Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2012

20

Mari berharap, untuk penjara yang lebih nyaman. Karena manusia tidak bisa lepas dari penjara.  Mari berharap, untuk jiwa yang lebih merdeka. Karena merdeka adalah segala-galanya.  Mari berharap, untuk nanti yang lebih misterius. Karena misteri mempertahankan segala yang baik.  Mari berharap, untuk cinta yang sulit dijangkau. Karena manusia akan sadar setelahnya bahwa ia mencinta.  Mari berharap, untuk harapan yang lebih manusiawi. Karena harapan menjelaskan kehidupan. Mari berharap, untuk keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. 

Cinta

Banyak yang mendefinisikan makna cinta. Agar manusia tahu bahwa ia sedang jatuh cinta, atau setidaknya menjadi patokan/standar umum bahwa cinta itu ada dalam diri manusia. Menafsirkan cinta itu apa adalah suatu bentuk keberanian manusia. Apalagi jika hendak merumuskan, mendefinisikannya. Nyatanya, manusia memang paling berkuasa untuk menentukan, untuk menamai dan menjelaskan hal, gejala, perasaan, apapun lewat bahasa. Lewat bahasa semuanya dijelaskan dan dipahami. Begitu juga cinta, yang tidak berhenti ditafsirkan lewat bahasa puitis, gombal maupun bahasa abstrak: yang hanya diketahui oleh mereka yang mengalaminya. Kalau begitu, bukankah individu yang menentukan cinta yang umum lewat bahasa juga menentukan masyarakatnya? Dengan asumsi, hanya dengan cinta-lah masyarakat modern bertahan dan dipertahankan. Ini memang terlalu berat sebelah dengan mengindahkan kemampuan, bahkan otoritas, dari agen semata. Dari individu yang bebas bertindak, bebas mencinta.  Satu hal tentang cint...

Dewasa

Tulisan ini tidak bermakna apa-apa, andai manusia tidak misterius lagi.  Banyak yang berkata bahwa "Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan". Padahal, menjadi tua itu juga pilihan. Manusia bisa memilih untuk mati muda, agar tidak tua. Jangan-jangan, yang pasti itu menjadi dewasa.  Memang tidak pantas untuk menuliskan lebih lanjut arti tentang kepastian akan makna keduanya. Keduanya dapat ditafsiri secara berbeda, yang berarti ada pluralitas kepastian dari makna yang dikembangkan, dari makna yang dikonstruksikan masyarakat mengenai tua dan dewasa.  Dari logika di atas, dapat diterjemahkan bahwa tidak ada kepastian dewasa (mungkin juga tua) bagi laki-laki. Bila hendak mengikuti logika "Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan" maka setua apapun umur manusia, tidak dapat menjamin ia bahwa ia akan menjadi dewasa. Dalam arti lain, manusia bisa tetap menjadi kekanak-kanakan. Bukankah kekanak-kanakan merupakan oposisi biner dari term dewasa?...