Sang Penafsir

Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya" - Pramoedya Ananta Toer

Saya terheran-heran - layaknya pembukaan ala Comic Stand-Up Comedy di Indonesia - melihat kondisi sosial di era socmed. Semua orang menjadi komentator. Semua orang berlomba menafsirkan kehidupan. Ini sudah hukum alam rasanya. 

Saya jadi rindu masa kecil tanpa internet. Saya tidak pusing-pusing membaca seluruh penafsiran tentang kehidupan, dari yang banal sampai analitik. Lagipula, saat saya kecil saya tidak banyak membaca dan mendengar penafsiran orang lain, paling-paling, penafsiran kedua orang tua dan guru ngaji saya yang benar-benar menyejukkan. Tapi, saya rindu masa itu. 

Saya rindu masa-masa, entah pernah terjadi atau belum, pemuka agama Islam yang berkualitas menjadi sumber penafsiran. Andaikata saya atau anda gagal menangkap penafsirannya pun, toh penafsiran kita didapatkan dari sumber yang berkualitas. Lha sekarang? 

Bukan otoritas saya sih untuk melarang atau membolehkan pemuka agama, analis politik, budayawan dan para penafsir lain untuk mengemukakan tafsirannya untuk orang lain. Tapi, agak bete juga melihat mereka-mereka yang belum legitimate omong banyak. Bukan karena saya, mungkin juga anda, merasa lebih tahu atau lebih baik penafsirannya, tetapi karena tafsiran mereka berpotensi membodohkan dan hal negatif lainnya. Jadi, penekanannya bukan pada kesombongan kita, tapi pada pengaruh tafsiran para manajer masyarakat tersebut pada anak-anak, ibu-ibu atau siapapun, yang masih rentan dan sensitif terhadap tafsiran tersebut. 

Kok saya terlihat otoriter ya? Membatas-batasi kebebasan orang lain? Bebas aja lah, negara demokrasi ini! 

Ini. Saya sering mendiskusikan hal ini dengan teman-teman. Bahwa demokrasi di Indonesia kok kekanak-kanakan banget gitu lho. Mentang-mentang baru bebas, eeh seenaknya aja. Apa bedanya dengan anak-anak yang baru dibolehkan main dengan temannya, eh sekalinya main langsung ngembat mainan temennya

Maaf, saya tahu analogi saya buruk. Tapi intinya sama: kebebasan tanpa tanggung jawab. Mungkin sebagian dari anda ada yang bosan dengan dua bahasa demokrasi ini. Tapi, beberapa orang masih melupakan satu bahasa itu. Mentang-mentang bebas, eeh nggak perhatiin akibat dari tindakannya. Anda pasti tahu contohnya, banyak kok

Saya pernah baca debat Taufiq Ismail dengan siapa gitu, pokoknya ngomongin Sastra. Taufiq Ismail merasa ada satu sekte sastra yang membahayakan generasi, sekte itu ia namakan Sastra Mazhab Selangkang (SMS). Kalau saya tidak salah, ia merasa tidak ada substansi dari sastra sekte tersebut selain mengurus masalah selangkangan. Dan, menurutnya, kondisi itu tidak hanya pada ranah sastra saja. Sastra hanya bagian yang memperlancar dari arus pornografi di Indonesia.

Katakanlah saya konservatif yang anti perubahan, mengagung-agungkan masa lalu dengan tradisi dan agamanya, saya akan terima. Kalau yang anda katakan liberal adalah membebaskan segalanya, terutama ekspresi manusia, lantas sastra juga terbebas dari 'beban' edukasional atau sosial-nya, maka liberal bagi saya adalah omong kosong. Masalahnya bukan pada slogan liberal - konservatif yang bisa anda pakai kapan saja pada berbagai ranah dan berbagai kepentingan anda. Masalahnya lebih mendasar dari itu. Ia bernama tanggung jawab sosial. 

Kalau dengan bendera liberal saya mampu menjustifikasi perlunya sastra selangkang di Indonesia maka saat itu juga liberalisme saya tidak mendewasakan saya. Bukan apa-apa, saya agak ngenes melihat di antara para penggemar sastra selangkang itu banyak juga akhwat-akhwat yang masih di bawah umur, kelihatannya. Bukannya membaca Sirah Nabawiyah misalnya, mereka malah membaca buku-buku yang isinya seks, perkosaan, dan hal-hal menyangkut selangkangan lainnya. Memang, beberapa mungkin bisa berargumen bahwa perkosaan itu realitas sosial dan seks itu suci sehingga tidak ada rasa tabu membicarakannya. Saya menerima argumen tersebut dan berupaya memahaminya. Tapi, tantangannya tidaklah berhenti pada argumen saja. Kalau dengan justifikasi argumen lantas merasa benar, apa bedanya dengan Jihadis dan para teroris? Mereka kan juga berargumen dan merasa benar toh? Tantangannya terletak pada implikasi dari suatu tindakan dan tanggung jawab sosialnya. Lagipula, seberapa penting sih itu dibaca dibanding sumber-sumber yang lebih substantif?  

Dan juga tantangan ala Taufiq Ismail yang lebih berlipat lagi untuk membuktikan 'guna' dari sastra tersebut.

Ternyata, saya benar-benar konservatif.

Tulisan ini adalah tulisan santai saya dalam mengomentari para penafsir tersebut. Yang terjadi adalah, saya menafsiri para penafsir. Dan itu wajar. Bukankah kita melihat sehari-hari, pengamat politik di televisi dikomentari pengamatannya oleh pengamat di Twitter? Lebih jenaka lagi, pengamat di Twitter pun masih diamati oleh pengamat yang lain. Saya tidak tahu sampai berapa pengamat. Jadilah kehidupan kita ini sebagai suatu gelombang komentar yang tidak berujung. Dan komentar itu, maya sifatnya. Tapi nyata implikasinya. Saya misalnya, bisa tersentak oleh satu tweet saja yang menjelek-jelekkan Jokowi. Walaupun saya tahu bahwa itu hanyalah tafsiran yang belum tentu benar, meskipun argumen dan narasi eksplanatifnya oke juga, nyatalah dampak yang maya terhadap yang nyata. 

Omong-omong sebagai penutup tulisan ringan ini, apa sih yang nyata? Apa sebenarnya realitas ultim manusia? 

Waah, saya baru saja membuka peluang tafsir-tafsir kehidupan yang canggih. Betul sekali Bapak Pramoedya, hidup kita sederhana. Tapi tafsiran, dan socmed, yang membuatnya makin riuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang