Cinta
Banyak yang mendefinisikan makna cinta. Agar manusia tahu bahwa ia sedang jatuh cinta, atau setidaknya menjadi patokan/standar umum bahwa cinta itu ada dalam diri manusia.
Menafsirkan cinta itu apa adalah suatu bentuk keberanian manusia. Apalagi jika hendak merumuskan, mendefinisikannya. Nyatanya, manusia memang paling berkuasa untuk menentukan, untuk menamai dan menjelaskan hal, gejala, perasaan, apapun lewat bahasa. Lewat bahasa semuanya dijelaskan dan dipahami. Begitu juga cinta, yang tidak berhenti ditafsirkan lewat bahasa puitis, gombal maupun bahasa abstrak: yang hanya diketahui oleh mereka yang mengalaminya. Kalau begitu, bukankah individu yang menentukan cinta yang umum lewat bahasa juga menentukan masyarakatnya? Dengan asumsi, hanya dengan cinta-lah masyarakat modern bertahan dan dipertahankan. Ini memang terlalu berat sebelah dengan mengindahkan kemampuan, bahkan otoritas, dari agen semata. Dari individu yang bebas bertindak, bebas mencinta.
Satu hal tentang cinta adalah ia begitu lekat dengan masyarakat. Ia tidak sama, ia pluralis. Ia benar-benar dependen, bergantung dari bagaimana situasi sosial masyarakatnya berada. Dalam masyarakat modern, cinta sulit diartikan tanpa adanya laki-laki dan perempuan yang saling mengadu dan membagi perasaan dalam dunia yang selalu berwarna. Berbeda dengan cinta platonik, yang sama sekali tidak menyebut kata perempuan. Sama sekali cinta yang berbeda, bergantung dari kapan dan dimana kita ingin melihat dan merasakan apa makna cinta. Dan keduanya tetap romantis. Cinta tetap penuh dengan keindahan.
Pada laki-laki dan perempuan, apakah dengan mudah laki-laki mencintai sosok perempuannya dan perempuannya mencintai balik laki-lakinya? Apakah cinta sesederhana itu? Buat mereka yang menganggap cinta seperti itu, cinta memang sederhana sekali dan indah rasanya. Namun, cinta itu pluralis. Cinta mencintai antar manusia bisa saja merupakan cinta laki-laki kepada cinta yang ada pada perasaan laki-laki terhadap perempuan dan cinta pada cinta perempuan yang terus berkembang sepanjang waktu pada perasaan perempuan terhadap laki-laki.
Pada akhirnya, cinta memang tidak akan pernah perlu untuk dicari tahu maknanya. Ia akan terus hidup dalam diri manusia. Tugas manusia adalah untuk jujur bahwa mereka merasakannya, untuk kemudian mencintainya.
Komentar
Posting Komentar