Lika-liku manusia dari mana-mana. Tempat yang memiliki sejuta rasa. Kota dengan jiwanya. Kota dengan keangkuhannya. Kesaktiannya. Kecurangannya. Kemunafikannya. Kota kelahiran, tempat menuntut ilmu, arena bermain, lahan berdagang, sarana rekreasi, ruang tertawa, studio kehidupan. Kata tidak sanggup menggambarkan. Hanya bisa merasakan. Lengkap dan detil. Semua, sedari dulu. Semua, yang berbeda. Beda dan tak akan pernah kembali. Juga tak akan pernah mati. Cintaku belum bisa kutunjukkan. Malah saban hari kulepaskan emosiku. Atas dasar polusi, panas, macet, polusi, macet, macet, emosi. Ledakan-ledakan perasaan kutuangkan di atas tanah yang kering. Hinaan, entah telah berapa kali. Sampai cape pun. Sampai kering tenggorokan. Sampai sakit kepalan tangan. Candaan, perayaan, bahkan bantuan, tidak kumaknai lagi. Jadi biasa di tengah keganasan. Aku semakin miris. Miris karena aku yang saban hari memaki. Memaki namun tidak memberi. Memaki diri sendiri. Apapun, bagaimanapun, kapan...
Mungkin benar, ada momen-momen dimana kita merasakan komunikasi yang begitu beda dengan Tuhan. Komunikasi, atau lebih pas disebut rasa, yang langka, yang jarang kita dapatkan. Begitu dekat dan nyata kehadiranNya. Kedamaian serta keikhlasan terasa begitu dalam. Ingin rasanya terus begitu tetapi saya tahu tidak mungkin. Momen langka ini tidak bisa diterjemahkan dalam kata, bagaimanapun indahnya kata. Oleh karena itu, mungkin inilah momen dimana terlepasnya segala keangkuhan, kegaduhan, kesok-tahuan, ketakutan, kecemasan, juga kebrorokan kehidupan. Jangan memaksakan diri untuk mendapatkan momen seperti ini. Karena akan datang waktunya, dengan cara yang tidak pernah diduga-duga. Biarkanlah hidup mengalir dan terus berputar. Terimalah kehidupan sebagai kehidupan, seperti pengalaman manusia yang berhasil menunjukkan berbagai kisah di dalamnya. Terimalah "skenario" kehidupan dengan perasaan ikhlas, "nrimo" walaupun bukan perkara enteng. Belajar ikhlas itu sulit luar ...
Masih bisa berenang di kolam renang itu nikmat. Nikmat selain kenikmatan berenang, juga memiliki waktu santai ketika beristirahat sejenak di pinggiran kolam. Saat beristirahat inilah, yang menurut saya, menimbulkan imaji-imaji tentang masa lalu, masa depan, dan segala imaji yang benar-benar tak terpikirkan sebelumnya. Entah karena apa, imaji tersebut muncul mendadak. Dan saya pun mengalaminya cukup sering, terlebih ketika melihat indahnya awan senja. Seperti tadi sore. Kolam renang juga memiliki kisahnya sendiri buat saya. Sejak kelas 4 SD tepatnya kisah itu bermula, ketika les renang seakan menjadi kewajiban. Entah mengapa, dimanapun kolam renangnya, perasaan untuk terus melihat ke awan selalu muncul. Seakan saya berenang karena ingin melihat keadaan dan bentuk awan. Bukan untuk tujuan-tujuan lainnya. Berada dalam kolam renang juga menghadirkan sensasi yang tidak bisa dirasakan dimanapun. Sensasi santai, rileks dan aneh. Selalu ada perasaan aneh ketika berenang. Aneh kar...
Komentar
Posting Komentar