UNIVERSITY OF INDONESIA IS FOR REAL
Begitu tau bahwa pengumuman SIMAK UI dimajukan menjadi hari sabtu, 8 Mei dari tanggal sebelumnya 15 Mei, saya begitu harap-harap cemas di hari sebelumnya. Manalah mungkin tak cemas, UI bung! Universitas yang sangat amat dinanti-nanti berjuta umat untuk melanjutkan studinya. Universitas yang banyak sekali melahirkan calon-calon pemimpin bangsa. Universitas yang asri lingkungannya. Universitas yang menjadi cikal bakal Ibu SMI menjadi Managing Director World Bank. Universitas yang berada di peringkat 201 dunia, 1 di Indonesia. Dan yang paling penting, Universitas dengan jaket almamater paling membanggakan se-Indonesia, as known as Jakun or Jaket Kuning.
Cerita tentang UI tak akan ada habisnya.
Jujur, hari sabtu itu saya bangun dengan rasa harap yang amat besar dalam hidup saya. TERBESAR mungkin. Saya bangun pagi dengan emosi yang amat besar untuk melihat nama saya tercantum di koran kompas (saya mengira yang tercantum di koran adalah nama, bukan nomor ujian SIMAK). Saya bangun, ambil wudhu, shalat subuh, berdoa dengan penuh harap lalu saya berangkat ke pasar dengan ibu saya. Tujuan awal ke pasar adalah membeli koran kompas saja. Akan tetapi, ibu saya dan anaknya juga manusia. Mudah tergoda barang-barang pasar. Saya melihat gelang merah dan saya beli, ibu saya membeli banyak sayur dan kue. Keadaan pasar sangat ramai, sesak! hakh kapan sih jakarta sepi ? bukan jakarta namanya bung kalau sepi, berharap saja!
Melihat loper koran membawakan banyak sekali koran kompas, dibelilah koran itu. Dibawa pulang, digenggam dengan erat. Sampai rumah, koran krusial tersebut langsung dicermati. Wah ternyata, yang tercantum di koran adalah nomor, bukan nama. Terus mencari nomor, satu persatu kolom, jari juga mata dan otak konsentrasi tidak akan melewatkan nomor pencarian. Mulai dari manajemen, ilmu ekonomi, sosiologi (s1) juga perpajakan, perbankan, dan akuntansi (d3).
Kurang lebih 7 menitan, rasa frustasi putus asa menghinggapi pikiran.
"Manusia boleh berencana, namun Allah yang menentukan, bu"
kata yang jujur tersebut terlontar dari mulut. Seketika badan terasa lemas sekali, lebih lemas dari bermain futsal 2 jam lamanya. Tak bisa diungkapkan kecewa pagi itu. SESAK BUNG!
"Manusia boleh berencana, namun Allah yang menentukan, bu"
kata yang jujur tersebut terlontar dari mulut. Seketika badan terasa lemas sekali, lebih lemas dari bermain futsal 2 jam lamanya. Tak bisa diungkapkan kecewa pagi itu. SESAK BUNG!
Memang, Allah SWT dengan kasih dan sayangnya, telah menciptakan makhluk mulia bernama ibu. Ibu saya tak pernah lelah mencari nomor SIMAK saya. Seakan tidak percaya dengan penglihatannya tanpa kacamata, ia menggunakan kacamata plusnya untuk memastikan anaknya masuk ui lewat jalur SIMAK. Guratan wajahnya terlihat serius sekali saat itu. Saya sudah lemas.
"MAS, ADA MAS. ADAAA. ALHAMDULILLAH"
hampir tertidur, saya terbangun dan menanyakan lagi.
"Bener bu ?"
"Bener mas, liat sendiri deh nih"
Saya melihat dengan kepercayaan diri 85%, wuuusss koran saya ambil saya perhatikan nomor di s1 sosiologi satu persatu. 1024902885, YEEESSS !
Lupa daratan, gila mendadak, lompat-lompat bayar nazar, kepal tangan keras-keras. Emosi saya begitu terasa saat itu. SAYA BERHASIL! BERHASIL MASUK UNIVERSITAS PERINGKAT 1 INDONESIA LEWAT JALUR SIMAK!
Alhamdulillahi robbil aalamiin. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Terlontar kalimat syukur dengan spontan dari lidah saya. Sungguh momen yang tidak mungkin saya lupakan dari hidup saya.
Terima kasih, bu. Engkau telah bersusah payah meyakinkan anakmu bahwa anakmu pasti masuk. Sekali lagi terima kasih bu. Engkau bangkitkan lagi semangat anakmu yang telah diujung tanduk. Berkatmu, semangat anakmu berlipat ganda sekarang. 700 Juta kali lipat, 800 juta kali lipat, atau lebih.
Last but not the last, MIND IS THE BEST PRAY. PIKIRKAN ANDA AKAN SUKSES, MAKA ANDA AKAN SUKSES.

Komentar
Posting Komentar