Workliday
Alhamdulillah. Belum lama ini, saya berkesempatan mengunjungi negeri jiran untuk kedua kalinya. Kesempatan yang langka sekali di tengah kesibukan rutin yang mematikan peluang untuk sering berjalan dan berpikir mengamati duniaNya.
Berbeda dengan pertama kali mengunjunginya, kunjungan kedua terasa hambar. Kering, tanpa pemaknaan, tanpa kedalaman. Kunjungan pertama begitu dinikmati, juga begitu besar kemungkinan untuk bisa memaknai arti hidup melalui perjalanan. Mungkin karena ini dilakukan pasca melakukan tugas dinas yang melelahkan itu, mungkin juga karena perbedaan suasana siapa yang menemani perjalanan itu. Yang jelas, Singapura dan Malaysia terasa kering tanpa dapat diketahui penyebabnya.
Meskipun begitu, setiap perjalanan memiliki memori dan keunikannya masing-masing. Willayah yang saya kunjungi berbeda dengan lima tahun lalu, sehingga berbeda pulalah feeling saya terhadap perjalanan. Kali ini, saya merasa bahwa saya bisa dan lebih mungkin untuk hidup disana dibanding lima tahun lalu. Mungkin karena faktor keberanian? Kedewasaan? Kepercayaan diri karena sekarang menjadi professional? Atau sekedar keinginan? Saya tidak tahu. Yang pasti, perasaan itu ada.
Di Malaysia, saya terheran-heran akan kemampuan pemerintahnya untuk mempromosikan pariwisata mereka sebagai Truly Asia. Pertanyaan saya makin mantap sekarang setelah dua kali mengunjunginya, apanya yang Truly Asia? Sebagai orang Indonesia kelahiran Jakarta, saya merasa begitu hiperbolnya ungkapan itu. Jangan dulu lah dibandingkan dengan Indonesia, dibandingkan dengan Jakarta saja sudah terlihat bagaimana keunggulan kebhinnekaan itu. Disana, Kuala Lumpur, saya banyak melihat warga India, mungkin sedikit Bangladesh, beberapa bule yang saya tidak tahu warga negara mana, banyak China dan lebih banyak lagi Melayu. Ini memang kesimpulan yang terburu-buru, tapi itulah yang saya rasakan sedari pertama kali mengunjunginya.
Singapura juga.
Singapura benar-benar membosankan. Benar-benar kering, tanpa kedalaman. Bertambah lagi keheranan saya terhadap dunia ini, kok bisa-bisanya warga Singapura hidup dalam kondisi statis seperti itu? Apa-apa diawasi, apa-apa kena sanksi, apa-apa berdasi. Rasanya, saya seperti memasuki dunia dimana One Dimensional Man itu diakui eksistensinya. Manusia seakan-akan menjalani kehidupan yang sama: mereka tinggal di tempat yang bangunannya sama, mereka bekerja dengan gaya yang sama dan mereka makan dengan makanan yang itu-itu saja. Betapa membosankannya menjadi warga Singapura.
Tapi berbeda dengan Batam.
Workliday kali ini saya berkesempatan mencicipi inci per inci tanah Batam. Syukurnya, saya menikmatinya. Mungkin karena kali ini saya bisa lebih mengeksplor beberapa kekhasan wilayahnya, khususnya kuliner dan tempat ikonik disana, dengan lebih santai. Waktu saya cukup banyak untuk mengelilingi kota ini. Batam bagi saya bukanlah sekedar simbol pesatnya kemajaun perdagangan, apalagi sekedar tempat transit menuju Singapura. Batam adalah satu kenangan kecil, tetapi terasa lega, akan kerinduan saya terhadap waktu luang yang sulit diraih.
Komentar
Posting Komentar