484

Lika-liku manusia dari mana-mana. Tempat yang memiliki sejuta rasa. Kota dengan jiwanya. Kota dengan keangkuhannya. Kesaktiannya. Kecurangannya. Kemunafikannya.

Kota kelahiran, tempat menuntut ilmu, arena bermain, lahan berdagang, sarana rekreasi, ruang tertawa, studio kehidupan. Kata tidak sanggup menggambarkan. Hanya bisa merasakan. Lengkap dan detil. Semua, sedari dulu. Semua, yang berbeda. Beda dan tak akan pernah kembali. Juga tak akan pernah mati. 

Cintaku belum bisa kutunjukkan. Malah saban hari kulepaskan emosiku. Atas dasar polusi, panas, macet, polusi, macet, macet, emosi. Ledakan-ledakan perasaan kutuangkan di atas tanah yang kering. Hinaan, entah telah berapa kali. Sampai cape pun. Sampai kering tenggorokan. Sampai sakit kepalan tangan. Candaan, perayaan, bahkan bantuan, tidak kumaknai lagi. Jadi biasa di tengah keganasan.

Aku semakin miris. Miris karena aku yang saban hari memaki. Memaki namun tidak memberi. Memaki diri sendiri. Apapun, bagaimanapun, kapanpun makian ku keluarkan. Tapi itu biasa. Aku miris lagi. Kali ini tentang kehidupan. Jurang semakin dalam. Banyak yang dininabobokan. Sedikit sekali yang peduli. Hidup memang menuntut mandiri, tapi ini terlalu kejam. Rupiah itu tidak (mungkin belum) ada di beberapa kantong. "Sulap murahan" masih terjadi di beberapa trotoar.

Aku tidak mengharap banyak. Tidak banyak. Aku tahu bagaimana keadaan. Tahu, ahlinya pun sulit, apalagi yang biasa. Semakin "Ndeso" adalah yang kuharapkan. "Ndeso" dalam pengertian kehidupan bermasyarakat. Hidup dengan bersama-sama menuai manisnya gotong royong, lingkungan yang semakin makmur dan tentram dengan saling berbagi, nafas yang semakin lega dengan sifat tenggang rasa, dan bebas melangkah dengan menjalin silaturrahmi. Sedikit namun kurasa penting. Jangan semakin meninggi, juga jangan terlalu merendah. Berdirilah dengan sewajarnya. Berbagilah semampunya. Dan melangkahlah sekuat tenaga. Aku cinta jiwamu yang semangat. 

Kau sudah tua. Sudah sepatutnya mapan, merendah, dan merakyat. Perhatikanlah umpatan-umpatan jujur pengendara sepeda motor. Cermati mereka yang masih tidur di pinggiran kali. Rangkul anak jalanan yang terus menerus meringis sepanjang hari. Ulurkan tangan kepada ibu-ibu hamil yang kadang sulit mendapat bangku di buskota. Dan yang sering kau lupa, kau acapkali tutup sebagian kecil jalanmu rapat-rapat untuk kaum mahasiswa. Padahal mereka berjuang demi bangsa.

Aku kadang letih. Apa yang kucari disini. Mungkin ada juga yang sepemikiran denganku disini. Tapi aku nyaman. Aku cinta. Dan aku bangga.

Aye ade dimari. Aye hidup dimari. Ncang Ncing Nyak Babe, kite semua cinte Jakarta! Dirgahayu 484 Jakarta!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langka

Kolam Renang