Orang-Orang Yang Mengajak Buka Bersama
Mengherankan saya melihat masih ada banyak sekali orang yang masih mau repot-repot mengajak buka bersama di bulan Ramadhan. Melihat percakapan di Whatsapp, yang isinya omong kosong dan tidak ada poin pentingnya kecuali melingkar-lingkar saja. Tidak ada kejelasan, tidak ada mufakat, semuanya berbeda pendapat tetapi setuju bahwa bukber harus diadakan. Apa namanya ini?
Belum selesai disitu, keanehan-keanehan ajakan bukber ditambah dengan selalu adanya orang-orang yang rela berlelah-lelah meladeni ketidakjelasan itu. Bukan bermaksud untuk nyinyir, tapi bukankah melelahkan meladeni permintaan yang terlalu banyak itu? Ada yang mau hari ini, tetapi ada yang tidak bisa, maka terpaksalah obrolan diulang lagi dari awal. Ini lucu karena saya tidak bisa membayangkan diri saya ditendang kesana kemari oleh wacana abstrak itu. Tapi, dunia ini adalah, dan memang akan selalu begitu, tempat keheranan berada. Ada saja orang-orang yang mau, ada saja.
Percaya sama saya.
Percaya sama saya.
Bagus memang niatnya untuk mempererat tali silaturrahmi, entah teman SD hingga kuliah yang seangkatan maupun tidak. Luar biasa orang-orang tipe ini. Saya merasa ingin memunculkan wacana untuk memberikan reward bagi mereka yang cape-cape mengurusi urusan bukber ini. Ribetnya menentukan tempat dan waktu yang tepat bisa disetarakan dengan rapat-rapat legislatif disana. Mufakat adalah suatu hal yang mesti diperjuangkan, bukan hanya dengan logika, tetapi juga dengan kesabaran. Akan selalu ada tipe nyusahin. Mereka ini kalau di Whatsapp selalu susah untuk berdamai. Begitu kesepakatan tiba, dan di hari H buka bersama, orang tipe ini bisa tidak hadir karena sakit perut, tidak mood, atau alasan-alasan yang tidak masuk akal lainnya.
Percaya sama saya.
Percaya sama saya.
Makanya, dimulai dari sekarang, para pengajak bukber yang rela berlelah-lelah baiknya dibayar dengan professional. Pay-per-person. Semakin banyak yang bisa datang dari suatu angkatan, makin banyak juga kita bayar mereka. Kita tidak bisa hidup dengan terima kasih saja. Kita butuh lebih dari itu, apalagi untuk mengurus bukber. Dari budget yang ditentukan untuk bukber, sisihkanlah 10%-20% untuk panitia ini. Silaturrahmi tidak akan awet, apalagi erat, kalau tidak ada orang-orang ini.
Sejauh ini, mereka yang berhasil mengadakan event bukber malah diberikan beban yang sama pada tahun-tahun berikutnya. "Beban" untuk foya-foya datang ke tempat makan yang hits tidak berkurang, malah bertambah. Seenaknya saja, kita-kita yang merasa sibuk, merasa jauh dari peradaban bukber, dan alasan-alasan lain, menyuruh panitia tahun kemarin agar melakukan tugas yang sama. Ya Tuhan, tahukah kalian betapa susah dan ribetnya mengurus pertemuan satu angkatan?!
Saya akui, saya memang termasuk tipe yang tinggal datang, makan, poto, lalu selesai. Saya akan doakan kesuksesan pada teman-teman saya setelahnya, lalu berharap bisa dipertemukan kembali pada momen-momen kehidupan selanjutnya. Semakin saya dewasa semakin saya sadari bahwa mengatur pertemuan satu angkatan adalah hal yang bukan saja luar bisa sulitnya, tetapi membuang-buang waktu saya yang tidak sabaran ini. Makanya saya salut pada mereka yang mampu dengan segala kemampuannya meng-arrange pertemuan macam bukber itu. Saya doakan semoga Allah Yang Maha Kaya memberikan mereka rezekiNya yang barokah dan banyak itu. Aamiin.
Komentar
Posting Komentar