Teori

Audi, vide, tace situ vis vivere. Dengar, lihat dan diamlah jika engkau ingin hidup...


Manusia. Manusia hidup berdampingan. Sibuk mengatur kehidupan. Konstan menghasilkan masalah. Juga berusaha seterusnya mencari solusi atas masalah yang dibuatnya sendiri. Sosial. 

Sepenuh hatinya, manusia bisa mencintai juga membenci. Atau mencintai sekaligus membenci. 

Gejala, fenomena, masalah, juga keunikan kehidupan bersama ini menghasilkan pemikiran-pemikiran hebat dari manusia. Pemikiran sebagai tanda kehebatan dan keutamaan manusia sebagai satu bentuk makhluk hidup. Salah satu darinya, Rene Descartes, bahkan sangat mengutamakan pikiran. Siapa yang tak tahu kata-kata masyhurnya "Cogitu Ergo Sum". Kata-kata yang seringkali dijumpai pada mereka-mereka kaum yang mengutamakan pemikiran mereka. Tidak ada manusia, tanpa pemikirannya. 

Dalam kehidupan nyata, ada manusia-manusia -yang katanya- terlahir beruntung dan kurang beruntung. Kaya dan miskin. Atas dan bawah. Ya boleh lah ada -yang katanya juga- menengah (mungkin ini yang paling beruntung).  Yang di bawah dikuasai, yang di atas berkuasa. Yang di bawah kosong, yang di atas punya modal. Proletar. Borgeoisie. Begitu nama kerennya. Manusia yang di atas cenderung mempertahankan kedudukannya (status quo) dengan menggunakan cara-caranya, entah licik, cerdas, hegemoni, apa pun itu. Yang di bawah? Ya nerima. Yang di bawah seakan menerima diajarkan bahwa elemen kehidupan memang seperti itu. Semuanya berfungsi. Semuanya berperan dalam kehidupan. Inilah Struktural Fungsional, yang menurut saya bertanggung jawab terhadap lesunya masyarakat bawah.

Ya kalau begitu, tapi?

Bagaimanapun, kelas-kelas tersebut tidak berhenti begitu saja. Kehidupan manusia itu kompleks, karena mereka memiliki kehendak bebas untuk berpikir, bertindak, ataupun ber- yang lainnya, yang menunjukkan manusia memang tercipta sebagai makhluk yang aktif. Itulah yang diungkapkan beberapa manusia dengan satu teori besar, interaksionisme. Dengan begitu, perubahan tinggal menunggu waktu saja. Kuasa struktur atas dirinya memang erat, tapi tak serta-merta mematikan pikiran, jiwa dan nurani manusia. Manusia mencari bentuk kehidupan terbaik untuknya (walaupun hanya beberapa sepertinya). 

Lantas, bagaimana dengan struktur yang memiliki fungsi dan peranannya tadi? Struktur yang sudah mantap dan dipatuhi semua manusia sebagai bagian kehidupan? Sebagai peranan dirinya sendiri dalam kehidupan bermasyarakat? 

Lelah. Letih. Mungkin struktur yang ada dan dijunjung tinggi manusia sudah terlalu letih menopang kehidupan manusia. Manusia tidak mau diatur. Manusia menginginkan peran dan fungsi yang lain. Atau justru manusia-nya yang letih menopang struktur? Faktanya, kehadiran struktur sangat bersifat temporer. Manusia melahirkan struktur untuk kemudian mencaci-makinya, menikamnya lantas membunuhnya. Manusia menyalahkan struktur yang ia ciptakan sendiri. Manusia memang unik, sekaligus kompleks.

Sangat disayangkan, penjelasan mengenai keletihan keduanya (struktur dan manusianya) melahirkan jawaban yang kejam. Struktur yang telah tua dan usang menahan beban kehidupan lantas perlu diperbaiki, bahkan diganti dengan yang baru. Yang lebih energik. Yang lebih muda. Juga yang lebih mantap. Lost one, fix or find another one. 

Bukan, bukan. Saya hanya terlintas untuk melihat konflik sebagai jawabannya. Entah.

Inilah hebatnya manusia. Bahkan konflik pun bisa dianggap positif. Tapi, memang begitu adanya. Manusia terus-menerus mencari bentuk kehidupan terbaik untuk bisa dihidupi bersama-sama. Manusia mencipta struktur, mencipta lagi, dan lagi. Begitu juga dengan konflik. Manusia mencipta konflik, lalu disimpan sementara, kemudian digunakan kembali, atau justru melahirkan konflik baru, yang lebih potensial merubah tatanan kehidupan tadi. Tujuannya jelas, merubah yang kurang enak, kurang baik, kurang mantap ke arah sebaliknya. Dengan konflik, perubahan tidak lagi sekedar ide, tapi juga realita. Perubahan struktur tidak lagi diimpikan, tapi juga dilakukan. Perubahan sosial!

Beban juga menjadi manusia. Tak ada henti-hentinya. 

Tapi, apa benar begitu manusia?

Apa manusia tidak ada henti-hentinya? Rasanya, saya tidak manusiawi menyebut manusia seperti itu. Toh, manusia bisa memilih untuk tetap bahagia dengan tatanan yang kurang baik, kurang mantap dan kurang manusiawi. Saya merasakan sendiri. Di negara saya, di tempat belajar saya, juga di beberapa arena kehidupan lainnya. Tapi manusia bisa memilih untuk bahagia, walaupun konsep bahagia ini sangat menekankan pada sudut pandang individu. Sebagian mungkin memilih untuk lebih bahagia, yaitu dengan membahagiakan yang lain: Membahagiakan mereka yang belum bahagia. Memberikan solusi atas usangnya struktur serta ketidakmampuan sistem membahagiakan manusia. Ini juga memberikan arti kebahagiaan tersendiri. Memperjuangkan perubahan, demi kehidupan yang lebih baik. Begitu kata banyak dari mereka. 

Katanya, ya hanya katanya. Hidup itu penuh dengan dialektika. Saling tubruk menubruk ide hingga lahir-lah ide baru, yang murni dan segar. Manusia melahirkan ide bagi kehidupan. Begitu banyak ide. Ide-ide yang membumi atau melangit, saya tidak tahu. Ide-ide tersebut lantas dikonstruksikan ke arena kehidupan yang kompleks untuk kemudian dijadikan nyata. Sayangnya, manusia sangat kreatif, imajinatif. 

"Cogitu Ergo Sum" ala Descartes, sedikit maupun banyak, memberikan pemahaman bahwa manusia setelahnya adalah manusia yang baru dikatakan hidup apabila ia berpikir. Manusia hanyalah seonggok daging, ya mungkin daging berperasaan, tanpa ada pikiran maupun pemikirannya. 

Manusia sanggup melahirkan ide yang berbeda. Bukan hanya berbeda, namun juga berlawanan. Ini pula yang saya coba pahami dari beberapa pemikiran Sosiolog, yang handal-handal itu. Struktural Fungsional (Durkheim dan lainnya), yang mengutamakan integrasi sosial, tertib sosial dan berbagai keteraturan hidup bersama manusia, belum mampu menjelaskan perubahan sosial (untuk tidak mengatakan gagal). Mereka terlalu mengidam-idamkan bentuk sempurna kehidupan manusia, bentuk paripurna dari  tersistematisasinya kejahatan manusia. Tatanan kehidupan yang ada dan berlaku seakan diperlakukan sebagai nasib dan sudah ada sebelum manusia itu ada. Jadi, manusia hanya tinggal mematuhi tatanan tersebut. Dan ya, hasilnya manusia dapat hidup damai, tertib dan teratur. Apapun posisinya dalam strata sosial. Apapun perannya dalam struktur sosial. 

Disana, manusia lainnya mungkin menertawakan ide dahsyat saudaranya. Struktural Fungsional ide yang sangat baik memang, namun manusia bisa bersikap kritis imajinatif sehingga ide tersebut dianggap tidak lagi baik. Ide tersebut bukan yang terbaik. Karena dikonstruksikan dengan tujuan baik, maka manusia menganggap itu baik. Padahal, caranya mungkin bukan-lah yang teradil, termanusiawi, terbaik. Marx adalah salah satu manusia itu.

Ia selalu berpikir bahwa terjadi ketidakadilan dalam kehidupan manusia. Salah satunya Class Struggle. Perjuangan kelas, pikirnya. Perjuangan antara kelas bawah melawan dominasi kelas atas. Perjuangan antara proletar yang tidak memiliki modal dengan borgeoisie yang berhamburan modal. Kelas bawah menuntut agar tidak terjadi ketidakadilan dalam kehidupan. Revolusi Sosial dan perubahan tatanan jalannya. Kesejahteraan manusia tujuannya. Dengan cara apa tatanan yang mantap terintegrasi dan mengakar pada tiap-tiap manusia itu dapat berubah dan diterima manusia itu? Konflik, merupakan harga yang tidak bisa ditawar. Perubahan demi kehidupan proletar - mungkin juga borgeoisie- yang lebih baik (sengaja saya menyebut proletar terlebih dahulu, tanpa alasan). 

Dahsyat sekali pemikirannya hingga saya percaya, bahwa hidup begitu adanya. Hidup tidak seindah yang dijanjikan struktural fungsional. Hidup manusia adalah arena pertarungan antara sesamanya. Homo Homini Lupus. Manusia ternyata menyimpan keinginan yang sekali-kali dapat diledakkan sehingga mengakibatkan perubahan tatanan kehidupannya. Dengan begitu, apalah arti integrasi? Keteraturan? Toh, menurut Marx, sejarah manusia adalah sejarah perjuangan kelas. Dari awal kehidupan ini bermula, manusia sudah terisi oleh kepentingan kehidupannya. 

Ya, sebagai manusia, kita bisa memilih untuk percaya atau tidak dengan ide sesama kita. Setuju atau tidak setuju. Pro atau kontra. Itulah nikmatnya kehidupan bersama ini. 

Teori-teori tentang kehidupan bersama tersebut dapat dianggap sebagai ide yang memberikan jawaban, alternatif, solusi atas kehidupan manusia. Dapat juga dianggap sebagai penjelas bahwa kehidupan memang begitu. Igauan, kegalauan, kekhidmatan manusia yang dilanjuti dengan alur pemikiran sistematis mampu menjelaskan fenomena kehidupan dengan batasannya, yaitu berpikir itu sendiri dan hidup yang singkat. 

Sayang sekali, Marx. Sayang sekali. 

Bahwa saya menulis ini, juga menunjukkan bahwa saya sedang berpikir. Atau mengigau. Atau galau. Yang kesemuanya menunjukkan bahwa saya -setidaknya menurut Descartes- manusia. 

Dan sebagai manusia, saya senang sekaligus benci dengan tatanan yang ada dan pernah ada. Jangan-jangan, teori atau ide orisinil manusia pun telah menjadi tatanan. Atau, teori maupun ide manusia adalah produk dari tatanan. Bagaimana dengan teori yang mampu membentuk tatanan?

Audi, vide, tace situ vis vivere. Tidak! Aku ragu manusia bisa hidup dengan jalan seperti itu. Tidak bisa seperti itu! Manusia tidak bisa!


Cogito Ergo Sum. Saya kagum dengan keragu-raguan. Saya menikmati serunya tubrukan ide. Untuk Rene Deschartes, dimana tanggung jawabmu! 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang