Sedih

Manusia harusnya bahagia karena Tuhan ciptakan kesedihan. Tanpanya, bahagia tidak eksis. Bahagia, entah sebagai perasaan terjujur atau sekedar konsep buatan tanda berkuasanya manusia, tidak akan manusia rasakan tanpa eksistensi oposisi binernya. Manusia hanya bisa bahagia, bila sedih telah mereka enyam. Sebagai bagian dari kehidupan, sedih dan bahagia adalah manusia itu sendiri. 

Atau, kesedihan bukanlah oposisi biner dari bahagia itu sendiri? Mungkinkah manusia merasa bahagia dan sedih dalam satu waktu? 

Kalau begitu, manusia harus mengakui kelemahan kedua konsep tersebut. Manusia harus kembali pada perasaannya: untuk mengatakan bahwa bahasa/teks telah gagal menjelaskan perasaan manusia, yang sejatinya selalu jujur, apa adanya dan polos. 

Tapi, bagaimana manusia bisa membagikan perasaan kepada yang lain tanpa bahasa/teks? Bagaimana manusia dapat saling berempati, saling berduka/suka cita, saling merasakan, bila manusia tidak bisa menjelaskan lalu membagikan konsep keduanya melalui bahasa? Manusia nampaknya harus berdamai pada kelemahannya sendiri: Manusia harus takluk dan terpaksa menggunakan bahasa. Bahwa tanpa bahasa, serta kesepakatan atas bahasa, kehidupan sosial begitu sepi. Manusia hanya bisa merasakan kesedihannya sendiri.

Kira-kira seperti itu. Seperti itu kesedihan. Pasrah menerima akan suatu keadaan yang harus, yang memaksa, sekaligus tidak menyenangkan hati, yang dengan perasaan itu menggambarkan lemahnya manusia: manusia bukan Maha Kuasa. Setidaknya, pada keinginan yang mudah menggempur perasaan.

Maka bersedih adalah ketiadaan perasaan bahagia. Bersedihlah. Sungguh, tapi kapan lagi merasa bahagia?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang