Ayat Al-Qur'an Yang Tercecer-Cecer
Saya sedih sekali setiap ada tulisan, terkhusus artikel, yang dengan cerobohnya mengambil ayat Al-Qur'an untuk membela logika yang digunakan si penulis, demi sebuah topik besar yang berpotensi mengaburkan makna Islam. Saya tidak tahu bagaimana kondisi agama lain, mungkin ada juga yang seperti ini. Saya tahu saya bukan ahli tafsir, tapi saya tahu bagaimana penulis membangun logika, argumen beserta konklusi di tulisannya. Mengerikan betul rasanya, melihat ayat Al-Qur'an yang turun beserta konteks kelahirannya seakan "diperkosa" untuk kepentingan penulis.
Jujur saja, saya resah dengan gaya penulisan seperti ini. Wajah Islam terlihat penuh dengan kebencian. Mengkafir-kafirkan, menjelek-jelekkan dan segala atribut provokatif rasanya akrab sekali dengan Islam. Saya, mungkin juga anda, khawatir wajah Islam terdistorsi dengan tulisan-tulisan seperti ini. Padahal, kalau kita teliti cara berpikir penulisnya, kita akan temukan error disana sini. Anda bisa bayangkan bagaimana kelanjutannya.
Penulis-penulis penuh kebencian seperti ini, mungkin, merasa hanya dirinya dan kelompoknya-lah, yang diridoi Allah. Tapi, kita tahu bahwa logika dan argumen bukan perkara diridoi Allah atau tidak. Ada peraturan main yang harus kita pahami dan gunakan bersama. Kegagalan memahami aturan main itu hanya membuat penulis terlihat kekanak-kanakan, kalau tidak pandir. Kita bisa perhatikan dengan sekilas, tulisan-tulisan yang penuh kebencian itu rata-rata berbasis emosi saja. Hampir tidak ada pergulatan intelektual di dalamnya. Boro-boro menuliskan asbabun nuzul, konteks turunnya, ayat Al-Qur'an. Untuk menuliskan alasan sederhana mengapa mereka memilih beberapa ayat Al-Qur'an sebagai bagian utuh tulisannya saja tidak! Kondisi ini membuat Islam terlihat seperti agama "kemarin sore", yang emosional, bodoh dan irrasional. Padahal, menurut saya, Islam adalah agama yang matang. Islam mengajak seluruh manusia untuk berpikir dengan logis, clear dan sistematis.
Yang sangat disayangkan adalah, tulisan penuh kebencian tersebut memiliki pengaruh yang tidak kecil. Saya bisa bayangkan puluhan, mungkin bisa ratusan, orang yang terprovokasi membacanya, atau setidaknya berubah pandangan hidupnya akan keislaman yang dianutnya. Misal, yang tadinya menganut Islam ramah menjadi penganut sejati Islam marah. Kita hanya tidak tahu pengaruh tersebut. Dari kondisi tersebut, kelihatannya Islam sedang bersemangat "membakar" Muslim untuk selalu dalam kondisi penuh kebencian. Saya jadi teringat satu ungkapan, yang sayangnya saya lupa milik siapa, yang menarik untuk kita renungkan.
Siapapun yang tidak merasakan surga di dunia, tidak akan merasakan surga di akhirat.
Saya pernah membaca dengan seksama satu artikel yang isinya benar-benar penuh kebencian. Saya perhatikan bagaimana si penulis berpikir, mengapa ia berpikir seperti itu sampai pada isi paragraf akhir yang khas berupa panggilan untuk bertindak. Menurut saya, untuk ukuran jenis tulisan yang provokatif seperti itu, penulis harus mengemukakan secara jelas epistemologi, dan, metodologinya.
How do you know what you claim you know? How can you jump to this conclusion?
Bagaimana anda bisa tahu bahwa anda tahu? Bagaimana anda bisa sampai pada kesimpulan ini?
Kita bisa gunakan banyak perangkat berpikir untuk menjawab pertanyaan di atas. Kita bisa gunakan sumber pengetahuan tradisional, otoritatif, emosi atau cukup pada logika formal semata, dengan tanggung jawab tentunya. Kalau ingin dikatakan ilmiah, ada cara menjawabnya, yang dinamakan dengan metode. Metode inilah yang berpengaruh besar pada kesimpulan (sementara) yang kita dapatkan.
Kalau saja anda dapatkan tulisan mengenai Islam, yang sedari asumsinya saja sudah mencurigakan, anda perlu berhati-hati. Sebagai pembaca yang bijak, anda akan ikuti dengan runut bagaimana sistem berpikir si penulis sampai pada kesimpulan. Walaupun anda bisa juga memilih untuk berhenti sedari paragraf kedua atau ketiga, paragraf yang seringkali berisi kalimat metodologis, yang menunjukkan bagaimana cara berpikir menuju kebenaran si penulis.
Oh, maafkan saya yang berputar-putar.
Hal lain yang patut dicatat adalah kondisi demokratis dan kebebasan beragama di Indonesia. Kondisi ini membuka kemungkinan untuk siapapun menginterpretasi kandungan dan makna ayat Al-Qur'an. Memang, setiap manusia memiliki kemampuan untuk memaknai teks apapun yang mampu dibacanya. Hanya saja, saya menyayangkan kecerobohan orang yang belum fasih menafsirkan Al-Qur'an. Seakan-akan, Al-Qur'an adalah teks yang ahistoris, ia turun begitu saja pada hari ini, tanpa ada alasan yang melatarbelakanginya.
Al-Qur'an malah ditafsirkan sesuka hatinya, dan yang lebih parah lagi, untuk mendukung kepentingannya, entah politis atau ekonomi. Dari kondisi tersebut-lah akhirnya saya bisa memahami mengapa tradisi intelektual dalam Islam begitu hierarkis. Sederhana, karena memang tidak sembarang orang untuk memahami keilmuan Islam. Butuh waktu puluhan tahun untuk bisa memahami kandungan dan makna ayat Al-Qur'an, dengan cara yang ketat sekali. Anda harus "berdarah-darah" terlebih dahulu untuk mampu secara komprehensif, bila mungkin, mehamami semangat dan ajaranNya.
Masalahnya adalah, manusia sekarang hidup di era instan. Semua ingin instan, termasuk memahami Islam. Baru saja selesai membaca pemikiran Gus Dur tentang Islam misalnya, sudah merasa tahu segalanya (semoga saja kita tidak). Baru mendengar ceramah ustadz, yang kita patut curigai cara berpikirnya sampai kesimpulannya, sudah berkoar-koar seakan-akan sudah pantas menjadi mujtahid Islam. Saya bisa memahami semangat 'puber' Islam seperti ini, saya mengenali beberapa - mungkin saya juga dulunya. Tapi, kita harus segera insyaf bahwa butuh waktu untuk bisa memahami Islam sebaik-baiknya, kalau bisa, seutuhnya. Ya, Islam yang seutuhnya. Tanyakan saja pada Imam-Imam besar itu, yang semakin mengetahui keluasan Islam, semakin menunduk pula mereka. Mereka sangat rendah hati justru di saat pengetahuan mereka semakin meluas.
Kondisi demokratis dan kebebasan beragama dalam pandangan saya tidak berarti siapapun bebas menafsirkan Islam, terkhusus ayat Al-Qur'an, sesuka hatinya. Saya tidak setuju dengan konsepsi kesetaraan dalam intelektualitas Islam. Apabila anda pernah mendengar sebagian dari ungkapan yang bersemangat sama seperti "kesetaraan posisi penafsiran ayat Al-Qur'an", maka bisa saya pastikan itu omong kosong. Tidak ada yang setara mengenai penafsiran Al-Qur'an. Al-Qur'an berbeda dengan buku lain yang bisa kita pahami sepenuhnya dalam sehari dua hari, atau bahkan sejam dua jam. Artinya, orang tidak bisa secara sembarangan mengambil ayat Al-Qur'an untuk menjustifikasi opininya, apalagi yang kontroversial dan provokatif itu.
Di sisi yang lainnya, saya juga menyayangkan pilihan sikap beberapa intelektual Islam, yang sudah tahu seluk beluk penulisan "Islam marah", dan tidak setuju dengan "Islam marah", justru melayangkan kritiknya dengan cara yang sama provokatifnya. Istilahnya, keduanya berada dalam titik ekstrem. Dalam menyampaikan poin mereka, bahwa Islam bukan-lah Islam yang bersifat marah-marah, intelektual Islam itu ironisnya justru memprovokasi kemarahan beberapa Muslim. Walaupun secara argumen bisa diterima, cara ini rasanya kurang bijak. Dengan kata lain, argumen tersebut 'tidak cukup sejuk' untuk diterima secara lapang dada.
Konon, manusia itu, selain makhluk rasional, juga makhluk emosional. Sebaik-baiknya argumen akan sulit - untuk tidak mengatakan tidak - diterima dengan lapang dada, apabila lahirnya argumen tersebut didahului oleh penolakan emosional. Maksudnya, otak manusia memang mampu menerima semua argumen. Tetapi hati manusia-lah, dalam beberapa kasus, yang harusnya diyakinkan terlebih dahulu.
Jikalau ada di antara anda yang merasa berkontribusi terhadap "Islam marah", saya ingin memberitahu anda untuk bersegera mawas diri. Reflektif-lah dengan keislaman yang anda anut. Saya bukan seorang ustadz, bukan juga mufassir, apalagi intelektual Islam. Saya hanya Muslim biasa, yang resah dengan wajah Islam yang marah-marah. Tidakkah anda merasakan di hati anda kerinduan akan Islam yang damai, tenang, dan sejuk? Bukankah segala tulisan anda merupakan upaya anda dalam berdakwah, mungkin juga jihad, kepada Muslim yang lain? Kalau ya, apakah anda berdakwah dengan hanya berfokus pada upaya memperlihatkan betapa busuknya kaum yang lain? Kalau begitu, saya bisa tanyakan, nilai Islam yang mana yang anda ajarkan ketika anda, intelektual Islam-nya, justru berfokus sepenuhnya pada kondisi kaum yang lain?
Saran saya, berdakwahlah dengan ajaran Islam yang damai, inklusif dan menyegarkan jiwa. Percayalah, Islam terlihat lebih baik bagi manusia, Muslim maupun Non-Muslim. Tunjukkan bahwa Islam adalah agama rahmatan lil-alamiin, rahmat bagi semesta alam, dalam seluruh ruang dan waktu. Baik itu alam-nya Muslim maupun Non-Muslim, sekarang maupun nanti.
Tiba-tiba saja saya teringat lagu yang dahsyat sekali. Sebenarnya, saya tidak tahu percis makna sebenarnya lirik lagu itu, tapi ada bagiannya yang menyentuh saya. Mungkin, si penulis juga merasakan kegalauan dan keresahan yang, walaupun beda secara teknis, tetapi sama secara substansi dengan apa yang saya alami.
"Katamu kau cinta aku...
Demi Tuhan kau bersumpah...
Meski kau harus jual murah...
Ayat-ayat suci Tuhan...
Begitu mudah mulutmu mengucap...
Atas namakan Tuhan demi kepentinganmu...
Atas nama... Cinta saja...
Jangan bawa... nama Tuhan"
Dewa 19 - Atas Nama Cinta
Komentar
Posting Komentar