Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2012

Hukum

Buatlah hukum, agar manusia dapat bertindak sesuai dengan peranannya. Awasi peraturan-peraturan yang dilanggar, tuliskanlah dengan tujuan hidup ini normal berjalan apa adanya. Jalankan sanksi yang tegas agar mampu memberi efek jera, agar yang lain takut melanggarnya. Buat, awasi, dan jalankan! Tapi hukum melampaui segalanya. Ia lupa darimana dan hendak kemana ia dilahirkan. Ia justru membunuh ibu kandungnya sendiri dengan kejam, hina dan alfa. Ia membuangnya ke lautan luas agar tiada lagi mengenal ibu yang melahirkannya. Dengan begitu, ia dapat berdiri kokoh dan tegas. Ia autentik, otoriter sekaligus absolut. Dengan legitimasinya, ia tak kenal ampun. Ia akan mencederai siapa hendak melawannya. Hukum terus berdiri sendiri. Angkuh. Ia menggenggam manusia! Ia tertawa di kursinya yang empuk, sembari menyuruh kaki-tangannya bertindak terhadap sesiapa yang melanggar aturannya, sedikit-banyak, ringan-parah kadarnya. Ia adalah raja yang tuli sekaligus buta. Atau memang sengaja matanya...

Ibu

Suatu hari di ketinggian, anak laki-laki itu rindu rancu. Rindu yang jarang menggapai singgasana kuasanya. Hati dan perasaannya. Rindu yang mematikan. Mati dalam hidup; hidup dalam mati. Sendirian, ia duduk. Setengah meracau, ia sedang kacau. " Memang tugasmu untuk tahu aku kacau ?" Berulang-ulang ia katakan itu. Lebih dari delapan kali per jam. Juga tatapannya yang kosong akal serta emosi. Yang biasanya tidak biasa. Tak pernah ia bermuram durja, bukan berarti ia tak punya hati. Hanya memang mungkin belum. Hanya memang mungkin baru kali ini. Hanya memang mungkin, ia tak pernah jujur pada nuraninya.  Berbohong pada nurani, adalah penyiksaan mahaberat manusia.  Ia terus kacau. Hingga tak sadar satu halaman kosong itu ia coret-coret. Hati-hati sekali. Sebenarnya, ribuan kata hendak ia tuangkan dari kreatifnya. Tapi ia kacau, ia kacau hingga ia membiarkan ribuan kata itu membeku, mati, tanpa makna. Ia hanya menuangkannya sedikit. Sedikit saja, di tengah arus keti...

Sedih

Manusia harusnya bahagia karena Tuhan ciptakan kesedihan. Tanpanya, bahagia tidak eksis. Bahagia, entah sebagai perasaan terjujur atau sekedar konsep buatan tanda berkuasanya manusia, tidak akan manusia rasakan tanpa eksistensi oposisi binernya. Manusia hanya bisa bahagia, bila sedih telah mereka enyam. Sebagai bagian dari kehidupan, sedih dan bahagia adalah manusia itu sendiri.  Atau, kesedihan bukanlah oposisi biner dari bahagia itu sendiri? Mungkinkah manusia merasa bahagia dan sedih dalam satu waktu?  Kalau begitu, manusia harus mengakui kelemahan kedua konsep tersebut. Manusia harus kembali pada perasaannya: untuk mengatakan bahwa bahasa/teks telah gagal menjelaskan perasaan manusia, yang sejatinya selalu jujur, apa adanya dan polos.  Tapi, bagaimana manusia bisa membagikan perasaan kepada yang lain tanpa bahasa/teks? Bagaimana manusia dapat saling berempati, saling berduka/suka cita, saling merasakan, bila manusia tidak bisa menjelaskan lalu membagikan ...