Ramadhan dan Kenangan Masa Kecil

Begitu banyak yang sedih, atau sekedar nostalgik, begitu Ramadhan datang menghampiri. Bisa kita lihat secara langsung maupun online pengakuan-pengakuan mereka yang sedih karena Ramadhan datang. Bila masih belum dapat feelnya, sila putar kembali lagu-lagu Haddad Alwi, yang mengiringi Ramadhan anak-anak bocah se-Nusantara generasi 90-an seperti saya. Bagaimana rasanya? 

Memang, upaya itu terlalu generalisir situasi Ramadhan. Tapi, kurang lebihnya ada yang merasakan sama dengan saya bahwa hanya dengan mendengar lagu-lagu religi, maka memori akan momentum itu akan muncul dengan sendirinya. Dan kita hanya bisa tersenyum, betapa waktu dan momentum yang tidak abadi itu telah berlalu meninggalkan semuanya dengan jejak perasaannya masing-masing.

Mengapa Ramadhan nostalgik? Adalah pertanyaan yang saya coba perjelas disini. 

Banyak yang menjawab karena kebersamaan itu tidak ada lagi. Apapun itu kebersamaannya, bisa kebersamaan keluarga (ini yang paling penting), kebersamaan rekan-rekan masa kecil, baik rekan sekolah maupun rekan rumah, ataupun sekedar kebersamaan di masjid sebagai anak kecil yang polos. Kita merasakan bahwa Ramadhan adalah momentum paling tepat bagi keluarga-keluarga untuk tidak mementingkan diri sendiri dan mulai memperhatikan yang lainnya. Alhamdulillah, kondisi ini saya rasakan bersama keluarga saya sedari kecil, hingga sekarang. Rasanya betul pesan utama sinetron Keluarga Cemara bahwa Harta yang paling berharga adalah keluarga. Tanpa keluarga, dunia beserta isinya tidak lagi bermakna apa-apa. Semua hanya tentang kesuksesan, tentang siapa menjadi apa, dan tentang menang, menang dan menang. 

Saat masih kecil, anak-anak yang baru belajar puasa merasakan betul bagaimana beratnya berpuasa sebagai amatir. Mulai dari bangun sahur saat kantuk masih luar biasa hingga bagaimana dunia membuat mereka haus luar biasa pada pukul 11.00-an, anak-anak ini ditempa oleh keluarga mereka di rumah agar yakin mereka mampu puasa hingga maghrib nanti. Kalau saya, yang paling meyakinkan saya adalah ibu. Beliaulah yang terus-terusan menyemangati saya ketika saya merasa tidak mampu lagi menahan haus dan lapar. Dan inilah yang paling penting: pesan semangat keluarga tidak pernah terasa omong kosong, klise, bohong-bohongan. Pesannya terasa bagi anak kecil seperti saya bahwa ibu saya benar-benar menginginkan saya mampu. Percaya sama saya, saya tidak sendirian merasa seperti ini di lingkungan keluarga muslim seluruh dunia. 

Subhanallah, Indahnya Islam.

Kebersamaan bersama keluarga dari sahur hingga tarawih inilah yang akan terus dikenang hingga dewasa. Memori-memori itu tidak utuh memang tetapi nostalgik dan menghanyutkan. Apalagi, ditambah situasi yang berbeda saat Ramadhan sekarang. Katakanlah, kehilangan satu anggota keluarga. Kita bisa mengingat bagaimana bolongnya Ramadhan kita tanpa satu saja anggota keluarga kita, siapapun dia. Maka bersyukurlah mereka yang masih lengkap anggota keluarganya, karena mereka tidak pernah tahu bagaimana rasanya kehilangan. 

Ramadhan benar-benar menyucikan hati kita sedari intinya. Kita bisa berhenti dari kebisingan duniawi kita pada sebelas bulan sebelumnya, lalu untuk sejenak merenung sudah buat apa usia kita selama ini. Sudah benarkah jalur kita, sudah sesuaikah dengan petunjukNya? Hal-hal ini memang bisa saja dilakukan kapanpun, tapi Ramadhan adalah momentum paling tepat. Kita semua merasakan bagaimana RahmatNya meliputi segala semesta, sehingga rasanya seluruh isi bumi benar-benar memaafkan dan mengampuni kita yang khilaf dan penuh dosa ini.

Cerita mengenai kebersamaan Ramadhan memang tidak ada habisnya. Selain bersama keluarga, kita mengalami kebersamaan, atau lebih tepat dikatakan kegilaan, bersama rekan-rekan sebaya. Bersama mereka, kita bisa bermain dari sahur hingga tengah hari tanpa merasakan haus dan lapar (Haus dan lapar itu barulah terasa saat pukul 4 sore, dan percayalah, itu adalah masa-masa anak kecil seperti sekarat saja). Kita perang sarung, kita main bola, kita main bentengan, kita main petasan tanpa takut celaka, kita pencet bel rumah orang, semuanya hanya untuk kepuasan sendiri. Betapa jenakanya masa-masa itu, dan tanpa sadar orang yang nostalgik meneteskan air matanya. Betapa bahagianya Ramadhan dengan cerita-ceritanya yang unik. 

Sekarang, saya mengetik tulisan ini di balik komputer sambil bertanya-tanya: Bagaimana rasanya menjadi mereka yang tidak merasakan kebersamaan dari indahnya Ramadhan? Membayangkannya saja saya tidak mampu. Ramadhan buat saya, selain momen penyucian diri, adalah tentang kebersamaan yang tidak dibuat-buat. Kebersamaan yang autentik yang terbangun atas kasih sayang satu manusia dengan manusia lain, yang dirahmati, dilindungi dan diberkahi selalu oleh Penciptanya.

Tak lupa salam selamat kita ucapkan pada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW. Yaa Allah, terima kasih, terima kasih, atas nikmatMu yang tak henti-henti.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang