Ilmuwan
Ilmuwan sosial itu punya apa untuk membicarakan orang lain? Membicarakan masyarakat?
Power? Resource? Atau memang ilmuwan punya semacam kewajiban? Atau bahkan hak?
Seperti biasa, saya hanya menghadirkan pertanyaan tanpa hendak menjawabnya. Saya menikmati pertanyaan. Saya menikmati pikiran saya bermain-main secara bebas, secara liar, secara manusiawi maupun non-manusiawi. Pikiran yang membawa saya pada kesibukan sesaat, hingga pada akhirnya lenyap dengan manisnya. Lenyap dengan kesanggupan dan kemauan sesukanya.
Kekuatan ilmuwan sosial yang bagaimana sehingga ia mampu menjelaskan fenomena sosial?
Saya selalu percaya, dalam setiap langkah saya membawa tubuh ini, akan selalu ada fenomena sosial yang dapat dijelaskan. Selalu percaya. Hanya, dibutuhkan kemampuan merumuskan, mengorganisasikan, menambah-nambahkan, dan mengeksplor pikiran sendiri maupun orang lain, untuk mencipta kreatif suatu gagasan yang mampu menjelaskan fenomena. Suatu kemampuan yang autentik. Kemampuan untuk menjelaskan atau memanipulasi, tergantung kebutuhan dan kepentingannya. Bebas.
Kemampuan menjelaskan orang lain yang dimiliki sebagian orang saja menempatkan para pemikir-pemikir ini pada komunitas ilmiah: arena ide-ide kemanusiaan dibagikan, dirumuskan atau diperdebatkan. Mereka mempunyai kemampuan untuk menjelaskan kehidupan bersama orang lain, seperti menjelaskan konsep ekslusi sosial, alienasi, dan lain-lain yang intinya bicara terpinggirkan dari pergaulan hidup masyarakat luas.
Sampai disini saya terus bertanya-tanya. Membiarkan diri, pasrah, menyerahkan sepenuhnya diri pada pikiran yang bebas. Merdeka. Sesungguhnya, apakah mereka, ilmuwan sosial, yang bicara terasingkan justru terasingkan juga dari masyarakat luas? O, mungkin ini salah satu yang disebut kebingungan manusia. Mengarahkan satu opini yang seakan netral, padahal cenderung berat sebelah tanpa memperhatikan bagaimana bila opini tersebut berlaku bagi dirinya. Sebagaimana opini saya ini.
Pernah suatu waktu, dosen berkata bahwa tidak baik memberi istilah "turun lapangan" pada penelitian akademis. Suatu waktu, dosen tersebut mengadakan penelitian yang justru menjadi otokritiknya. Salah satu anggota masyarakat yang menjadi subjek penelitian justru dengan polosnya berucap:
"Memangnya selama ini anda merasa di atas?"
O! Pukulan keras sekali buat komunitas ilmuwan yang acapkali lupa, bahwa ilmu yang didapatkan juga merupakan ilmu bumi. Bukan ilmu dari langit: ilmu yang ciptaan manusia biasa juga sehingga terdengar berlebihan, bahkan dapat dikatakan sombong, mengatakan akan turun lapangan demi menguji kesesuaian konsep dengan realita yang ada.
Kritik seperti itu datang dari masyarakat desa. Entah sengaja (karena kepintarannya layaknya ilmuwan) maupun polos, tidak sengaja. Sebuah respons atas penelitian, atas "turun lapangan", yang spontan. Saya mengira bahwa jawaban kedua-lah yang mungkin. Sebuah respons polos anggota masyarakat tanpa makna mengkritik atau apa, namun ditanggapi secara kritis oleh ilmuwan. Dan saya juga secara polos berpikir seperti ini.
Karena sudah selayaknya ilmuwan membumi, tidak memainkan power dan peranannya sebagai mereka yang (dianggap) paling mengetahui gejala dan fenomena kehidupan sosial di antara masyarakat lain. Juga karena kritik bukan merupakan fitnah: ia bisa ditanggapi secara santai.
Komentar
Posting Komentar