Ibu

Suatu hari di ketinggian, anak laki-laki itu rindu rancu. Rindu yang jarang menggapai singgasana kuasanya. Hati dan perasaannya.

Rindu yang mematikan. Mati dalam hidup; hidup dalam mati.

Sendirian, ia duduk. Setengah meracau, ia sedang kacau.

"Memang tugasmu untuk tahu aku kacau?"

Berulang-ulang ia katakan itu. Lebih dari delapan kali per jam. Juga tatapannya yang kosong akal serta emosi. Yang biasanya tidak biasa. Tak pernah ia bermuram durja, bukan berarti ia tak punya hati. Hanya memang mungkin belum. Hanya memang mungkin baru kali ini. Hanya memang mungkin, ia tak pernah jujur pada nuraninya. 

Berbohong pada nurani, adalah penyiksaan mahaberat manusia. 

Ia terus kacau. Hingga tak sadar satu halaman kosong itu ia coret-coret. Hati-hati sekali. Sebenarnya, ribuan kata hendak ia tuangkan dari kreatifnya. Tapi ia kacau, ia kacau hingga ia membiarkan ribuan kata itu membeku, mati, tanpa makna. Ia hanya menuangkannya sedikit. Sedikit saja, di tengah arus ketiadaan makna. Yang membuatnya kacau, yang membuatnya daging tanpa bekal. 

Mungkin tiga bulan, mungkin tiga tahun, mungkin tiga puluh tahun setelah itu, anak laki-laki itu masih sama. Hanya, ia tidak lagi di ketinggian. Ia terbaring lemah di satu rumah sakit swasta. Menurut dokter, ia lupa ingatan. Ia terlalu keras kepala, terlalu bodoh, juga terlalu nekat dalam menjalani hidup. Dokter, juga seluruh kawannya, benci, sekaligus iba, padanya. 

Hingga malam yang tenang, tanpa bisikan teman, guru, dokter dan semua kenalannya, ia kembali menulis dalam secarik kertas. Tulisan yang membuat perasaannya sedikit berdamai dengan keadaan, tulisan yang tidak pernah ia buat asal, juga tulisan tentang kejujurannya. Tulisan itu penuh satu halaman. Tulisan, yang sama persis dengan saat sebelum ia masuk rumah sakit, sebelum ia lupa ingatan. Suasana sepi nan hangat membawanya pada usaha terakhir hidupnya. Sembari menutup mata ia ikhlas mengucap keseluruhan puisinya: 

"Ibu. Maafkan aku"


9 September 2012. Saat imaji, nurani dan realita tidak bisa berdamai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang