The Misunderstood Religion


Sebagai bagian pembuka - yang ingin memberitahukan - isi tulisan ini, adalah normatif: Suatu ajakan menuju kondisi ideal. Barangsiapa yang sudah menyerah dan tidak mau membuka diri lagi terhadap kondisi ideal tatanan masyarakat, sekiranya dapat mengoreksi keadaan hatinya.

Setelahnya adalah hidayah. Yang bisa datang kapan saja, dimana saja. 

Entah bagaimana ceritanya, belakangan ini wacana mengenai agama semakin menarik saja. Bukan hanya teologis filosofis dan lainnya, tetapi juga masalah sosiologis dan oportunisnya. Banyak sekali masalah yang berlatar agama: suatu hal yang benar-benar menjadi landasan beberapa manusia untuk menjustifikasi kebobrokan agama. 

Tidak apa-apa, karena itu wajar dan objektif. 

Tapi, hidup bukan cuma perkara wajar dan objektif. Hidup juga perkara mengetahui dan memahami secara bijak, dewasa dan matang. 

Dalam salah satu buku, tersurat secara pedih bagaimana agama sering disalahtafsirkan manusia, bahkan intelektual. Satu agama yang paling sering disalahtafsiri adalah Islam. Entah karena kesulitan agamanya atau kelemahan manusia, Wallahu Alam. Yang pasti, banyak permasalahan di dunia yang memakan korban, memang secara objektif, menggunakan dalil Islam. Terorisme, Poligami, dan banyak sekali permasalahan ummat lainnya, menggunakan dalil Islam. Semuanya berlomba berlandaskan Islam dan Qur'annya, untuk menjustifikasi posisi dan kebenaran kepentingan masing-masing. Menyeramkan dan oportunis. 

Tulisan ini cenderung tendensius. Tendensius kepada kebenaran adanya ajaran. Karena memang, setelah ditelaah, banyak kelompok yang "memperkosa" ajaran Islam - dan mungkin agama lain - untuk kepentingannya masing-masing. Dengan kondisi seperti ini, apakah salah bila kelompok lain menyalahtafsiri ajaran Islam? Jawabannya tentunya beragam, dari perspektif mana yang digunakan. 

Tapi, manusia harus segera sadar, agar ia tidak terjebak relativitas sehingga tidak ada pegangan lagi dalam hidupnya. Sadar, bahwa agama amat dekat dengan kehidupan sosialnya. Kesadaran ini akan mengantarkannya pada kebutuhan untuk mengembalikan nilai suci ajaran agama, yang pada dasarnya menginginkan perdamaian: konsep kehidupan nikmat, yang belum tercapai secara utuh di dunia - dan hanya mungkin tercapai - di Surga.

Tulisan ini juga tidak banyak membahas "mengapa Islam bisa bisa-bisanya mendapatkan status The Misunderstood Religion". Hanya saja, wacana ini amat positif bagi Islam karena dapat menyadarkan kelompok di luar Islam dengan menghadirkan pemahaman bagaimana Islam yang sesungguhnya. Islam yang bermasalah, hanyalah Islam yang disalahtafsirkan. Ukuran disalahtafsirkan ini, sekiranya dapat dilihat dengan terang apabila telah memahami bagaimana ajaran Islam itu sendiri. Dan untuk kepentingan itu, kiranya perlu memahami Islam - dan seluruh agama lainnya - secara matang. 

Sudah diterangkan di awal, tulisan ini amat normatif. Dan untuk kepentingan itu, banyak sekali ajakan-ajakan. Salah satunya adalah kepada intelektual agar adil dan bijak dalam memahami ajaran agama, termasuk Islam. Sikap ini adalah membuka diri terhadap segala kemungkinan, rendah hati dan tekun. Jangan terburu-buru mengabstraksikan - sebagaimana yang kerap dilakukan intelektual - ajaran agama. Reduksionisme ini-lah, yang sekiranya, menjauhkan pemahaman agama yang sebenarnya. 

Agama, bagaimanapun Lennon membayangkan ketidakhadirannya, tetap menjadi - dan akan terus tetap menjadi - suatu kebaikan manusia. Kalau tidak, bagaimana bisa ia tetap eksis dalam masyarakat?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang