"Seseorang yang terus bergerak cenderung terus bergerak; dibutuhkan lebih sedikit energi untuk tetap bergerak daripada yang diperlukan untuk berhenti dan mencoba mulai bergerak lagi"
Alhamdulillah. Belum lama ini, saya berkesempatan mengunjungi negeri jiran untuk kedua kalinya. Kesempatan yang langka sekali di tengah kesibukan rutin yang mematikan peluang untuk sering berjalan dan berpikir mengamati duniaNya. Berbeda dengan pertama kali mengunjunginya, kunjungan kedua terasa hambar. Kering, tanpa pemaknaan, tanpa kedalaman. Kunjungan pertama begitu dinikmati, juga begitu besar kemungkinan untuk bisa memaknai arti hidup melalui perjalanan. Mungkin karena ini dilakukan pasca melakukan tugas dinas yang melelahkan itu, mungkin juga karena perbedaan suasana siapa yang menemani perjalanan itu. Yang jelas, Singapura dan Malaysia terasa kering tanpa dapat diketahui penyebabnya. Meskipun begitu, setiap perjalanan memiliki memori dan keunikannya masing-masing. Willayah yang saya kunjungi berbeda dengan lima tahun lalu, sehingga berbeda pulalah feeling saya terhadap perjalanan. Kali ini, saya merasa bahwa saya bisa dan lebih mungkin untuk hidup disana diba...
Sudah lama saya menunggu kedatangan tipikal striker seperti Jamie Vardy. Cepat, mandiri dan tajam. Ia bisa menggiring bola sendirian dari break yang sungguh secepat kilat. Striker sepertinya tidak butuh gaya bermain yang lambat layaknya Barcelona ataupun Bayern Munchen: Ia hanya butuh satu atau dua sentuhan (mungkin ia tidak betah tiga kali menyentuh bola) untuk menembak ke gawang. Ia seperti tidak peduli apa yang akan terjadi kemudian. Kalau gol syukur, kalau tidak pun syukur. Yang penting, menghasilkan tembakan. Apa yang terjadi kemudian biarlah terjadi. Inilah yang perlahan hilang dari striker sepak bola modern. Mereka terlalu banyak menunggu. Menunggu momentum agar memastikan bola yang ditembaknya berhasil masuk ke gawang. Memang, ini memperbesar peluang secara akurasi, tapi tidak secara momentum. Dan momentum inilah yang mahal dalam sepak bola modern yang penuh dengan pressing ketat. Vardy adalah salah satu favorit saya, di samping Luis Suarez yang saya benci k...
Sebagai pseudo-analyst taktik sepakbola modern, saya terkagum-kagum melihat pertarungan taktik para pelatih jenius level dunia. Tulisan ini adalah keinginan saya untuk mengamati sepakbola sedari taktiknya, bukan sekedar kehebatan skill para pemainnya. Terinspirasi dari pertandingan terbaik semalam antara Juve vs Bayern, saya akan mencoba menuliskan pemikiran saya atas taktik sepakbola modern. Tulisan ini akan berkelindan di antara kata-kata berikut: Pressmachine, transisi dan Organized Chaos. (Saya tidak bisa bersantai menonton Juve vs Bayern karena amat menegangkan. Pertarungan taktik, jumlah gol dan perang fisikal disajikan secara bersamaan. Mungkin akan lebih seru dibanding final Liga Champions itu sendiri. Wajib tonton.) Memaksa Chaos di Lini Belakang Nampaknya taktik ini begitu mainstream belakangan. Melakukan full press hingga titik terdalam pertahanan lawan adalah strategi ampuh untuk mencuri gol, khususnya di menit-menit awal ketika kaki-kaki masih bel...
Komentar
Posting Komentar