Motor
Tidak akan pernah bisa kuliah tanpa motor. Tidak akan pernah bisa makan tanpa motor. Tidak akan pernah bisa main tanpa motor. Tidak akan pernah bisa pergi tanpa motor.
Terdengar berlebihan? Memang. Kata "Tidak akan pernah" tidak tepat digunakan karena terlalu mengagungkan kehadiran si roda dua. Tetapi, sebagai bentuk terimakasih atas kesetiannya, saya menggunakan kata tersebut. Mungkin saja dengan memuji berlebihan seperti itu, motor saya semakin bergairah dan menikmati ditunggangi pemiliknya. Mungkin.
Motor mengantarkan dengan sederhana. Tanpa ada musik, tanpa ada pendingin, tanpa ada safety belt, tanpa ada senderan empuk. Motor menjadi dirinya sendiri. Motor yang efektif untuk kehidupan serba cepat seperti Jakarta. Motor tidak menghendaki banyak permintaan. Cukup Premium, buat saya, untuk menjalankannya. Ya tanpa mengabaikan servis berkala tentunya.
Sampai saat ini, motor masih menempati peringkat teratas kendaraan favorit saya. Kendaraan yang dapat mengantar dengan kecepatan 90 km/jam (walaupun bisa lebih dari itu, namun saya menghindarinya, dengan beberapa alasan). Kendaraan yang meliuk-liuk dan menari dengan indahnya di jalanan ibukota yang terjal dan banyak mobil gendut bertebaran. Kendaraan yang ramah. Kendaraan yang simpel. Tidak neko-neko. Walaupun tergantung penggunanya juga.
Aktivitas perkuliahan, senang-senang dan lainnya masih bergantung terhadap kehadiran motor. Ada beberapa yang setiap harinya menggunakan kereta atau bahkan mobil, namun dalam benak saya, kedua kendaraan tersebut tidak senikmat motor. Bagaimana tidak, di kereta desak-desakan. Di mobil macet-macetan. Mereka juga bisa membalas. Di motor, panas-panasan! Santai, panas tidak separah dan sebahaya desak-desakan. Panas cuma membuat kulit hitam paling, desak-desakan? Kecopetan, pelecehan seksual dan bau aroma iblis adalah sekian dari banyaknya kekurangan dari desak-desakan. Saya bukan menjelek-jelekkan per-keretaapi-an Indonesia, tapi memang itulah faktanya. Coba saja kalau tidak percaya.
Yang lucu adalah ketika terjadi kemacetan. Pengendara motor menyebut mobil-lah yang menyebabkan kemacetan. Begitu juga sebaliknya. Saling menyalahkan. Hal tersebut kadang membuat perilaku tidak segan-segan dari kedua pengendara berbeda bentuk tersebut untuk berlaku kejam. Jalanan Jakarta terlihat bagai perang antara motor dan mobil memperebutkan bagiannya menuju destinasi masing-masing. Saya mencoba netral terkadang, walaupun lebih banyak kesal terhadap mobil. Mobil sering ngebut dan ugal-ugalan serta tidak memberi ruang bagi motor. Motor yang berada di antara dua mobil terus dihimpit dan dijepit. Tidak ada ruang untuk bergerak. Kalau bergerak, berarti mencari masalah. Itu karena saya pengendara motor. Kalau nantinya saya pengendara mobil, mungkin tulisan ini tidak bermakna lagi. Mungkin.
Sekarang, saya mau berterima kasih atas jasa motor terhadap kehidupan saya. Terima kasih motor atas jasa-jasanya. Jasa yang tidak bisa saya tuliskan disini. Semoga tetap setia mengantarkan saya, dengan nyaman dan santai, kepada tujuan ya!
Sampai saat ini, motor masih menempati peringkat teratas kendaraan favorit saya. Kendaraan yang dapat mengantar dengan kecepatan 90 km/jam (walaupun bisa lebih dari itu, namun saya menghindarinya, dengan beberapa alasan). Kendaraan yang meliuk-liuk dan menari dengan indahnya di jalanan ibukota yang terjal dan banyak mobil gendut bertebaran. Kendaraan yang ramah. Kendaraan yang simpel. Tidak neko-neko. Walaupun tergantung penggunanya juga.
Aktivitas perkuliahan, senang-senang dan lainnya masih bergantung terhadap kehadiran motor. Ada beberapa yang setiap harinya menggunakan kereta atau bahkan mobil, namun dalam benak saya, kedua kendaraan tersebut tidak senikmat motor. Bagaimana tidak, di kereta desak-desakan. Di mobil macet-macetan. Mereka juga bisa membalas. Di motor, panas-panasan! Santai, panas tidak separah dan sebahaya desak-desakan. Panas cuma membuat kulit hitam paling, desak-desakan? Kecopetan, pelecehan seksual dan bau aroma iblis adalah sekian dari banyaknya kekurangan dari desak-desakan. Saya bukan menjelek-jelekkan per-keretaapi-an Indonesia, tapi memang itulah faktanya. Coba saja kalau tidak percaya.
Yang lucu adalah ketika terjadi kemacetan. Pengendara motor menyebut mobil-lah yang menyebabkan kemacetan. Begitu juga sebaliknya. Saling menyalahkan. Hal tersebut kadang membuat perilaku tidak segan-segan dari kedua pengendara berbeda bentuk tersebut untuk berlaku kejam. Jalanan Jakarta terlihat bagai perang antara motor dan mobil memperebutkan bagiannya menuju destinasi masing-masing. Saya mencoba netral terkadang, walaupun lebih banyak kesal terhadap mobil. Mobil sering ngebut dan ugal-ugalan serta tidak memberi ruang bagi motor. Motor yang berada di antara dua mobil terus dihimpit dan dijepit. Tidak ada ruang untuk bergerak. Kalau bergerak, berarti mencari masalah. Itu karena saya pengendara motor. Kalau nantinya saya pengendara mobil, mungkin tulisan ini tidak bermakna lagi. Mungkin.
Sekarang, saya mau berterima kasih atas jasa motor terhadap kehidupan saya. Terima kasih motor atas jasa-jasanya. Jasa yang tidak bisa saya tuliskan disini. Semoga tetap setia mengantarkan saya, dengan nyaman dan santai, kepada tujuan ya!
Komentar
Posting Komentar