Visi
Tentang visi yang jauh di masa depan berisi tujuan dan cita-cita, manusia kadang masih membutuhkannya. Demi fokus, demi jelas dan bermaknanya suatu praktek dan kegiatan yang dibalut ideologi. Biarlah.
Dengan visi, setidaknya gambaran singkat mengenai akan kemana suatu program akan berjalan dapat diketahui publik. Bila visinya jelas maka programnya juga jelas. Bila programnya jelas maka prakteknya juga jelas. Semuanya berawal dari visi. Bukan begitu?
Ingin menjadi pemimpin membutuhkan visi. Ingin menjadi apa-apa jangan-jangan butuh visi juga? Jangan-jangan manusia ini makhluk deterministik-visioner lagi? Atau jangan-jangan pemikiran manusia modern terlalu rasional sehingga menyaratkan visi terus. Ah, jangan-jangan modern yang ditafsirkan sesuka hati lagi.
Sesungguhnya, visi ini ada atau tidak dalam praktek sehari-harinya?
Sesungguhnya, praktek sehari-hari berdasarkan visi atau tidak?
Sesungguhnya visi-praktek dan praktek-visi mana yang muncul terlebih dahulu?
Sepertinya, tidak ada yang muncul terlebih dahulu. Keduanya sama-sama ada sekaligus sama-sama tiada. Dialektik betul.
Komentar
Posting Komentar