Memilih 0,5% dibanding 50%
Nyeleneh. Judulnya nyeleneh memang. Kenapa bisa lebih milih kemungkinan lebih kecil dibanding yang lebih besar? Mau main-main? Mau gagal? Yah mau-mau yang buruk lainnya lah kesannya.
Inilah yang gue lakukan saat masa-masa genting kelas XII SMA dulu.
Gue lebih milih yang 0,5% dibanding 50% itu. Gue jelasin dulu maksud persentase ngecap itu. 0,5% itu kemungkinan gue masuk UI, Universitas yang paling diburu oleh seluruh siswa kelas XII se-Indonesia. Paling favorit dan susah masuk situ intinya. Dan 50% itu kemungkinan gue masuk Unair. Universitas di ujung timur Pulau Jawa yang merupakan peringkat 3 terbaik (sepengetahuan gue), dari seluruh Universitas yang tersebar di tanah air. Visit ini deh kalo mau tahu banyak Unair.
Yang jadi pertanyaan, kenapa bisa gue bikin persentase buat dua Universitas itu? Atau Bahasa Liverpoolnya how can I made that percentage?
0,5% itu gue itung ngasal. Tengil aja klo ngasih 1% buat otak-otak kayak gue masuk UI yang tingkat persaingannya luar biasa ketat! Di SMA cuma main-main terus, paling cuma 4 bulan terakhir belajar intensif dahsyat. Intinya, masuk UI itu bukan cuma ngandelin belajar dan doa tapi juga untung-untungan. Ini serius.
50% itu gue tulis karena gue pikir, gue udah diterima di Unair lewat jalur PMDK. Jadi yaa semacam "satu langkah di depan". Waktu ngirimin berkas-berkas itu, gue banyak tukar pikiran dengan guru BK SMA. Dia yang ngasih tau gue betapa kerennya Unair itu dan tetek bengek cara masuk Unair. Singkat cerita, berkas gue diterima. Saat itu gue sementara dapet jurusan Manajemen. Very fantastic! Manajemen Unair itu gak mudah kawan.
Tapi, perjuangan mendapatkan PTN di Indonesia tidak semudah mangap. Banyak rintangan. Nah salah satu rintangan itu adalah ternyata setelah PMDK, Unair masih mengadakan tes masuk sekali lagi. Jadi gak cuma PMDK terus ongkang-ongkong tinggal registrasi pendidikan. Celakanya, tesnya itu barengan SIMAK UI. Jadi, begini gampangnya.
Tes masuk Unair & Tes masuk UI.
Kedua tes masuk PTN tersebut bagaikan Madrid dan Barca, dua bebuyutan. Harus bijak milih satunya dan tega korbankan sisanya. Ini harus milih. Ini tidak mudah. Usia gue waktu itu masih 17 tahun. Belum dewasa untuk memutuskan di saat genting. Ini menyangkut masa depan. Inilah saat-saat yang bisa dibilang paling berat dalam hidup gue. Gak bisa berkata apa-apa. Ini rencanaNya. (Read 8 last sentence with taking a deep breath before!)
Banyak sekali pikiran gue yang bikin hidup terasa semakin bebel. Sulit. Unpredicted!
Di satu sisi, gue udah ngabisin duit ortu, waktu bermain futsal gue, waktu senang-senang bersama kawan-kawan dan waktu main PS tentunya demi les intensif SIMAK di BTA. Kira-kira lima bulanan demi SIMAK UI. Masa iya sih tiba-tiba lebih milih Unair, yang sebelumnya mimpi aja nggak?
Tapi, di lain sisi, gue akan jadi orang yang paling menyesal karena lebih memilih itu tadi. Kemungkinan 0,5%. Guru BK gue sampe bilang gini:
"potong kuping Ibu kalau kamu nggak menyesal karena gagal masuk UI. Unair itu bagus lho. .........."
banyak sekali ucapan pedesnya yang berusaha untuk menggagalkan niat gue masuk UI dan memilih "jalur aman" ke Unair. Ini semakin buat gue pengen ngebuktiin bahwa gue bisa. Gue pantes.
Sorry to say, gue lebih milih UI dibanding Unair. Gue masih nggak bisa bayangin hidup sendiri di kota pahlawan dan banyak alasan lainnya. Ini keputusan juga gue dapet nggak mudah. Banyak konsultasi ke temen dan ortu. Sampah bener nih saat-saat kayak gini. Bener-bener nyiksa. Sampe pernah gue mikir bakalan gak dapet keduanya. Gue bakalan masuk ke Univ. swasta dan guru BK gue bakal ngetawain. Ini adalah "bayangan" terburuk. REALLY BAD SCENARIO!
Singkat cerita, dapetlah gue UI. Meledak bagai bom Hiroshima senengnya. Keputusan mengambil kemungkinan yang gila berakhir manis.
Point yang mau gue sampein di ketikan gue kali ini adalah membuktikan bahwa apapun keadaannya, we must have to choice with our heart! Kita harus milih dengan hati. Gak selamanya otak bisa menentukan. Ada sedikit "spot" hati. Dan saat itu hati gue lebih ke UI. Gue melanggar logika otak. Bisa dibilang keajaiban lah.
"In the end, it doesn't even matter. Follow your passion. At least, you'll be enjoy."
Sekian. Salam Solider!
Inilah yang gue lakukan saat masa-masa genting kelas XII SMA dulu.
Gue lebih milih yang 0,5% dibanding 50% itu. Gue jelasin dulu maksud persentase ngecap itu. 0,5% itu kemungkinan gue masuk UI, Universitas yang paling diburu oleh seluruh siswa kelas XII se-Indonesia. Paling favorit dan susah masuk situ intinya. Dan 50% itu kemungkinan gue masuk Unair. Universitas di ujung timur Pulau Jawa yang merupakan peringkat 3 terbaik (sepengetahuan gue), dari seluruh Universitas yang tersebar di tanah air. Visit ini deh kalo mau tahu banyak Unair.
Yang jadi pertanyaan, kenapa bisa gue bikin persentase buat dua Universitas itu? Atau Bahasa Liverpoolnya how can I made that percentage?
0,5% itu gue itung ngasal. Tengil aja klo ngasih 1% buat otak-otak kayak gue masuk UI yang tingkat persaingannya luar biasa ketat! Di SMA cuma main-main terus, paling cuma 4 bulan terakhir belajar intensif dahsyat. Intinya, masuk UI itu bukan cuma ngandelin belajar dan doa tapi juga untung-untungan. Ini serius.
50% itu gue tulis karena gue pikir, gue udah diterima di Unair lewat jalur PMDK. Jadi yaa semacam "satu langkah di depan". Waktu ngirimin berkas-berkas itu, gue banyak tukar pikiran dengan guru BK SMA. Dia yang ngasih tau gue betapa kerennya Unair itu dan tetek bengek cara masuk Unair. Singkat cerita, berkas gue diterima. Saat itu gue sementara dapet jurusan Manajemen. Very fantastic! Manajemen Unair itu gak mudah kawan.
Tapi, perjuangan mendapatkan PTN di Indonesia tidak semudah mangap. Banyak rintangan. Nah salah satu rintangan itu adalah ternyata setelah PMDK, Unair masih mengadakan tes masuk sekali lagi. Jadi gak cuma PMDK terus ongkang-ongkong tinggal registrasi pendidikan. Celakanya, tesnya itu barengan SIMAK UI. Jadi, begini gampangnya.
Tes masuk Unair & Tes masuk UI.
Kedua tes masuk PTN tersebut bagaikan Madrid dan Barca, dua bebuyutan. Harus bijak milih satunya dan tega korbankan sisanya. Ini harus milih. Ini tidak mudah. Usia gue waktu itu masih 17 tahun. Belum dewasa untuk memutuskan di saat genting. Ini menyangkut masa depan. Inilah saat-saat yang bisa dibilang paling berat dalam hidup gue. Gak bisa berkata apa-apa. Ini rencanaNya. (Read 8 last sentence with taking a deep breath before!)
Banyak sekali pikiran gue yang bikin hidup terasa semakin bebel. Sulit. Unpredicted!
Di satu sisi, gue udah ngabisin duit ortu, waktu bermain futsal gue, waktu senang-senang bersama kawan-kawan dan waktu main PS tentunya demi les intensif SIMAK di BTA. Kira-kira lima bulanan demi SIMAK UI. Masa iya sih tiba-tiba lebih milih Unair, yang sebelumnya mimpi aja nggak?
Tapi, di lain sisi, gue akan jadi orang yang paling menyesal karena lebih memilih itu tadi. Kemungkinan 0,5%. Guru BK gue sampe bilang gini:
"potong kuping Ibu kalau kamu nggak menyesal karena gagal masuk UI. Unair itu bagus lho. .........."
banyak sekali ucapan pedesnya yang berusaha untuk menggagalkan niat gue masuk UI dan memilih "jalur aman" ke Unair. Ini semakin buat gue pengen ngebuktiin bahwa gue bisa. Gue pantes.
Sorry to say, gue lebih milih UI dibanding Unair. Gue masih nggak bisa bayangin hidup sendiri di kota pahlawan dan banyak alasan lainnya. Ini keputusan juga gue dapet nggak mudah. Banyak konsultasi ke temen dan ortu. Sampah bener nih saat-saat kayak gini. Bener-bener nyiksa. Sampe pernah gue mikir bakalan gak dapet keduanya. Gue bakalan masuk ke Univ. swasta dan guru BK gue bakal ngetawain. Ini adalah "bayangan" terburuk. REALLY BAD SCENARIO!
Singkat cerita, dapetlah gue UI. Meledak bagai bom Hiroshima senengnya. Keputusan mengambil kemungkinan yang gila berakhir manis.
Point yang mau gue sampein di ketikan gue kali ini adalah membuktikan bahwa apapun keadaannya, we must have to choice with our heart! Kita harus milih dengan hati. Gak selamanya otak bisa menentukan. Ada sedikit "spot" hati. Dan saat itu hati gue lebih ke UI. Gue melanggar logika otak. Bisa dibilang keajaiban lah.
"In the end, it doesn't even matter. Follow your passion. At least, you'll be enjoy."
Sekian. Salam Solider!
Komentar
Posting Komentar