Hukum

Buatlah hukum, agar manusia dapat bertindak sesuai dengan peranannya. Awasi peraturan-peraturan yang dilanggar, tuliskanlah dengan tujuan hidup ini normal berjalan apa adanya. Jalankan sanksi yang tegas agar mampu memberi efek jera, agar yang lain takut melanggarnya. Buat, awasi, dan jalankan!

Tapi hukum melampaui segalanya. Ia lupa darimana dan hendak kemana ia dilahirkan. Ia justru membunuh ibu kandungnya sendiri dengan kejam, hina dan alfa. Ia membuangnya ke lautan luas agar tiada lagi mengenal ibu yang melahirkannya. Dengan begitu, ia dapat berdiri kokoh dan tegas. Ia autentik, otoriter sekaligus absolut. Dengan legitimasinya, ia tak kenal ampun. Ia akan mencederai siapa hendak melawannya.

Hukum terus berdiri sendiri. Angkuh. Ia menggenggam manusia! Ia tertawa di kursinya yang empuk, sembari menyuruh kaki-tangannya bertindak terhadap sesiapa yang melanggar aturannya, sedikit-banyak, ringan-parah kadarnya. Ia adalah raja yang tuli sekaligus buta. Atau memang sengaja matanya ditutup. Atau memang sengaja telinganya disumpal. Buat apa melihat sekaligus mendengar kalau membuat masyarakat goyah? Mungkin, ia beranggapan masyarakat itu sama, terpolakan dan linear sifatnya. Ia lupa pada ibu yang melahirkannya. Ibu itu bernama kemanusiaan.

Entah besok, lusa, atau kapan, ia yang sedang duduk manis akan tersadarkan oleh ibunya, yang masih bersembunyi, mengintip takut dari belakang kuasanya untuk pelan-pelan menyadarkannya. Ia  masih punya waktu untuk terus tertawa sinis, angkuh sembari menggebu-gebu meneriakkan namanya: hukum.

Setidaknya, ibu itu masih hidup. Rendah hati ia terus berusaha menyadarkan anaknya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang