Postingan

Menampilkan postingan dengan label Demokrasi

Pathological Habitus

Berapa banyak di antara kelas menengah yang menginginkan Iphone terbaru, yang sebenarnya, tidak terjangkau dompetnya? Berapa banyak di antara kelas bawah yang menginginkan Kawasaki Ninja terbaru, yang sayangnya, tidak cocok dengan pendapatannya?  Nampaknya, penyakit ini menjalar di era kapitalisme modern. Penyakit ini jauh lebih berbahaya dibandingkan hedonisme dan lainnya. Ini menyangkut habitus yang keluar dari posisi objektifnya! Kebiasaan yang berada di luar kelas sosialnya!  Saya asal saja menamakannya pathological habitus. Habis, saya melihat agak gila penyakit habitus ini. Pendapatannya berapa, ingin belinya apa. Pendapatan dua juta perbulan tapi menginginkan gaya hidup selevel selebriti yang memang sehari bisa mendapatkan puluhan juta. Ini ada apa sebenarnya? Mengapa, kelas bawah ikut-ikutan terbawa arus habitus kelas di atasnya?  Tidak, saya tidak bias kelas menengah. Saya malah mendorong kelas bawah untuk mobilitas vertikal. Tapi, penting juga u...

Ayat Al-Qur'an Yang Tercecer-Cecer

Saya sedih sekali setiap ada tulisan, terkhusus artikel, yang dengan cerobohnya mengambil ayat Al-Qur'an untuk membela logika yang digunakan si penulis, demi sebuah topik besar yang berpotensi mengaburkan makna Islam. Saya tidak tahu bagaimana kondisi agama lain, mungkin ada juga yang seperti ini. Saya tahu saya bukan ahli tafsir, tapi saya tahu bagaimana penulis membangun logika, argumen beserta konklusi di tulisannya. Mengerikan betul rasanya, melihat ayat Al-Qur'an yang turun beserta konteks kelahirannya seakan "diperkosa" untuk kepentingan penulis. Jujur saja, saya resah dengan gaya penulisan seperti ini. Wajah Islam terlihat penuh dengan kebencian. Mengkafir-kafirkan, menjelek-jelekkan dan segala atribut provokatif rasanya akrab sekali dengan Islam. Saya, mungkin juga anda, khawatir wajah Islam terdistorsi dengan tulisan-tulisan seperti ini. Padahal, kalau kita teliti cara berpikir penulisnya, kita akan temukan error disana sini. Anda bisa bayangkan bagaima...

Sang Penafsir

“ Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya" - Pramoedya Ananta Toer Saya terheran-heran - layaknya pembukaan ala Comic Stand-Up Comedy di Indonesia - melihat kondisi sosial di era socmed . Semua orang menjadi komentator. Semua orang berlomba menafsirkan kehidupan. Ini sudah hukum alam rasanya.  Saya jadi rindu masa kecil tanpa internet. Saya tidak pusing-pusing membaca seluruh penafsiran tentang kehidupan, dari yang banal sampai analitik. Lagipula, saat saya kecil saya tidak banyak membaca dan mendengar penafsiran orang lain, paling-paling, penafsiran kedua orang tua dan guru ngaji saya yang benar-benar menyejukkan. Tapi, saya rindu masa itu.  Saya rindu masa-masa, entah pernah terjadi atau belum, pemuka agama Islam yang berkualitas menjadi sumber penafsiran. Andaikata saya atau anda gagal menangkap penafsirannya pun, toh penafsiran kita didapatkan dari sumber yang berkualitas. Lha sekarang?  Bukan otoritas saya sih untuk melara...