UAS

UAS adalah saat dimana kesibukan bertemu dengan teks-teks penuh konsep. UAS saat dimana belajar secara intensif. UAS saat dimana menemukan kenikmatan belajar. UAS, terutama, mengisi pertanyaan sebaik mungkin (bukan sepanjang mungkin). UAS juga membuat panik.

Memang apa pentingnya UAS? Bagaimana ia menjadi momok menakutkan? Bukankah untuk lulus manusia memang harus melewati tahap pengujian?

Jangan bertanya pentingnya UAS. Mengenai momok yang menakutkan, bagaimana tidak. UAS menyangkut nilai akhir suatu mata pelajaran. Nilai yang memberi sokongan terhadap IP, Indeks Prestasi yang harus tinggi, idealnya.

Betapa puasnya perasaan begitu UAS telah berakhir. Seperti memecahkan sebintil bisul bernama Essay dan tekanan kecurangan bernama nyontek. Kebiasaan menyontek, walaupun sudah berusaha dikurangi, masih sering terjadi. Terutama saat UAS. Saat dimana nilai mata kuliah sangat ditentukan. Mau A, B, atau C?

Perasaan tertekan saat hari-hari UAS seharusnya tidak ada. Memang sepanjang menjadi mahasiswa dan pelajar sepatutnya untuk terus menjalani pengujian. UAS jangan dijadikan suatu alasan untuk belajar lebih giat. Alasan belajar, idealnya, berangkat dari kemauan/kesadaran diri sendiri. Sayangnya, sulit sekali menemukan kesadaran belajar dari diri sendiri. Saya akui itu.

Sekarang, UAS telah berakhir. Tidak ada eforia. Tidak ada perayaan. Cuma ada perasaan harap, agar terus meningkat dalam semangat belajar. Ya kalau bisa, juga harapan untuk meningkatkan IP. Munafik adalah penyakit, kawan.

Dengan berakhirnya masa UAS, maka datanglah masa liburan. Saat hari libur, UAS tidak lagi berarti Ujian Akhir Semester, tetapi berubah menjadi Uh Aku Senang, Untaian Acara Slow, atau Untuk Anak Santai. Apalah, yang penting UAS telah selesai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang