Kutukan Seorang Penulis
Ada apa di balik jiwa dan pemikiran seorang penulis? Adakah kegalauan, kecemasan, kemarahan dan kebencian? Atau ada kebaikan, kejernihan, ketenangan dan kematangan?
Pertama-tama, patut diketahui bahwa tulisan ini tidak hendak menggeneralisir penulis sebagai satu kesatuan yang utuh. Hanya mencoba menemukan pola-pola yang umum ditemukan dalam diri seorang penulis.
Yang saya tahu, menjadi seorang penulis, yang tulen tentunya, adalah siap dengan kutukan-kutukannya. Menulis bukan hanya sekedar menuangkan gagasan ke media tulis: ia adalah proses multidimensi. Ia bisa bersifat spiritual karena menyangkut kesadaran manusia. Bisa bersifat sosial karena setiap tulisan yang dapat dibaca mampu mengubah keadaan masyarakat pada level paling kecilnya. Bisa bersifat politis, ekonomis, psikologis dan segala dimensi kehidupan manusia.
Yang saya tahu, menjadi seorang penulis, yang tulen tentunya, adalah siap dengan kutukan-kutukannya. Menulis bukan hanya sekedar menuangkan gagasan ke media tulis: ia adalah proses multidimensi. Ia bisa bersifat spiritual karena menyangkut kesadaran manusia. Bisa bersifat sosial karena setiap tulisan yang dapat dibaca mampu mengubah keadaan masyarakat pada level paling kecilnya. Bisa bersifat politis, ekonomis, psikologis dan segala dimensi kehidupan manusia.
Apapun itu, saya akan membahas sedikit saja tentang kutukan, mitos atau apapun kita menyebutnya, menjadi seorang penulis. Ini berdasarkan pembacaan terhadap kehidupan penulis besar, pengalaman hidup teman-teman penulis, dan mungkin, ekspresi batiniah saya sendiri. Maafkanlah saya yang pelupa sehingga sulit mengingat siapa penulis yang dimaksud. Dan izinkanlah saya menyampaikan substansinya. Kalau saya ingat, akan saya sampaikan.
Begitulah, katanya, tanggung jawab seorang penulis.
1) Menulis adalah kerja jiwa yang gelisah.
Saya bertanya-tanya, adakah kajian yang membahas mengenai produktivitas menulis antara mereka yang gelisah dan tidak? Adakah perbandingan di antaranya? Memang, harus diakui, sulit sekali mengukur orang yang gelisah dan tidak. Apa indikator gelisah? Apa indikator tidak gelisah? Wah, bisa jadi tulisan tersendiri membahas itu.
Kalau ada ya, kalau ada, peneliti, aktivis LSM, dan mereka yang daya skeptisnya kuat (mungkin sampai pada tahap ngehek) sedang baca, mungkin akan tergelitik dan berpikir "orang bisa gelisah sekaligus tidak, dan tidak gelisah sekaligus gelisah kok". Kalau yang dimaksud tidak gelisah itu bahagia, ya memang, mana ada sih kategori yang absolut di dunia pascamodern ini. Semuanya rasanya berada di awang-awang dan bisa dipertanyakan hingga ke akar-akarnya. Jadilah kita masyarakat yang bingung, tanpa pegangan.
Teriaklah orang-orang itu "Lagipula siapa yang butuh pegangan? Kita gak butuh pegangan. Kita dan hanya kitalah yang paling tahu hidup kita sendiri. Bukan orang lain, apalagi Tuhan."
Duh!
Tapi untuk kepentingan penulisan, jiwa yang gelisah bisa saja dari berbagai kategori sosial dan identitas. Jiwa yang gelisah nyatanya bukan hanya milik mereka yang miskin, atau pemuda pemberontak, atau pekerja bergaji kecil, misalnya. Mereka yang sudah sampai pada tahap bebas finansialpun rupanya gelisah! Lihatlah betapa banyaknya penulis adalah mereka yang kaya raya. Mereka menulis karena gelisah dengan kemiskinan, dengan keterbelakangan dan kemunduran. Mereka tergerak jiwanya untuk memperbaiki keadaan dengan membagikan ilmu mereka.
Kalau begitu, semua manusia yang ingin memperbaiki keadaan dapat dikatakan gelisah. Dunia ini adalah udara kegelisahan, yang tanpa disadari, harus dihirup setiap harinya.
2) Menulis adalah kerja kesendirian.
Pernahkah kita mengalaminya?
Saat sedang sendirian, kita cenderung berkontemplasi. Memikirkan masa depan, katakanlah begitu. Tapi ketika sedang bersama-sama, entah keluarga maupun teman, kita cenderung menikmati momen tersebut. Ada candatawa, kehangatan dan kebersamaan yang kita benar-benar resapi. Kita memang masih bisa menikmati kesendirian, dan kita butuh itu untuk bertahan hidup. Kesendirian adalah kebutuhan. Tidak percaya?
Pernahkah kita bertanya, mengapa manusia menciptakan kamar di rumahnya? Karena ia butuh sendiri. Atau setidaknya merasa menjadi diri sendiri, meskipun secara fisik sedang bersama dengan yang lain. Kamar adalah simbol privasi yang seutuhnya. Tanpa kamar, manusia modern kebingungan untuk menjadi dirinya sendiri. Hanya kamarlah yang memungkinkan manusia untuk bebas melakukan apa saja yang ia mau di ruang dan waktu yang terbatas jaman modern ini. Bahkan ia bisa untuk bunuh diri sekalipun! Tidak terbayang bagaimana manusia bisa bunuh diri di luar kamar. Mungkin bisa saja.
Kembali pada menulis sebagai kerja kesendirian. Normalnya, proses menulis membutuhkan konsentrasi tinggi hingga gangguan sedikitpun akan benar-benar membuat seorang penulis kehilangan fokusnya. Bisa-bisa, malah memutuskan untuk berhenti menulis karena kehilangan mood. Seorang penulis, biasanya, adalah mereka yang sangat peka dan sensitif terhadap lingkungan. Mereka tidak bisa menolerir kebodohan, membiarkan kebanalan dan sulit merasa puas dengan keadaan yang membosankan. Jiwa mereka meraung-raung memohon kesendirian agar bisa menikmati menuangkan gagasan-gagasannya. Itulah, biasanya seorang penulis gampang protes. Mudah sekali mereka mendebat ide yang mereka rasa salah.
Bagi orang biasa, berhadapan dengan seorang penulis adalah neraka. Hari seorang penulis adalah kondisi dimana ide-ide dan gagasan beterbangan secara liar. Karena isi otaknya adalah ide dan gagasan, mereka tidak betah dengan basa-basi (small talks). Bukan apa-apa, mereka layaknya sudah tahu apa yang akan dibicarakan lima menit ke depan! Kata mereka, "Betapa menyiksanya interaksi yang sudah dapat ditebak!"
Mereka adalah raja bagi kehidupan mereka sendiri.
Karena itulah, seorang penulis membutuhkan kebebasan ruang dan waktu di atas segala-galanya. Begitu seorang penulis terkekang kesibukan misalnya, ia tidak lagi mampu menulis lagi. Ia memang masih menulis hal lain, tapi bukan gagasan dan idenya. Ia menuliskan tugas kantornya yang menjadi makanannya sehari-hari dan yang tetap membuatnya mampu makan. Kadang ia merasa bosan, lelah dan marah, tapi apa daya mereka. Mereka sadar, toh hidup tidaklah seabstrak gagasan, sesempit kerja kantoran, dan sebanal interaksi harian. Hidup berada di antara itu semua, dan mereka harus berdamai dengan kenyataan itu.
This part of life was called..... Accepting the reality.
3) Menulis adalah kerja keabadian
Karena tulisan bersifat abadi, penulisnya tidak. Mungkin saja tulisan ini akan dibaca jutaan orang Indonesia di masa mendatang, tidak ada yang tahu. Apakah seorang penulis besar sadar dan yakin akan banyaknya orang yang akan membaca tulisannya? Saya meragukannya. Tapi saya yakin, mereka menulis bukan demi popularitas. Popularitas hanya berlangsung sebentar! Mereka yang tulisannya abadi menulis untuk keselamatan mereka sendiri.
Bagi beberapa penulis, tidak menuliskan gagasannya selama beberapa periode waktu, katakanlah sebulan dua bulan, adalah neraka. Atau, seminggu. Itu sudah cukup menyiksa jiwa mereka yang liar dan bebas. Ada yang karena saking "gilanya" menulis, akan rela sekedar menulis untuk kemudian dihapus kembali. Pemikiran normal akan berkata "kegilaan apa yang telah kau lakukan? Don't waste your time or time will waste you!"
Mereka hanya belum paham, bahwa, bagi penulis proses menulis itu sendiri adalah kebahagiaan. Mereka tidak peduli lagi pada hasilnya. Apakah akan dipublikasikan atau tidak, itu adalah perkara nanti. Mereka ingin berbicara pada diri sendiri. Mereka ingin memahami dunia melalui tulisannya. Mereka memiliki banyak pertanyaan yang perlu dijawab. Mereka gelisah. Dan mereka membutuhkan obat bagi kegelisahan itu.
Beberapa dari mereka akan mengatakan bahwa mereka tidak menuliskan apa-apa. Mereka bukan penulis. Mereka adalah anak-anak yang sedang bermain dengan riang gembira. Tidak ada tekanan, tidak ada tanggungjawab, dan tidak ada rasa bersalah sedikitpun. Hanya dengan menulislah mereka menjadi diri mereka yang seutuhnya setelah diri mereka digerogoti profesionalisme di dunia kerja, misalnya bagi mereka yang menjadi pegawai kantoran. Mereka tidak tahan lagi dengan senyum yang palsu, jabat tangan yang formalitas dan pelukan yang dipaksakan.
Beberapa dari mereka lebih menginginkan kejernihan. Hidup bukanlah arena pertarungan jabatan, uang dan kekuasaan. Buat mereka, hidup lebih bermakna apabila diisi dengan kebersamaan yang hangat dan rasa cinta yang meneduhkan. Mereka tidak menginginkan perlombaan kehidupan, toh, hidup bagi mereka bukan apa-apa, melainkan kebaikan yang harus diperjuangkan. Mereka tidak peduli dengan orang-orang yang memberhalakan uang, kekayaan dan materi sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan kehidupan. Silahkan kalian lomba lari, tapi bukan dengan saya. Begitu gumam beberapa dari mereka. Beberapa.
Begitulah intisari yang dapat saya ceritakan dalam kesempatan ini. Mungkin benar, mungkin juga salah. Mungkin beberapanya benar, mungkin sisanya salah.
Karena menulis adalah kisah penuh perjuangan, penulis haruslah siap dengan segala konsekuensinya, dalam rangka mewujudkan jiwa kepahlawanan yang diagung-agungkan. Setidaknya, pahlawan bagi hidupnya yang terus menemukan kesendiriannya.
Karena menulis adalah kisah penuh perjuangan, penulis haruslah siap dengan segala konsekuensinya, dalam rangka mewujudkan jiwa kepahlawanan yang diagung-agungkan. Setidaknya, pahlawan bagi hidupnya yang terus menemukan kesendiriannya.
Komentar
Posting Komentar