Bromo

Kesempatan itu datang juga. Kesempatan dalam kepenatan, kesempatan dalam kecintaan, kesempatan dalam kebingungan, juga kesempatan dalam pencarian. Gunung Bromo dan sekitarnya. 

Hidup bisa jadi jebakan mematikan. Hidup bisa jadi arena tanpa henti. Aktivitas sehari-hari yang baku, mantap, kaku, bahkan menjemukan mengikat erat. Kasihan sebenarnya, apa yang dicari? Mungkin disitu pula letak kenikmatannya. Tidak tahu. 

Satu hal yang pasti, alam adalah bukti keagunganNya. Sungguh, bagi kaum yang berpikir. 

Bergulat dengan kehidupan kota ternyata penuh dengan kepalsuan, kebobrokan, ketidaksadaran, yang menyebabkan pudarnya kemurnian, kespontanan, bahkan kelucuan. Singkatnya, saya merasa bosan terus di kota. Apalagi Jakarta. 

Bromo mengajari beberapa hal kepada saya bahwa hidup masih menyisakan ruang dan spasi untuk merenung dan bersantai. Melawan arah. Mencintai keindahan. Bahwa hidup tidaklah seburuk apa yang dikonstruksikan. Melalui alam Bromo ini saya diajarkan sedikit saja arti penting eksistensi maupun hakikat kehidupan. Bersyukur. 

Saya bukanlah tipe pecinta alam yang heboh. Walaupun sering heboh mengagumi alam. Termasuk Bromo, yang dengan keindahannya mampu membuat mata ini ingin terus berada pada kondisi segar. Pemandangan yang paling indah yang memampukan saya untuk terus mendaki hingga puncak tertingginya. Lagi, suatu pelajaran baru bagi saya mengenai arti kehidupan. Sampailah di atas, untuk melihat, mengalami, merasakan segalanya lebih indah. 

Kagum dengan kasih sayang yang begitu terasa di wilayah Bromo. Sepasang kekasih yang saling berpelukan. Erat, begitu erat. Aura yang mereka hadirkan begitu mendamaikan. Begitu berarti bahwa hidup ini memang untuk berbagi, bukan membenci. Berbagi dengan yang dikasihi: kekasih, keluarga,  teman dan semua insan manusia. "Kekuatan cinta akan membawa manusia pada perdamaian" setidaknya begitulah prediksi Jimmy Hendrix.

Menapaki bumi Bromo sama saja memandang dunia baru, juga dengan kacamata terbaru. Segala apa yang rusuh di kota, tidak terasa sama sekali. Segala apa yang kusam, tidak terlihat. Segalanya: bersih, sejuk dan mendamaikan hati serta pikiran. Mungkin, inilah sedikit petunjuk mengapa suatu ketika Nabi Muhammad  berpesan untuk hijrah. Mungkin, hanya mungkin. Karena hijrah membawa pembaruan, entah cara pandang, pengalaman, perenungan atau sikap.

Cerita tentang indahnya Bromo adalah cerita dimana kata tidak mampu lagi menjabarkannya. Biarkan indra kita berfungsi dan menikmati. Saya tidak berlebihan. Saya hanya menjelaskan apa yang indra saya rasakan, dan minta untuknya. 

Sayang sejuta sayang. Tapi rindu tetaplah rindu. 

Bromo memang tidak terjabarkan lagi bagaimana indahnya. Tapi, saya tetap merindukan Jakarta. Entah mengapa, saya begitu rindu Jakarta ketika saya justru amat membencinya. Juga, di tempat yang sangat syahdu  damai. Saya justru merindukan kekacauan, hingar bingar, kekisruhan dan kemunafikan yang setiap harinya dibungkus rapi di Jakarta. Saya merindukan aktivitas yang memaksa saya menyembah knalpot dalam keputusasaan masa kemacetan. Sangat merindukan udara kotor Jakarta dengan masyarakatnya yang serba dinamis namun statis, statis namun dinamis. Ternyata, saya sangat menginginkan, ya menginginkan, keramaian ditengah kesepian nan damai Bromo. 

Untukmu, alam: Bromo dan Jakarta. Saya adalah makhluk kadang-kadang. Mungkin, memang manusia begitu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang