Balapan
Mengendarai mobil dengan kecepatan tidak biasa merupakan kesenangan batin bagi mereka kaum pecinta drag race. Tak peduli nyawa, adrenalin naik turun adalah bentuk kepuasan. Ngebut sampai 200km/h adalah hal biasa. Lebih dari itu juga sering. Mobil mendukung, mental mendukung, apa lagi? Balapan.
Saya tidak tahu dimana letak kepuasan itu karena memang tidak pernah melakukannya. Atau saya terlalu penakut. Atau saya sayang nyawa saya yang cuma satu. Atau saya tidak punya waktu untuk melakukannya. Yang jelas, sejauh ini saya belum merasakan kenikmatan balapan. Kenikmatan yang dilakukan pada tengah malam saat sebagian jalanan Jakarta sepi-sepinya.
Tontonan gratis di tengah kota tersebut adalah bentuk bagaimana Jakarta di satu sisi sangatlah "wah" kehidupannya. Balapan menghabiskan bensin, butuh perawatan mesin, dan banyak keperluan untuk menunjang balapan tersebut. Bukan orang-orang sembarangan yang berani balapan. Butuh duit juga mental yang tidak biasa. Balapan untuk kaum-kaum disana yang berbeda. Di sisi lain, tidak jauh dari tempat balapan tersebut, mereka, yang tidur di bawah halte dengan pakaian cukup menyedihkan, menikmati angin malam hasil tiupan knalpot bercampur aroma rokok. Kenikmatan balapan mereka tidak pedulikan. Mereka malah tidur dengan santainya, dan mungkin menikmatinya. Bagaimana mungkin hal ini terjadi?
"Sama sekali nggak adil!"
"Kok bisa ya?"
"Terus kenapa?"
"Ngga tau lagi deh"
Yang pasti (belum pasti juga tepatnya), saya tidak menyukai balapan. Apapun jenis balapan itu. Saya pasti akan mengalami ketakutan luar biasa. Entah karena terlalu sayang nyawa atau saya tidak mau mati konyol. Mati hanya karena balapan. Saya tidak memojokkan balapan, saya menikmatinya. Tetapi menikmati dengan cukup menonton. Menyaksikan mobil-mobil mahal melintas. Ini kan nikmat dipandang mata ketimbang melihat bus kota yang buluk-buluk, knalpotnya busuk. Semoga kalian yang menikmati balapan akan selalu menikmati balapan.
Saya tidak tahu standar kebenaran. Dan kebenaran pun relatif. Bagi mereka, balap membalap benar dengan masing-masing alasan. Bagi saya, balap membalap salah karena membahayakan nyawa. Bagi orang lain pun jawaban akan beragam. Dan saya pun salah karena mempersoalkan benar salah pada salah satu agenda paling menyenangkan kota Jakarta.
Nikmat ya, kalau bisa balapan. Nikmat juga bermental kuat. Nikmat juga bermain-main dengan kematian. Atau bukan nikmat? Nikmat.
Komentar
Posting Komentar