Pathological Habitus

Berapa banyak di antara kelas menengah yang menginginkan Iphone terbaru, yang sebenarnya, tidak terjangkau dompetnya?

Berapa banyak di antara kelas bawah yang menginginkan Kawasaki Ninja terbaru, yang sayangnya, tidak cocok dengan pendapatannya? 

Nampaknya, penyakit ini menjalar di era kapitalisme modern. Penyakit ini jauh lebih berbahaya dibandingkan hedonisme dan lainnya. Ini menyangkut habitus yang keluar dari posisi objektifnya! Kebiasaan yang berada di luar kelas sosialnya! 

Saya asal saja menamakannya pathological habitus. Habis, saya melihat agak gila penyakit habitus ini. Pendapatannya berapa, ingin belinya apa. Pendapatan dua juta perbulan tapi menginginkan gaya hidup selevel selebriti yang memang sehari bisa mendapatkan puluhan juta. Ini ada apa sebenarnya? Mengapa, kelas bawah ikut-ikutan terbawa arus habitus kelas di atasnya? 

Tidak, saya tidak bias kelas menengah. Saya malah mendorong kelas bawah untuk mobilitas vertikal. Tapi, penting juga untuk tahu konteks. Tahu diri, bahasa kasarnya. Berasal dari kelas mana untuk bergaya hidup seperti apa itu yang jarang disadari. Kapitalisme benar-benar meninabobokan, dengan iklan-iklan yang setiap hari menggempur pertahanan kelas bawah. Kelas bawah lama-lama tidak tahan juga untuk, misalnya, beli Kawasaki Ninja. 

Hidup kan cuma sekali...

Saya paham dengan adanya kecemburuan sosial. Itu wajar sekali dalam masyarakat yang baru berkembang seperti Indonesia. Tetangga-tetangga yang tadinya sejajar kelas sosialnya, belakangan mulai renggang. Satu dua keluarga mulai meninggalkan yang lainnya karena keberuntungannya. Atau, karena kerja yang lebih keras. Tetangga itu mulai beli-belian mobil Alphard sementara yang lainnya masih setia dengan Honda Vario. Ini kan nyakitin juga, nyelekit gitu. Lama-lama kan ndak tahan juga untuk beli Alphard. Ya kalaupun tidak bisa, beli yang di atas Vario-lah, Ninja misalnya. 

Tapi, kenapa bisa begitu? Benarkah, bahwa kapitalisme telah melahirkan penyakit habitus yang keluar dari kelas sosialnya? 

Saya heran saja begitu banyak orang yang merelakan dirinya untuk membeli barang-barang yang tidak affordable, tidak terjangkau kantongnya. Kelas menengah bawah tapi selalu bermimpi membeli mobil, bukannya investasi di bidang yang lebih produktif, misalnya. Kelas bawah ingin menggunakan make up Maybelline, atau Revlon, yang digunakan selebriti papan atas. Aduh, rasa-rasanya, tidak ada yang tidak mengalami ini. Kecuali anda berasal dari kelas atas yang telah lama mapan. Atau, anda sufi yang telah melepaskan atribut duniawi. 

Lho apa yang salah dengan mimpi-mimpi itu?

Tidak ada yang salah sebenarnya. Toh ini negara merdeka, bebas untuk bermimpi apa saja, termasuk untuk membeli barang yang tidak terjangkau. Hanya saja, saya lucu melihatnya. Apa ya, nampaknya berhasil betul bidang periklanan membuat massa terbuai barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Massa tidak lagi konsumtif. Massa mengalami patologis habitus. Kebiasaan, sikap, dan pandangan yang keluar dari posisi objektifnya. Kelas bawah memiliki habitus kelas menengah. Kelas menengah memiliki habitus kelas atas. 

Mungkin hanya kelas atas yang tidak memiliki pathological habitus ini... Tetapi, siapa sebenarnya kelas atas itu?

Oiya, saya lupa menceritakan. Saya tidak menilai bahwa penyakit ini buruk, apalagi hina. Ini hanya jenaka bagi saya. Karena jenaka dan konyol itulah, saya rasa perlu untuk menceritakannya. 

Oiya, sebagai catatan, rasa-rasanya saya juga sudah mengalami pathological habitus level kronis!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang