Potong

Memiliki rambut gondrong merupakan impian saya sejak lulus SMA. Benci dengan kelakuan para guru SMA yang terus memotong rambut siswanya. Memotong rambut yang pada dasarnya tidak berpengaruh terhadap prestasi belajar. Rambut yang gondrong, dalam hal ini menghalangi pandangan, dianggap pihak sekolah akan mengganggu konsentrasi belajar. Padahal, banyak siswa berprestasi dengan rambutnya yang dibiarkan tumbuh alami.

Lulus SMA merupakan momentum untuk menunjukkan jati diri sesungguhnya. Jati diri yang dikekang oleh peraturan sekolah dahulu. Setahun lebih menumbuhkan rambut hingga rambut tidak terurus pada akhirnya. Rambut gondrong yang merupakan impian berhasil digapai dengan banyak peluh. Gondrong merupakan simbol kebebasan yang paling terlihat secara fisik. Kebebasan berfikir, kebebasan hidup dan kebebasan untuk melakukan apa saja. Menjadi gondrong juga merupakan suatu kebanggaan karena masih bisa. Di luar sana berapa banyak yang rambutnya tidak bisa gondrong karena beberapa alasan.

Motivasi menjadi gondrong terutama setelah melihat setelan band-band heavy rock 80's. Jimmy Page dan Ian Gillan merupakan dua aktor panggung yang sangat keren dengan rambut gondrongnya. Gondrong yang menandakan kehidupan rock n roll mereka. Menjadi gondrong terlihat sangat keren dan berbeda. Juga nyeni.

Setelah menjalani aktivitas kampus dan bolak-balik Jakarta-Depok, mulai terasa badan cepat letih dan lunglai. Sampai rumah ingin bertemu gitar/guling, tidak ingin bertemu teks-teks ribet nan njelimet. Beberapa saat coba untuk menahan, namun akhirnya tidak bisa. Membohongi diri sendiri demi menampilkan kesan apa yang diinginkan untuk orang lain cukup menyiksa. Potong adalah jalan keluarnya setelah cukup letih dengan ikat-mengikat rambut.

Beberapa faktor, di antaranya:
1. Agama: Islam dengan aktivitas Shalat 5 waktunya membuat gondrong tidak fleksibel. Saat Sujud selalu saja risau dengan rambut yang menutupi jidat.

2. Lingkungan: Jakarta belakangan ini tidak kondusif. Berangkat-Pulang Jakarta-Depok tiap hari menggunakan roda dua dan disertai gondrong, membuat badan selalu mengeluh kegerahan. Kasihan tubuh.

3. Kenyamanan: Gondrong berarti tidak nyaman dalam bermain futsal. Poni yang panjang selalu berhasil menghalangi pandangan. Diperlukan alat bantu seperti karet dan bandana. Ribet dan tidak efisien.

4. Perasaan: Selalu ada perasaan yang mengatakan bahwa diri ini belum, bahkan tidak cocok untuk memiliki rambut gondrong.


Setelah mengetahui bentuk muka dan bagaimana tanggapan teman tentang gondrong, cukup kiranya untuk mengakhiri siksaan-siksaan ini. Bagaimana kalau gondrong ini dibuang ke tempat yang semestinya? Lagipula kelihatannya tidak relevan dengan kehidupan saat ini. Bumi semakin panas.


Selalu ada kata salut buat mereka yang gondrong. Mereka semua, cowo gondrong, adalah cowo-cowo keren. Cowo yang tidak mau diatur oleh mode. Cowo yang menentukan sendiri gayanya. Salut buat kalian! Saya tidak kuat.


Mungkin, dengan seperti ini kehidupan membaik. Yang dicari dari kehidupan kan kenyamanan dan ketenangan. Kalau bisa nyaman, kenapa memilih risau? Kalau bisa tenang, kenapa memilih gaduh?


Gondrong yang tidak lagi gondrong karena kehadiran dan campur tangan potong. So Long, Gondrong!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang