Semesta Yang Saya Tahu
Katanya, semesta itu adil. Ia mendengar, melihat dan mengetahui segala sesuatu yang terkandung di dalamnya. Beberapa konsepsi pun bermunculan dalam kehidupan sosial manusia. Ada karma yang meyakini bahwa kejahatan, diketahui atau tidak secara sosial, akan dibalas oleh kejahatan juga. Begitu juga dengan kebaikan yang akan dibalas oleh kebaikan, tidak peduli seberapa kecil kebaikan itu dan seberapa penting kebaikan itu.
Katanya, semesta juga membalikkan apa yang kita pikirkan. Pikirkanlah keberhasilan, maka manusia akan berhasil. Pikirkanlah keburukan, maka akan muncul keburukan. Karena masyarakat terus memikirkan korupsi, korupsi akan terus ada karena fokus kita ke korupsinya, bukan ke kebersihan, keadilan dan kemanusiaan. Kita fokus pada hal-hal yang negatif sehingga semesta meresponsnya dengan menjadikannya kenyataan. Ini berdasarkan beberapa ajaran, salah satunya Law of Attraction.
Membahasnya, saya justru ingin merumuskannya ke dalam beberapa pemikiran yang sederhana. Seperti rasanya semesta akan membalas segala sesuatu dari pemikiran dan tindakan manusia. Seperti ada "invisible hand" yang siap untuk membalas apapun yang terjadi di dalam kehidupan manusia.
Beberapa yang terlintas dalam pemikiran saya akan saya tuliskan disini, hanya sebagai refleksi diri terhadap kehidupan yang sangat kaya makna. Saya berharap penulisan ini bermanfaat bagi pengembangan diri, setidaknya bagi diri sendiri, sebagai cara hidup yang harus dijalani di era modern.
1) Berjalanlah hanya rendah hati, agar semesta memberikanmu kehidupan yang bersahaja.
2) Tetaplah hidup dengan sederhana, biarlah semesta yang mengurusi derajatmu di masyarakat.
3) Teruslah bersikap kosong, karena semesta akan mengisimu dengan ilmu yang bermanfaat.
4) Berbuat baiklah, karena semesta akan menyiapkan segalanya yang terbaik bagi mereka yang baik.
5) Lakukanlah pertolongan dengan sukarela, apapun balasan manusia terhadapmu, lalu biarkanlah semesta yang memberikanmu balasannya.
6) Pikir dan kerjakanlah hal yang sifatnya memberdayakan sesama, karena semesta mengetahui mana kerja yang bermanfaat dan mencintai orang yang memberikan kebermanfaatan.
7) Perbanyaklah memberi, materi maupun nonmateri, karena dengan itu semesta akan memberimu jauh lebih banyak dari yang dapat dibayangkan.
Kiranya 7 poin di atas sudah cukup banyak bagi saya untuk menuliskannya. Terdengar klise memang tapi hidup butuh refleksi agar tidak tersesat di belantara kehidupan tanpa makna. Dalam Islam, refleksi ini dikenal dengan istilah muhasabah. Dalam tradisi lain, dikenal dengan melihat diri sendiri. Kalau tidak salah, ngerogo sukmo. Dan banyak sekali ajaran tua lain yang sudah dikenal peradaban manusia berabad silam hanya untuk membahas pentingnya refleksi diri.
Saya pernah dengar dari seorang teman, bahwa pada dasarnya kebaikan jauh lebih mudah dibanding keburukan. Juga lebih murah. Saya juga pernah baca, bahwa pada fitrahnya manusia memang lebih condong kepada kebaikan. Lingkungan-lah yang mengantarkannya kepada keburukan sehingga fitrah itu ternodai hari demi hari. Akhirnya, hati manusia menjadi kelam, gelap dan tanpa cahaya.
Benarkah hal ini? Coba kita lihat beberapa hal berikut.
1) Shalat jauh lebih mudah dibandingkan clubbing.
2) Tadarus Qur'an lebih mudah dibanding membicarakan aib orang lain. Setidaknya, kita harus susah payah mencari informasi mana, atau aib mana, yang harus disampaikan agar orang lain percaya cerita kita.
3) Sekacau-kacaunya kita merasa dengan dunia tempat tinggal kita, tapi saat anak kecil bermain dengan riang gembira di depan kita, kita pasti merasakan adanya getaran di hati. Ada kedamaian. Ketentraman. Atau apapun kita menyebutnya, yang pada intinya, manusia memang menyukai kehidupan yang jernih dan apa adanya seperti itu. Tanpa dosa, tanpa noda.
Hanya saja, dunia memang bukan tempat kita menikmati kondisi tanpa dosa. Dunia ini tempat kita berjuang mewujudkan kondisi tersebut. Kalau belum sempat menikmatinya di dunia, itu wajar. Wajar sekali. Bersabarlah menunggu kondisi ideal tersebut sebagaimana janjiNya di surga sana.
Ah, kok malah jadi ceramah. Tapi tak apalah, saya menyukai konsepsi ceramah. Rasanya baru segini yang sekarang bisa sampaikan. Sedikit sekali. Tapi, pesan adalah pesan: ia ada untuk disampaikan, bagaimanapun sedikitnya. Itulah pesan manusia teragung yang pernah hidup di bumi, Rasulullah SAW.
Akhir kata, saya mohon doa pembaca agar dimampukanNya menyampaikan jauh lebih banyak mengenai kehidupan dan kebaikan yang mengisinya. Semoga tulisan ini mengayakan dan memberdayakan perspektif kita dalam memaknai kehidupan. Aamiin yaa Allah.
Akhir kata, saya mohon doa pembaca agar dimampukanNya menyampaikan jauh lebih banyak mengenai kehidupan dan kebaikan yang mengisinya. Semoga tulisan ini mengayakan dan memberdayakan perspektif kita dalam memaknai kehidupan. Aamiin yaa Allah.
Komentar
Posting Komentar