Nobar
Final Liga Champions 2011 mempertemukan dua klub yang berbeda karakter dan filosofi sepakbola. Manchester United dan Barcelona. MU dengan disiplinnya berhasil mencapai final ketiganya empat tahun terakhir. Dan Barca berhasil mengandaskan perjuangan klub lain, termasuk Real Madrid, klub favorit saya. Saya tidak ingin membicarakan kontroversi Madrid-Barca, biarlah itu menjadi urusan media.
Final kali ini amat menyedot perhatian para penggila bola. Entah penggila bola karbitan atau sungguhan. Entah glory hunter atau pendukung yang benar-benar setia dan di darahnya mengalir warna klub tersebut. Penggila bola beramai-ramai berkumpul untuk menonton final bersama-sama. Perayaan kejuaraan pun akan semakin meriah dengan menonton bersama.
Kali ini saya Nobar, singkatan dari Nonton Bareng (mungkin ada yang belum tahu), di Hanggar Pancoran. Disini, mayoritas pendukung adalah Barcelonistas. Sebagian pecinta Barcelona di Jakarta dan sekitarnya merayakan dua tahunnya IndoBarca. Barcelonista semakin menjadi-jadi setelah pertandingan selesai dan Barca juara.
Saya seorang supporter Madrid. Saya Madridista yang sejatinya adalah bebuyutan Barcelona. Tetapi saya berada di tengah-tengah mereka, dan saya melihat bagaimana Barca bagi mereka itu sama halnya Madrid bagi saya. Klub sepakbola yang didukung mati-matian. Sumpah serapah sering terjadi apabila terjadi hal-hal yang tidak mengenakkan. Klub Sepakbola yang seakan menjadi "agama" kedua kehidupan.
"Agama" bernama Barcelona telah sukses membius mereka untuk terlibat dalam aktivitas mendukung dan merayakan kemenangan. "Agama" Barcelona, yang memiliki "praktek-praktek keagamaan"nya sendiri, adalah simbol bagi mereka. "Praktek-praktek keagamaan" dan simbol mereka yang tentunya berbeda dengan klub lain. Berbeda dengan Madrid, MU, atau Inter. Sepanjang pertandingan berjalan, Barcelonista terus menyanyikan chants penyemangat. Saya seperti berada di Wembley saat itu. Bahkan, suara komentator dan supporter sungguhan di Wembley tidak terdengar. Yang terdengar hanyalah seruan-seruan penyemangat Barca. Saya benar-benar berada dalam situasi yang unik.
Suatu pengalaman yang baru kali ini. Pengalaman Nobar dengan mereka yang memiliki pandangan yang berbeda. Mereka Barca, saya Madrid. Mereka Messi, saya Ronaldo. Dan banyak lagi perbedaan pandangan yang menyerempet ke ujung kontroversi. Melihat mereka bersukacita adalah hal yang baru bagi saya. Kepuasan batin setelah 85 menit pertandingan berjalan (saat itu, menit ke 85 rata-rata Barcelonista sudah menyanyikan "Champione, Champione, ole ole ole). Padahal, tersisa lima menit dan sedikit tambahan waktu. Optimisme terlanjur membumbung tinggi mengingat penguasaan Barca yang baik dan serangan MU kurang gencar. Selain itu, hal yang membuat saya bingung adalah ketika Messi disorot kamera TV, suara-suara yang menunjukkan sinyal mendukung terdengar lebih keras. Messi adalah pahlawan mereka yang sangat mereka cintai. Mereka butuhkan. Tidaklah berlebihan kalau begitu. Ketika Messi di-zoom kamera lantas suara gaduh, Nobar menjadi tempat akumulasi suara-suara "pemuja" Messiah.
Pengalaman Nobar yang menghasilkan cerita tersendiri bagi saya seorang Madridista untuk bisa menonton bareng bersama mereka. Mereka yang kemarin merusak dan memberhentikan langkah kami menjadi juara. Mereka yang melecehkan kami dengan "salam lima jari". Juga mereka yang menikmati permainan Barca, yang semestinya dinikmati seluruh penggila bola. Saya menjadi seorang Intel dadakan, yang memperhatikan bagaimana komunitas, atau mungkin lebih disebut keluarga IndoBarca, menyanyi dan merayakan kemenangan mereka dengan ledakan emosi yang tulus, jujur dan membara. Intel, yang harus menahan emosi dengan beberapa kali ledekan. Intel yang melihat klub bebuyutan merayakan langsung kemenangannya. Intel, yang mencoba untuk mengetahui "praktek-praktek agama" lain.
Selamat, Barcelonista serta IndoBarca. Nobar sukses dan kalian bahagia. Terimakasih mengijinkan saya menonton bareng bersama kalian. Sungguh merupakan pengalaman baru. Selamat atas gelar keempat Liga Champions, Barca! Kalian berhak mengucapkan "Visca Barca!" sekencang-kencangnya, Barcelonistas.
Final kali ini amat menyedot perhatian para penggila bola. Entah penggila bola karbitan atau sungguhan. Entah glory hunter atau pendukung yang benar-benar setia dan di darahnya mengalir warna klub tersebut. Penggila bola beramai-ramai berkumpul untuk menonton final bersama-sama. Perayaan kejuaraan pun akan semakin meriah dengan menonton bersama.
Kali ini saya Nobar, singkatan dari Nonton Bareng (mungkin ada yang belum tahu), di Hanggar Pancoran. Disini, mayoritas pendukung adalah Barcelonistas. Sebagian pecinta Barcelona di Jakarta dan sekitarnya merayakan dua tahunnya IndoBarca. Barcelonista semakin menjadi-jadi setelah pertandingan selesai dan Barca juara.
Saya seorang supporter Madrid. Saya Madridista yang sejatinya adalah bebuyutan Barcelona. Tetapi saya berada di tengah-tengah mereka, dan saya melihat bagaimana Barca bagi mereka itu sama halnya Madrid bagi saya. Klub sepakbola yang didukung mati-matian. Sumpah serapah sering terjadi apabila terjadi hal-hal yang tidak mengenakkan. Klub Sepakbola yang seakan menjadi "agama" kedua kehidupan.
"Agama" bernama Barcelona telah sukses membius mereka untuk terlibat dalam aktivitas mendukung dan merayakan kemenangan. "Agama" Barcelona, yang memiliki "praktek-praktek keagamaan"nya sendiri, adalah simbol bagi mereka. "Praktek-praktek keagamaan" dan simbol mereka yang tentunya berbeda dengan klub lain. Berbeda dengan Madrid, MU, atau Inter. Sepanjang pertandingan berjalan, Barcelonista terus menyanyikan chants penyemangat. Saya seperti berada di Wembley saat itu. Bahkan, suara komentator dan supporter sungguhan di Wembley tidak terdengar. Yang terdengar hanyalah seruan-seruan penyemangat Barca. Saya benar-benar berada dalam situasi yang unik.
Suatu pengalaman yang baru kali ini. Pengalaman Nobar dengan mereka yang memiliki pandangan yang berbeda. Mereka Barca, saya Madrid. Mereka Messi, saya Ronaldo. Dan banyak lagi perbedaan pandangan yang menyerempet ke ujung kontroversi. Melihat mereka bersukacita adalah hal yang baru bagi saya. Kepuasan batin setelah 85 menit pertandingan berjalan (saat itu, menit ke 85 rata-rata Barcelonista sudah menyanyikan "Champione, Champione, ole ole ole). Padahal, tersisa lima menit dan sedikit tambahan waktu. Optimisme terlanjur membumbung tinggi mengingat penguasaan Barca yang baik dan serangan MU kurang gencar. Selain itu, hal yang membuat saya bingung adalah ketika Messi disorot kamera TV, suara-suara yang menunjukkan sinyal mendukung terdengar lebih keras. Messi adalah pahlawan mereka yang sangat mereka cintai. Mereka butuhkan. Tidaklah berlebihan kalau begitu. Ketika Messi di-zoom kamera lantas suara gaduh, Nobar menjadi tempat akumulasi suara-suara "pemuja" Messiah.
Pengalaman Nobar yang menghasilkan cerita tersendiri bagi saya seorang Madridista untuk bisa menonton bareng bersama mereka. Mereka yang kemarin merusak dan memberhentikan langkah kami menjadi juara. Mereka yang melecehkan kami dengan "salam lima jari". Juga mereka yang menikmati permainan Barca, yang semestinya dinikmati seluruh penggila bola. Saya menjadi seorang Intel dadakan, yang memperhatikan bagaimana komunitas, atau mungkin lebih disebut keluarga IndoBarca, menyanyi dan merayakan kemenangan mereka dengan ledakan emosi yang tulus, jujur dan membara. Intel, yang harus menahan emosi dengan beberapa kali ledekan. Intel yang melihat klub bebuyutan merayakan langsung kemenangannya. Intel, yang mencoba untuk mengetahui "praktek-praktek agama" lain.
Selamat, Barcelonista serta IndoBarca. Nobar sukses dan kalian bahagia. Terimakasih mengijinkan saya menonton bareng bersama kalian. Sungguh merupakan pengalaman baru. Selamat atas gelar keempat Liga Champions, Barca! Kalian berhak mengucapkan "Visca Barca!" sekencang-kencangnya, Barcelonistas.
Komentar
Posting Komentar