"Kepot"
Kita
Penggemar bahkan pemuja aktivitas ya begitu
Tak risau belum mandi belum makan
Belum pula pukul delapan
Penggemar bahkan pemuja aktivitas ya begitu
Tak risau belum mandi belum makan
Belum pula pukul delapan
Pagi bermakna banyak
Jalan raya pun begitu
Penjara nyata arti berbeda
Kau dan aku sama, dipenjara
Yah apalah arti penjara
Jakarta terlanjur dilabel
Aku memang merasa geram
Ketika "kepot-kepotan" itu biasa
Maaf, ini bukan masalah waktu
Juga bukan tentang kepentingan
Debu itu kadang menyakitkan
Sama dengan kepotanmu, setan!
Percuma tunggangi roda empat
Juga sekolah hingga lumutan
Moral luntur di jalanan
Payah sekali kau, hah Bekantan!
Sebuah aksi yang menakjubkan di pagi hari yang menyemangatiku. Tak kuasa kutumpahkan disini sedikit ide yang sempat nangkring lama di otakku, yang terbiasa memikirkan si bundar. Kau pikir sendiri-lah bundar yang mana, bebas. Suatu saat, bundar yang kau tafsirkan itulah yang menggelitik untukku.
Ingin sekali teriak dari hati yang jujur. Juuuuannncuuuuukkkk!!!
Teriakan jujur dan tulus untuk ukuran orang sepertiku. Jangan menganggap kata yang indah dan tulus itu sebagai bentuk depresi, itu suatu bentuk kejujuran!
Manusia sesungguhnya lemah. Yang lemah kadang mencak-mencak. Ya mencak-mencak yang menunjukkan kelemahan.
Jujur sajalah pada nurani. Mana yang tulus dan tidak. Hidup yang tulus, tak peduli itu banyak mencak-mencak keluar. Asal tulus saja.
Aku manusia
Kali ini aku maafkan kelakuannya
Bahkan, tak tahu identitasnya
"Mungkin saja dia pengajarku"
Anggaplah orang itu adalah pengajarku, mustahil-kah untuk seorang "seleboran" sepertiku untuk mengumpat jujur tepat di depan wajahnya? Juara bertahan tinju pun belum tentu berani mengumpat pelatihnya. Belum kapasitasku.
"Mungkin saja dia saudaraku"
Dan andaikata, andaikata ya, rencana Tuhan siapa yang tahu, orang itu adalah saudaraku yang aku kagumi karena prestasinya, mungkin-kah bagiku, anak muda penikmat kehidupan, akan mengumpat dengan tulus? Walaupun kuyakin bentuk ketulusanku akan terdengar pahit olehnya, yang menjunjung tinggi nilai kesopanan dalam seluruh nafas yang diembuskannya, yang nafasnya pun wangi bagai apel impor, dan kerah bajunya pun tidak sembarang dibuat.
Aku mencoba jujur. Maaf.
"Mungkin saja dia teman sejawatku"
Memiliki mobil mewah sekencang dan secanggih mobil yang "kepot"ku pun tidak menutup kemungkinan tentang identitasnya bahwa dia adalah teman yang aku kenal dekat.
IDENTITASNYA ADALAH DIA! DIA YANG TELAH JELAS MENGEPOTKU!
Hanya itu yang kutahu saat ini dan kau tahu aku pun penuh emosi
Bantai!
Roda penghalang roda
Motorku bukan motor gagah
Bukan pula motor lincah
Tetapi motorku pun tidak mau kalah
Jangan karena rumah kau bisa gerah
Ini tentang rasa amarah
Amarah tidak penting di awal pagi yang cerah
Jalan raya pun begitu
Penjara nyata arti berbeda
Kau dan aku sama, dipenjara
Yah apalah arti penjara
Jakarta terlanjur dilabel
Aku memang merasa geram
Ketika "kepot-kepotan" itu biasa
Maaf, ini bukan masalah waktu
Juga bukan tentang kepentingan
Debu itu kadang menyakitkan
Sama dengan kepotanmu, setan!
Percuma tunggangi roda empat
Juga sekolah hingga lumutan
Moral luntur di jalanan
Payah sekali kau, hah Bekantan!
Sebuah aksi yang menakjubkan di pagi hari yang menyemangatiku. Tak kuasa kutumpahkan disini sedikit ide yang sempat nangkring lama di otakku, yang terbiasa memikirkan si bundar. Kau pikir sendiri-lah bundar yang mana, bebas. Suatu saat, bundar yang kau tafsirkan itulah yang menggelitik untukku.
Ingin sekali teriak dari hati yang jujur. Juuuuannncuuuuukkkk!!!
Teriakan jujur dan tulus untuk ukuran orang sepertiku. Jangan menganggap kata yang indah dan tulus itu sebagai bentuk depresi, itu suatu bentuk kejujuran!
Manusia sesungguhnya lemah. Yang lemah kadang mencak-mencak. Ya mencak-mencak yang menunjukkan kelemahan.
Jujur sajalah pada nurani. Mana yang tulus dan tidak. Hidup yang tulus, tak peduli itu banyak mencak-mencak keluar. Asal tulus saja.
Aku manusia
Kali ini aku maafkan kelakuannya
Bahkan, tak tahu identitasnya
"Mungkin saja dia pengajarku"
Anggaplah orang itu adalah pengajarku, mustahil-kah untuk seorang "seleboran" sepertiku untuk mengumpat jujur tepat di depan wajahnya? Juara bertahan tinju pun belum tentu berani mengumpat pelatihnya. Belum kapasitasku.
"Mungkin saja dia saudaraku"
Dan andaikata, andaikata ya, rencana Tuhan siapa yang tahu, orang itu adalah saudaraku yang aku kagumi karena prestasinya, mungkin-kah bagiku, anak muda penikmat kehidupan, akan mengumpat dengan tulus? Walaupun kuyakin bentuk ketulusanku akan terdengar pahit olehnya, yang menjunjung tinggi nilai kesopanan dalam seluruh nafas yang diembuskannya, yang nafasnya pun wangi bagai apel impor, dan kerah bajunya pun tidak sembarang dibuat.
Aku mencoba jujur. Maaf.
"Mungkin saja dia teman sejawatku"
Memiliki mobil mewah sekencang dan secanggih mobil yang "kepot"ku pun tidak menutup kemungkinan tentang identitasnya bahwa dia adalah teman yang aku kenal dekat.
IDENTITASNYA ADALAH DIA! DIA YANG TELAH JELAS MENGEPOTKU!
Hanya itu yang kutahu saat ini dan kau tahu aku pun penuh emosi
Bantai!
Roda penghalang roda
Motorku bukan motor gagah
Bukan pula motor lincah
Tetapi motorku pun tidak mau kalah
Jangan karena rumah kau bisa gerah
Ini tentang rasa amarah
Amarah tidak penting di awal pagi yang cerah
eh buset dah esmosi banget ini di kepot.hahhhaaa
BalasHapusFira: siapa yang gak emosi paginya yang cerah dirusak kepotan blangsak Fir?
BalasHapus