menunggu. Menunggu momentum agar memastikan bola yang ditembaknya berhasil masuk ke gawang. Memang, ini memperbesar peluang secara akurasi, tapi tidak secara momentum. Dan momentum inilah yang mahal dalam sepak bola modern yang penuh dengan pressing ketat. Vardy adalah salah satu favorit saya, di samping Luis Suarez yang saya benci k...

Cari dan Temukan Passionmu Adalah Gagasan Usang

Sudah tak terhingga jumlah motivator yang dengan omong kosongnya memberikan ceramah akan pentingnya passion dalam bekerja. Omong kosong, totally bullshit. Beberapa omong kosong memang lebih mudah populer di era banal sekarang ini. Jangan mudah percaya bahwa menemukan passion, lalu anda akan begitu saja berkembang dan bahagia. Tidak sesimpel itu.  Bukanlah menemukan passion itu sendiri yang penting, tapi merasakannya. Passion bisa berganti bergantung mood, apalagi generasi sekarang adalah generasi moody. Hari ini bisa passion sekali mengerjakan sesuatu, esoknya belum tentu. Hal inilah kritik terbesar bagi penganut passionism . Yang lebih penting adalah merasakan adanya passion, feeling passionately . Perasaan ini haruslah terpuaskan oleh pendapatan yang memadai, lingkungan kerja yang asyik dan jenjang karir yang jelas.  Bayangkan mengerjakan passion anda tanpa melihat konteks di balik passion itu. Gaji/pendapatan anda tergolong laughable , lingkungan kerja tidak asyik ...

Workliday

Alhamdulillah. Belum lama ini, saya berkesempatan mengunjungi negeri jiran untuk kedua kalinya. Kesempatan yang langka sekali di tengah kesibukan rutin yang mematikan peluang untuk sering berjalan dan berpikir mengamati duniaNya.  Berbeda dengan pertama kali mengunjunginya, kunjungan kedua terasa hambar. Kering, tanpa pemaknaan, tanpa kedalaman. Kunjungan pertama begitu dinikmati, juga begitu besar kemungkinan untuk bisa memaknai arti hidup melalui perjalanan. Mungkin karena ini dilakukan pasca melakukan tugas dinas yang melelahkan itu, mungkin juga karena perbedaan suasana siapa yang menemani perjalanan itu. Yang jelas, Singapura dan Malaysia terasa kering tanpa dapat diketahui penyebabnya.  Meskipun begitu, setiap perjalanan memiliki memori dan keunikannya masing-masing. Willayah yang saya kunjungi berbeda dengan lima tahun lalu, sehingga berbeda pulalah feeling saya terhadap perjalanan. Kali ini, saya merasa bahwa saya bisa dan lebih mungkin untuk hidup disana diba...

Taktik Modern adalah Tentang Penciptaan Chaos

Sebagai pseudo-analyst taktik sepakbola modern, saya terkagum-kagum melihat pertarungan taktik para pelatih jenius level dunia. Tulisan ini adalah keinginan saya untuk mengamati sepakbola sedari taktiknya, bukan sekedar kehebatan skill para pemainnya. Terinspirasi dari pertandingan terbaik semalam antara Juve vs Bayern, saya akan mencoba menuliskan pemikiran saya atas taktik sepakbola modern. Tulisan ini akan berkelindan di antara kata-kata berikut: Pressmachine, transisi dan Organized Chaos.   (Saya tidak bisa bersantai menonton Juve vs Bayern karena amat menegangkan. Pertarungan taktik, jumlah gol dan perang fisikal disajikan secara bersamaan. Mungkin akan lebih seru dibanding final Liga Champions itu sendiri. Wajib tonton.) Memaksa Chaos di Lini Belakang  Nampaknya taktik ini begitu mainstream belakangan. Melakukan full press hingga titik terdalam pertahanan lawan adalah strategi ampuh untuk mencuri gol, khususnya di menit-menit awal ketika kaki-kaki masih bel...