Bacaan dan Penerimaan Hati

Berangkat dari kepercayaan bahwa semua bacaan memiliki kepribadiannya sendiri, saya merasakan bagaimana kepribadian itu diterima oleh hati sang pembaca. Karena ada bacaan yang begitu diterima di otak tetapi mengganjal di hati. Begitu juga sebaliknya, mungkin. 

Bacaan teori-teori yang luar biasa penggunaan katanya, mungkin amat menawan otak manusia. Tetapi, tidak menutup kemungkinan keluarbiasaan itu tidak diterima dengan baik oleh hati: yang apabila diakui secara tulus ikhlas, memiliki kecenderungannya tersendiri. Atau dalam bahasa Islam, fitrahnya. 

Namun, seperti yang dikatakan Quraish Shihab, seiring kesibukan beraktivitas duniawi dapat mengaburkan adanya fitrah itu. Pada saat sendirian, merenung dan kondisi benar-benar tenanglah akan terasa bisikan jiwa yang menggugah hakikat kemanusiannya sebagai ciptaanNya. 

Begitu juga dengan bacaan. Saking tergila-gilanya, pubertasnya, dengan ilmu pengetahuan modern sehingga dengan ekstrem menutup diri dan hati dari ajaran agama. Dianggapnya agama dengan berbagai konotasi negatif; yang belum tentu benar adanya. Hal ini tidak sedikit menimpa manusia. Padahal, membuka diri dengan segala kemungkinan merupakan sifat intelektual nomor satu. Dengan kata lain, kerendahhatiannya akan mengantarkannya pada pemahaman yang utuh. 

Memang, manusia merupakan makhluk yang lemah, tanpa Allah. Bagaimana tidak, beberapa manusia amat mengandalkan matanya yang lemah (yang menjadi cikal bakal ERMK diatas) untuk dijadikan sumber/metoda untuk mendapatkan pengetahuan. Mampukah mata manusia, mampukah materialis itu, memampukan manusia menggapai hal yang ghaib? Karena kebenaran tidak terbatas pada hal yang ERMK tadi saja. Jika tidak, bukankah manusia dalam kondisi yang amat lemah. Tapi manusia kufur dan aniaya. 

Bacaan kadang membahayakan, apabila pembacanya belum memiliki tingkat kedewasaan yang pas. Berapa banyak mahasiswa yang menyalahtafsirkan tesis Marx tentang agama sebagai opium masyarakat. Berapa banyak pula politikus yang dengan kepentingannya menggunakan ayat-ayat suci Al-Qur'an untuk dibawanya sebagai dalil/landasan justifikasinya. Bacaan memiliki makna yang berganda, dan hanya mungkin diketahui oleh penulisnya. Hakikat suatu bacaan juga bisa berdiri pada bagaimana relasi teks tersebut bersanding dengan konteks kekinian dan kedisinian... 

Pantaslah kiranya, sebelum mencoba membaca dan memahaminya, manusia menyebut Nama Tuhannya. Yang Maha Mengetahui, agar ia dibimbing dalam usahanya dan diampuni ketika salah memahaminya... Kebenaran milik Allah dan kebatilan milik manusia... Wallahu Alam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang