Lika-liku manusia dari mana-mana. Tempat yang memiliki sejuta rasa. Kota dengan jiwanya. Kota dengan keangkuhannya. Kesaktiannya. Kecurangannya. Kemunafikannya. Kota kelahiran, tempat menuntut ilmu, arena bermain, lahan berdagang, sarana rekreasi, ruang tertawa, studio kehidupan. Kata tidak sanggup menggambarkan. Hanya bisa merasakan. Lengkap dan detil. Semua, sedari dulu. Semua, yang berbeda. Beda dan tak akan pernah kembali. Juga tak akan pernah mati. Cintaku belum bisa kutunjukkan. Malah saban hari kulepaskan emosiku. Atas dasar polusi, panas, macet, polusi, macet, macet, emosi. Ledakan-ledakan perasaan kutuangkan di atas tanah yang kering. Hinaan, entah telah berapa kali. Sampai cape pun. Sampai kering tenggorokan. Sampai sakit kepalan tangan. Candaan, perayaan, bahkan bantuan, tidak kumaknai lagi. Jadi biasa di tengah keganasan. Aku semakin miris. Miris karena aku yang saban hari memaki. Memaki namun tidak memberi. Memaki diri sendiri. Apapun, bagaimanapun, kapan...
Komentar
Posting Komentar