Jawaban Itu Bernama Jamie Vardy
Sudah lama saya menunggu kedatangan tipikal striker seperti Jamie Vardy. Cepat, mandiri dan tajam. Ia bisa menggiring bola sendirian dari break yang sungguh secepat kilat. Striker sepertinya tidak butuh gaya bermain yang lambat layaknya Barcelona ataupun Bayern Munchen: Ia hanya butuh satu atau dua sentuhan (mungkin ia tidak betah tiga kali menyentuh bola) untuk menembak ke gawang. Ia seperti tidak peduli apa yang akan terjadi kemudian. Kalau gol syukur, kalau tidak pun syukur. Yang penting, menghasilkan tembakan. Apa yang terjadi kemudian biarlah terjadi.
Inilah yang perlahan hilang dari striker sepak bola modern.
Mereka terlalu banyak menunggu. Menunggu momentum agar memastikan bola yang ditembaknya berhasil masuk ke gawang. Memang, ini memperbesar peluang secara akurasi, tapi tidak secara momentum. Dan momentum inilah yang mahal dalam sepak bola modern yang penuh dengan pressing ketat. Vardy adalah salah satu favorit saya, di samping Luis Suarez yang saya benci karena bermain di Barcelona, yang mampu secara tepat menerjemahkan lalu memainkan cara main striker yang efektif.
Menarik untuk melihat kiprahnya di bawah tim yang berbeda cara bermainnya. Katakanlah, Tiki-Taka. Akankah ia akan sama killernya? Akankah ia menjadi Vardy yang lain? Saya kira Euro 2016 akan menjadi pembuktian bagaimana cara bermain Hodgson, yang tidak jelas itu, akan menentukan cara bermain Vardy sebagai striker. Akankah kalau timnya memainkan possession football, yang jarang sekali dimainkan Ranieri di Leicester City, ia tetap memainkan satu dua sentuhan untuk kemudian shoot? Istilahnya, gaya main satu, dua, shoot itu sudah Vardy banget.
Untuk memperjelas perbedaan Vardy di antara striker modern lainnya, tidak perlu jauh-jauh. Bandingkanlah dengan Harry Kane dan Sturridge. Vardy jelas jauh lebih simpel dan efektif dibanding Kane yang lambat dan Sturridge yang mudah kehilangan momentum. Vardy menjaga momentumnya dengan instingnya yang selalu menganggap bahwa bola untuk dimasukkan ke gawang, bukan diputar-putar di lapangan. Ia selalu melihat ke depan, dan itulah letak kesukaan saya.
Di tengah krisis striker ideal, saya kira Vardy adalah jawaban bagi para pelatih yang haus akan tembakan ke gawang. Ia tidak berbasa-basi, ia memberikan jawaban langsung: sorry coach but i am a striker and i have to strike the ball!
Komentar
Posting Komentar