Dewasa
Tulisan ini tidak bermakna apa-apa, andai manusia tidak misterius lagi.
Banyak yang berkata bahwa "Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan". Padahal, menjadi tua itu juga pilihan. Manusia bisa memilih untuk mati muda, agar tidak tua. Jangan-jangan, yang pasti itu menjadi dewasa. Memang tidak pantas untuk menuliskan lebih lanjut arti tentang kepastian akan makna keduanya. Keduanya dapat ditafsiri secara berbeda, yang berarti ada pluralitas kepastian dari makna yang dikembangkan, dari makna yang dikonstruksikan masyarakat mengenai tua dan dewasa.
Dari logika di atas, dapat diterjemahkan bahwa tidak ada kepastian dewasa (mungkin juga tua) bagi laki-laki.
Bila hendak mengikuti logika "Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan" maka setua apapun umur manusia, tidak dapat menjamin ia bahwa ia akan menjadi dewasa. Dalam arti lain, manusia bisa tetap menjadi kekanak-kanakan. Bukankah kekanak-kanakan merupakan oposisi biner dari term dewasa? Atau dewasa tidak bisa diterjemahkan dengan mencari tahu lawan katanya, lawan sifatnya?
Dewasa bukanlah pilihan. Bagaimana ia ditafsirkan, bagaimana ia diraih, bagaimana ia dijunjung tinggi merupakan konstruksi (dan dipertegas masyarakat modern) yang memerlukan sikap dan sifat dewasa. Masyarakat punya kuasa untuk itu: struktur sosial mengalahkan agen. Masyarakat dapat saja mendefinisikan laki-laki berusia 30 keatas yang sifat dan sikapnya kekanak-kanakan sebagai menyimpang, deviance. Dari sudut pandang mayoritas yang dewasa, yang kekanak-kanakan akan menjadi penyimpang. Yang kekanak-kanakan harus ikut serta bertindak layaknya mayoritas dewasa agar tidak dikatakan menyimpang. Lantas, bagaimana bisa mendefinisikan dewasa sebagai pilihan, jika ia sendiri merupakan paksaan dari struktur?
Sudut pandang lain tentang dewasa akan mengatakan bahwa menjadi dewasa itu pasti, selama masih ada masyarakat. Memang benar bahwa individu dapat memilih untuk membangkang terhadap struktur, memang benar bahwa individu dapat mengajukan perlawan terhadap konsep dewasa. Tapi itu palsu. Perlawanan palsu karena bentuk perlawanannya, bentuk pembangkangannya adalah bentuk kedewasaannya. Menjadi lain hal apabila pembangkangannya dilakukan tanpa sadar, tanpa niat dan keinginan serius dari dalam diri. Setidaknya, itulah sikap kekanak-kanakan. Belum tahu moralitas orang dewasa. Belum tahu apa yang dikerjakannya itu akan sesuai dengan tuntutan peran yang masyarakat luas berikan, belum mengerti akan bagaimana seharusnya ia bertindak dalam dunia yang mengukungnya.
Satu hal yang melegakan adalah bahwa seluruh masyarakat sepertinya sepakat akan makna dari kedewasaan yang universal. Setidaknya, dewasa tidak bercabang terlalu jauh, terlalu ribet dan terlalu baku: seperti makna yang terkandung di dalamnya.
Komentar
Posting Komentar